Conor McGregor, “The Notorious” Yang Mengubah Wajah UFC

Piter Rudai 06/07/2026 4 min read
Conor McGregor, “The Notorious” Yang Mengubah Wajah UFC

Jakarta – Dalam sejarah mixed martial arts modern, hanya sedikit petarung yang mampu mengubah arah industri seperti Conor McGregor. Bukan hanya karena prestasinya di dalam oktagon, tetapi juga karena karisma, keberanian berbicara, dan kemampuan menjadikan setiap pertarungan sebagai tontonan global. Lahir di Dublin, Irlandia, pada 14 Juli 1988, McGregor tumbuh menjadi ikon olahraga yang melampaui batas MMA. Dengan tinggi 175 sentimeter, bertarung di kelas welterweight, serta mengusung gaya striker southpaw yang eksplosif, ia membangun rekor profesional 22 kemenangan dan 6 kekalahan. Julukan “The Notorious” menjadi simbol dari kepercayaan diri, ambisi besar, dan mentalitas pantang mundur yang melekat sepanjang kariernya.

Masa kecil McGregor jauh dari kemewahan. Ia dibesarkan di kawasan Crumlin, Dublin, dalam keluarga sederhana yang mengajarkannya arti kerja keras. Sejak kecil ia menggemari berbagai olahraga, terutama sepak bola. Namun kehidupannya mulai berubah ketika mengenal dunia tinju pada usia sekitar 12 tahun. Latihan tinju bukan hanya mengajarkannya teknik bertarung, tetapi juga membentuk disiplin, keberanian, dan rasa percaya diri yang kemudian menjadi fondasi perjalanan kariernya.

Saat remaja, McGregor sempat bekerja sebagai tukang ledeng sambil mengejar mimpi menjadi atlet profesional. Kehidupan saat itu tidak mudah. Ia harus membagi waktu antara bekerja dan berlatih. Meski menghadapi keterbatasan ekonomi, tekadnya tidak pernah goyah. Ia kemudian bergabung dengan Straight Blast Gym (SBG) Ireland di bawah bimbingan pelatih John Kavanagh. Di sanalah kemampuan striking-nya dipadukan dengan wrestling dan Brazilian Jiu-Jitsu hingga berkembang menjadi petarung MMA yang komplet.

Karier profesionalnya dimulai pada 2008 di berbagai organisasi regional Eropa. Berkat kombinasi pukulan akurat, tendangan cepat, dan kemampuan membaca pergerakan lawan, McGregor dengan cepat menarik perhatian. Ia berhasil menjadi juara di Cage Warriors pada dua divisi berbeda, featherweight dan lightweight, sebuah pencapaian yang membuat namanya semakin diperhitungkan.

Kesuksesan tersebut membuka jalan menuju Ultimate Fighting Championship (UFC) pada tahun 2013. Debutnya berlangsung melawan Marcus Brimage di UFC on Fuel TV 9. Dalam laga itu, McGregor langsung menunjukkan kualitasnya dengan kemenangan TKO pada ronde pertama. Penampilan impresif tersebut membuat banyak penggemar langsung melihat potensi besar yang dimilikinya.

Sejak saat itu, karier McGregor melesat sangat cepat. Ia mengalahkan sejumlah petarung papan atas seperti Max Holloway, Dustin Poirier, Diego Brandao, Dennis Siver, hingga Chad Mendes. Puncaknya terjadi pada UFC 194 ketika ia menghadapi juara featherweight Jose Aldo. Dalam salah satu knockout paling ikonik sepanjang sejarah UFC, McGregor hanya membutuhkan 13 detik untuk menjatuhkan Aldo dan merebut gelar juara dunia featherweight.

Prestasi tersebut belum memuaskannya. Pada 2016, McGregor kembali mencetak sejarah dengan mengalahkan Eddie Alvarez dan menjadi petarung pertama yang memegang dua sabuk UFC secara bersamaan di kelas featherweight dan lightweight. Pencapaian itu mengukuhkan posisinya sebagai salah satu atlet paling berpengaruh dalam sejarah organisasi tersebut.

Namun perjalanan kariernya tidak selalu mulus. Kekalahan dari Nate Diaz pada 2016 menjadi salah satu momen paling penting dalam hidupnya. Alih-alih terpuruk, McGregor membalas kekalahan tersebut beberapa bulan kemudian melalui kemenangan angka dalam pertarungan ulang yang berlangsung sangat sengit. Mentalitas bangkit setelah kegagalan menjadi salah satu ciri khas yang membuatnya dihormati, bahkan oleh para rivalnya.

Di luar UFC, McGregor juga menciptakan sejarah dengan menghadapi legenda tinju Floyd Mayweather Jr. pada 2017. Meski kalah melalui TKO, pertarungan itu menjadi salah satu ajang olahraga dengan pendapatan terbesar sepanjang masa dan semakin mengukuhkan statusnya sebagai superstar global.

Sekembalinya ke UFC, McGregor menghadapi berbagai tantangan. Ia kalah dari Khabib Nurmagomedov dalam duel perebutan gelar lightweight yang penuh tensi. Setelah itu, rivalitas trilogi melawan Dustin Poirier menghasilkan kemenangan dan kekalahan, termasuk cedera patah kaki serius pada pertarungan ketiga tahun 2021. Cedera tersebut membuatnya harus menjalani masa pemulihan yang panjang dan memaksanya absen dari kompetisi selama hampir lima tahun.

Kini, setelah melalui proses rehabilitasi yang berat, McGregor dijadwalkan kembali ke oktagon pada UFC 329 tanggal 11 Juli 2026 menghadapi rival lamanya, Max Holloway, dalam laga kelas welterweight. Pertarungan ini menjadi comeback resminya setelah absen lima tahun dan menjadi salah satu duel paling dinantikan oleh penggemar MMA di seluruh dunia.

Gaya bertarung McGregor selalu menjadi daya tarik utama. Sebagai petarung southpaw, ia memiliki tangan kiri yang sangat eksplosif dan akurat. Banyak lawan tumbang akibat timing sempurna dari pukulan kirinya. Selain itu, ia memiliki footwork yang dinamis, kontrol jarak yang sangat baik, serta kemampuan membaca ritme pertandingan beberapa langkah lebih cepat dibandingkan lawannya. Ia sering memancing lawan melakukan kesalahan sebelum melancarkan serangan penentu.

Meski dikenal sebagai striker, McGregor terus mengembangkan aspek grappling sepanjang kariernya. Ia memahami bahwa MMA modern menuntut keseimbangan antara striking dan permainan bawah. Karena itu, latihan wrestling, Brazilian Jiu-Jitsu, serta pertahanan takedown menjadi bagian penting dalam persiapannya setiap menghadapi lawan dengan gaya berbeda.

Filosofi bertarung McGregor berakar pada keyakinan bahwa kepercayaan diri harus dibangun melalui kerja keras. Ia kerap mengatakan bahwa visualisasi merupakan bagian penting dari persiapannya. Sebelum memasuki pertarungan, ia membayangkan setiap skenario yang mungkin terjadi sehingga ketika berada di dalam oktagon, ia dapat bereaksi secara alami. Mentalitas inilah yang membuatnya tetap percaya diri bahkan saat menghadapi lawan-lawan terbaik dunia.

Rutinitas latihannya mencakup sesi striking, sparring, latihan kekuatan, mobilitas, kardio, hingga pemulihan fisik yang terukur. Setelah cedera patah kaki, fokusnya juga bertambah pada rehabilitasi, keseimbangan tubuh, dan pencegahan cedera agar mampu kembali bertanding di level tertinggi.

Perjalanan Conor McGregor adalah kisah tentang mimpi besar, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan bangkit dari berbagai rintangan. Dengan rekor 22 kemenangan dan 6 kekalahan, status sebagai mantan juara dua divisi UFC, serta pengaruh luar biasa terhadap popularitas MMA di seluruh dunia, “The Notorious” telah mengukir namanya sebagai salah satu ikon terbesar dalam sejarah olahraga tarung. Kini, kembalinya ia ke UFC 329 menjadi babak baru yang akan menentukan apakah sang legenda masih mampu bersaing di puncak atau sekadar menutup kariernya dengan satu pertunjukan terakhir yang layak dikenang.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...