Max Holloway: Legenda Divisi Featherweight UFC

Piter Rudai 06/07/2026 3 min read
Max Holloway: Legenda Divisi Featherweight UFC

Jakarta – Menjelang rangkaian pertandingan UFC 329 yang akan digelar pada 11 Juli 2026, perhatian penggemar MMA dunia kembali tertuju kepada salah satu petarung paling ikonik dalam sejarah divisi featherweight, Max Holloway. Kulit Bundar akan menyajikan profil para petarung yang tampil dalam ajang tersebut agar pembaca dapat mengenal lebih dekat perjalanan karier, gaya bertarung, hingga prestasi mereka sebelum memasuki oktagon.

Max Holloway, atau memiliki nama lengkap Jerome Max Keliʻi Holloway, merupakan petarung Mixed Martial Arts (MMA) asal Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat, yang lahir pada 4 Desember 1991. Ia dikenal luas dengan julukan “Blessed”, sebuah nama yang mencerminkan rasa syukur sekaligus perjalanan panjangnya menuju puncak UFC.

Saat ini Holloway masih berkompetisi di divisi Featherweight UFC dan tetap menjadi salah satu petarung elite di kelas tersebut. Ia juga dikenal sebagai mantan Juara Dunia Featherweight UFC yang pernah mempertahankan gelarnya sebanyak tiga kali secara beruntun.

Holloway memulai karier profesional MMA pada 2010 sebelum bergabung dengan UFC pada 2012 ketika usianya baru 20 tahun. Hingga pertengahan 2026, ia telah membukukan rekor profesional 27 kemenangan dan 9 kekalahan. Sepanjang kariernya, Holloway dikenal sebagai striker volume tinggi yang mengandalkan kombinasi pukulan cepat, akurasi luar biasa, dan stamina yang nyaris tak habis selama lima ronde.

Meski memiliki dasar Muay Thai, Holloway terus mengembangkan kemampuan grappling dan kini menyandang sabuk hitam Brazilian Jiu-Jitsu di bawah Rylan Lizares. Walaupun lebih sering memenangkan pertandingan melalui striking, ia tetap memiliki kemampuan submission yang baik ketika pertarungan berlanjut ke bawah. Salah satu teknik favoritnya adalah armbar, meski kemenangan melalui submission relatif jarang ia raih dibandingkan kemenangan lewat knockout maupun keputusan juri.

Sepanjang kariernya di UFC, Holloway mencatatkan berbagai prestasi bergengsi. Ia menjadi Juara Featherweight UFC setelah mengalahkan José Aldo pada 2017, kemudian berhasil mempertahankan sabuk tersebut tiga kali melawan Aldo dalam laga ulang, Brian Ortega, dan Frankie Edgar. Selain itu, ia juga pernah menyandang gelar Juara Interim Featherweight UFC.

Prestasi individu Holloway juga sangat mengesankan. Ia telah meraih berbagai bonus Fight of the Night dan Performance of the Night, serta beberapa kali dinobatkan sebagai petarung terbaik tahun ini oleh berbagai media MMA internasional. Hingga kini, ia masih memegang sejumlah rekor UFC, termasuk jumlah pukulan signifikan terbanyak dalam sejarah organisasi, sebuah bukti konsistensinya sebagai salah satu striker terbaik sepanjang masa.

Beberapa pertandingan terbaik dalam karier Holloway di antaranya adalah kemenangan atas José Aldo, Brian Ortega, Calvin Kattar, Arnold Allen, serta duel klasik melawan Dustin Poirier dan trilogi menghadapi Alexander Volkanovski. Penampilannya saat mengalahkan Calvin Kattar pada UFC Fight Island 7 bahkan dianggap sebagai salah satu demonstrasi striking terbaik dalam sejarah UFC karena ia mampu mendominasi lawannya selama lima ronde penuh sambil memecahkan rekor jumlah pukulan signifikan.

Setelah sempat mengalami kekalahan beruntun dari Alexander Volkanovski dalam perebutan gelar featherweight, Holloway berhasil bangkit dengan mengalahkan Arnold Allen dan kemudian mencetak salah satu kemenangan paling spektakuler dalam kariernya ketika menaklukkan Justin Gaethje di UFC 300 untuk merebut sabuk simbolis BMF (Baddest Motherf*er)** melalui knockout dramatis pada detik-detik terakhir ronde kelima. Kemenangan tersebut langsung masuk dalam daftar knockout terbaik sepanjang sejarah UFC.

Memasuki tahun 2026, Holloway kembali menjadi sorotan dunia MMA. Ia dijadwalkan menghadapi Conor McGregor pada ajang UFC 329 dalam pertandingan yang menjadi salah satu laga paling dinantikan tahun ini. Duel tersebut juga menjadi pertemuan kedua mereka setelah pertama kali bertarung pada 2013, ketika keduanya masih berada di awal perjalanan karier UFC.

Di usia 34 tahun, Max Holloway tetap menjadi salah satu ikon terbesar UFC. Dengan pengalaman menghadapi hampir seluruh petarung elite di divisi featherweight dan lightweight, kemampuan striking kelas dunia, mental juara, serta daya tahan yang luar biasa, “Blessed” terus membuktikan bahwa dirinya masih mampu bersaing di level tertinggi dan menambah warisan sebagai salah satu petarung terbaik dalam sejarah MMA.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...