Jakarta – Bagi generasi yang tumbuh di era akhir 1990-an dan awal 2000-an, sepak bola Asia sering kali dipandang sebelah mata oleh publik Eropa. Pemain-pemain dari benua kuning dianggap kurang memiliki kekuatan fisik, visi bermain yang taktis, atau daya tarik komersial yang cukup kuat untuk bersaing di liga-liga top Eropa. Namun, persepsi tersebut runtuh ketika seorang pemuda dengan gaya rambut trendi, ketenangan luar biasa di lapangan, dan visi bermain jenius muncul dari Negeri Sakura. Pria itu adalah Hidetoshi Nakata, seorang ikon budaya, pionir sepak bola modern Asia, dan salah satu gelandang paling karismatik yang pernah menghiasi lapangan hijau.
Kelahiran dan Masa Kecil: Awal Mula Sang Jenderal Lapangan Tengah
Hidetoshi Nakata lahir pada tanggal 22 Januari 1977 di Kofu, sebuah kota yang dikelilingi oleh pegunungan di Prefektur Yamanashi, Jepang. Tumbuh di era ketika bisbol masih menjadi olahraga paling populer di Jepang, Nakata justru jatuh cinta pada sepak bola. Ketertarikannya pada olahraga ini bermula sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Bakat alaminya segera terlihat; ia memiliki kontrol bola yang berada di atas rata-rata anak seusianya, serta pemahaman posisi yang sangat matang.
Pada masa remajanya, reputasinya sebagai “anak ajaib” mulai menyebar ke seantero negeri. Kemampuannya mendikte permainan, melepaskan umpan terobosan yang mematikan, dan mencetak gol dari lini kedua membuatnya dipanggil ke tim nasional Jepang untuk berbagai kelompok umur, mulai dari bawah 15 tahun hingga bawah 17 tahun. Publik Jepang segera menyadari bahwa mereka sedang menyaksikan lahirnya seorang talenta langka yang akan membawa sepak bola mereka ke tingkat yang belum pernah dicapai sebelumnya.
Langkah Pertama di J-League: Bersama Bellmare Hiratsuka
Setelah lulus dari sekolah menengah pada tahun 1995, Nakata memutuskan untuk memulai karier profesionalnya. Banyak klub J-League yang mengantre untuk mendapatkan tanda tangannya, namun ia memilih bergabung dengan Bellmare Hiratsuka (sekarang dikenal sebagai Shonan Bellmare). Keputusan ini terbukti sangat tepat karena di klub inilah Nakata langsung mendapatkan menit bermain reguler di tim utama.
Sebagai gelandang serang atau playmaker, Nakata langsung menggebrak J-League. Gaya bermainnya yang elegan namun efisien, dikombinasikan dengan kekuatan fisik yang kokoh—sesuatu yang jarang dimiliki pemain Jepang saat itu—membuatnya terpilih masuk ke dalam J-League Best XI. Puncaknya terjadi pada tahun 1997, di mana ia dianugerahi penghargaan Pemain Terbaik Asia (Asian Footballer of the Year) oleh AFC, sebuah prestasi luar biasa bagi pemain yang baru berusia 20 tahun.
Keberhasilan di level klub membawa Nakata ke panggung internasional yang sesungguhnya: Piala Dunia 1998 di Prancis. Ini adalah partisipasi pertama Jepang sepanjang sejarah turnamen tersebut. Meskipun Jepang harus tersingkir di babak penyisihan grup, penampilan Nakata menjadi sorotan utama. Ia menjadi motor serangan Jepang, bermain tanpa rasa takut melawan bintang-bintang dunia, dan menunjukkan bahwa ia sudah siap untuk tantangan yang lebih besar di Eropa.
Menaklukkan Italia: Sensasi di Perugia dan Scudetto bersama Roma
Penampilan apik di Prancis 1998 membuat klub-klub Eropa mulai bergerak. Klub Serie A Italia, Perugia, yang saat itu dikenal berani berspekulasi dengan talenta-talenta non-Eropa, berhasil mengamankan jasa Nakata. Banyak pengamat sepak bola Italia saat itu skeptis dan menganggap transfer ini hanyalah strategi pemasaran untuk menjual jersi di pasar Asia.
Namun, Nakata membungkam semua keraguan tersebut pada laga debutnya. Melawan raksasa Juventus yang diperkuat oleh Zinedine Zidane, Nakata mencetak dua gol spektakuler meski Perugia akhirnya kalah 3-4. Di musim pertamanya di Serie A, salah satu liga paling kompetitif dan defensif di dunia saat itu, Nakata berhasil mencetak 10 gol dari lini tengah. Ia bukan sekadar alat pemasaran, melainkan nyawa permainan Perugia yang berhasil menyelamatkan klub tersebut dari jurang degradasi.
Kejeniusan Nakata di Perugia membuat raksasa ibu kota, AS Roma, memboyongnya pada Januari 2000 ke Stadion Olimpico. Di Roma, Nakata menghadapi tantangan besar karena ia harus bersaing langsung dengan pangeran Roma, Francesco Totti, untuk memperebutkan posisi gelandang serang utama di bawah asuhan pelatih legendaris Fabio Capello.
Meskipun lebih sering memulai laga dari bangku cadangan karena popularitas dan kehebatan Totti, Nakata tetap menjadi bagian krusial dari skuad Roma. Momen paling ikonik dalam kariernya terjadi pada tanggal 6 Mei 2001 dalam laga penentuan gelar juara melawan Juventus di Stadion Delle Alpi. Roma tertinggal 0-2 ketika Capello memasukkan Nakata menggantikan Totti di babak kedua.
Nakata mengubah jalannya pertandingan secara total. Ia melepaskan tembakan jarak jauh geledek yang membobol gawang Edwin van der Sar untuk memperkecil ketertinggalan menjadi 1-2. Jelang laga usai, tendangan keras Nakata kembali gagal diantisipasi dengan sempurna oleh Van der Sar, membuat Vincenzo Montella menyambar bola muntah untuk menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Hasil imbang ini menjaga posisi Roma di puncak klasemen, yang akhirnya mengantar mereka merengkuh gelar Scudetto Serie A musim 2000/2001. Nakata pun tercatat dalam sejarah sebagai pemain Jepang pertama yang menjuarai Liga Italia.
Pengembaraan Karier di Eropa dan Pensiun Dini
Setelah meraih kesuksesan bersama Roma, Nakata mencari tantangan baru demi mendapatkan waktu bermain yang lebih reguler. Pada musim panas 2001, ia ditransfer ke Parma dengan nilai yang sangat fantastis pada masa itu. Di Parma, ia kembali membuktikan kelasnya dengan memenangkan Coppa Italia pada tahun 2002, di mana ia mencetak gol krusial di babak final melawan Juventus.
Seiring berjalannya waktu, Nakata sempat dipinjamkan ke Bologna pada awal tahun 2004, sebelum akhirnya pindah ke Fiorentina. Pada musim 2005/2006, Nakata memutuskan untuk mencicipi atmosfer kompetisi Premier League Inggris dengan bergabung bersama Bolton Wanderers sebagai pemain pinjaman. Gaya bermain Premier League yang mengandalkan fisik dan kecepatan menjadi pengalaman baru yang melengkapi portofolio karier sepak bolanya di Eropa.
Setelah menyelesaikan musim bersama Bolton, Nakata memimpin tim nasional Jepang menuju Piala Dunia 2006 di Jerman. Turnamen ini menjadi panggung terakhir bagi generasi emas Jepang yang ia pimpin. Sayangnya, langkah Jepang terhenti di babak penyisihan grup setelah menderita kekalahan dari Brasil di pertandingan terakhir.
Pada tanggal 3 Juli 2006, di usia yang masih sangat produktif yaitu 29 tahun, Hidetoshi Nakata secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia sepak bola profesional. Keputusan ini mengejutkan jutaan penggemarnya di seluruh dunia. Nakata mengungkapkan bahwa ia merasa sepak bola telah berubah dari sebuah permainan yang ia cintai menjadi sebuah bisnis industri yang dingin. Ia ingin berhenti selagi ia masih memiliki gairah hidup untuk mengeksplorasi hal-hal lain di luar lapangan hijau.
Warisan Luar Besar di Luar Lapangan
Setelah pensiun, Nakata memilih untuk menjelajahi dunia, mempelajari budaya, dan bertransformasi menjadi seorang ikon mode global serta pengusaha sukses. Ia sering terlihat di barisan depan peragaan busana Paris dan Milan, berkolaborasi dengan desainer ternama, dan menjadi duta untuk berbagai merek mewah internasional. Selain mode, Nakata mendedikasikan sebagian besar hidupnya pasca-pensiun untuk mempromosikan kebudayaan tradisional Jepang, khususnya minuman Sake, ke pasar internasional.
Hidetoshi Nakata mungkin telah meninggalkan lapangan hijau bertahun-tahun yang lalu, namun jejak langkahnya tidak akan pernah terhapus. Ia adalah sosok yang membuka pintu gerbang bagi generasi pemain Asia berikutnya—seperti Park Ji-sung hingga Son Heung-min—untuk percaya bahwa mereka mampu menaklukkan Eropa.
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda