Gillian Robertson: Petarung Wanita BerjulukThe Savage Di UFC

Piter Rudai 10/07/2026 4 min read
Gillian Robertson: Petarung Wanita BerjulukThe Savage Di UFC

Jakarta – Di tengah persaingan sengit divisi wanita UFC, Gillian Elizabeth Robertson telah membangun reputasi sebagai salah satu spesialis submission paling berbahaya yang pernah dimiliki organisasi tersebut. Lahir pada 17 Mei 1995 di Niagara Falls, Ontario, Kanada, Robertson memiliki tinggi 165 sentimeter, berat bertanding 52 kilogram, dan jangkauan 160 sentimeter. Julukan “The Savage” sangat menggambarkan gaya bertarungnya yang agresif dan tanpa kompromi, terutama ketika pertarungan memasuki arena grappling. Hingga pertengahan 2026, ia membukukan rekor profesional 17 kemenangan dan 8 kekalahan, dengan rincian 3 kemenangan melalui KO/TKO, 9 submission, dan 5 keputusan. Saat ini Robertson berlatih di The GOAT Shed Academy di Florida bersama pelatih Daniel Donaldson dan mantan petarung UFC Din Thomas, dua sosok yang berperan besar dalam membentuknya menjadi salah satu grappler wanita terbaik di UFC.

Perjalanan Robertson menuju dunia MMA dimulai sejak usia remaja. Berbeda dengan banyak atlet Kanada yang tumbuh bersama olahraga hoki, Robertson justru menemukan gairahnya di dunia seni bela diri campuran. Ia mulai berlatih mixed martial arts dan segera menyadari bahwa Brazilian Jiu-Jitsu merupakan aspek yang paling sesuai dengan karakter bertarungnya. Kemampuan grappling-nya berkembang sangat pesat hingga menjadi fondasi utama permainannya. Demi mengejar perkembangan karier yang lebih tinggi, ia pindah ke Florida dan bergabung dengan tim Din Thomas. Di bawah bimbingan Din Thomas dan Daniel Donaldson, Robertson tidak hanya mempertajam teknik submission, tetapi juga mengembangkan wrestling, strategi bertarung, dan kemampuan striking sehingga menjadi petarung yang jauh lebih komplet.

Karier profesionalnya dimulai pada 2016 di berbagai organisasi regional Amerika Utara. Meski masih minim pengalaman, Robertson langsung dikenal sebagai petarung yang selalu mencari penyelesaian melalui submission. Hampir setiap kemenangan awalnya lahir berkat kemampuan mengendalikan lawan di atas matras. Kepercayaan dirinya di ground membuat namanya cepat menarik perhatian pencari bakat UFC.

Kesempatan besar datang ketika ia mengikuti The Ultimate Fighter Season 26, ajang yang mencari petarung wanita terbaik untuk divisi flyweight UFC. Walaupun tidak keluar sebagai juara turnamen, penampilannya cukup mengesankan hingga membuat UFC tetap memberinya kontrak. Robertson menjalani debut resminya di organisasi tersebut pada Desember 2017 dalam ajang The Ultimate Fighter 26 Finale menghadapi Emily Whitmire. Ia tampil sesuai karakteristiknya, membawa pertarungan ke bawah dan meraih kemenangan melalui submission. Debut tersebut menjadi awal perjalanan panjangnya di UFC.

Sebagian besar karier awal Robertson berlangsung di divisi flyweight sebelum akhirnya turun ke strawweight pada 2024. Kepindahan kelas tersebut memberikan keuntungan karena ukuran tubuhnya lebih ideal dan kekuatan grappling-nya menjadi semakin dominan dibanding sebagian besar lawan. Seiring waktu, Robertson berkembang dari sekadar spesialis submission menjadi petarung yang jauh lebih komplet, terutama setelah kemampuan striking dan wrestling-nya meningkat secara signifikan.

Sepanjang kariernya di UFC, Robertson mengoleksi kemenangan penting atas sejumlah nama seperti Emily Whitmire, Sarah Frota, Cortney Casey, Mariya Agapova, Polyana Viana, Michelle Waterson-Gomez, Luana Pinheiro, Marina Rodriguez, hingga Amanda Lemos. Beberapa kemenangan tersebut diraih melalui submission yang memperlihatkan betapa berbahayanya dirinya ketika berhasil membawa lawan ke matras, sementara kemenangan atas Marina Rodriguez melalui TKO menjadi bukti nyata perkembangan striking yang selama ini terus diasah.

Salah satu pencapaian terbesar Robertson bukanlah gelar juara dunia, melainkan konsistensinya mencetak sejarah di UFC. Ia kini tercatat sebagai pemegang rekor submission terbanyak dalam sejarah divisi wanita UFC. Selain itu, ia juga menjadi salah satu petarung wanita dengan jumlah penyelesaian (finish) terbanyak dalam sejarah organisasi. Catatan tersebut memperlihatkan efektivitas gaya bertarungnya yang hampir selalu berorientasi untuk mengakhiri laga sebelum keputusan juri diperlukan.

Gaya bertarung Robertson sangat dipengaruhi oleh Brazilian Jiu-Jitsu. Ia bukan tipe petarung yang mengandalkan pukulan keras sejak awal pertandingan. Sebaliknya, ia menggunakan striking untuk membuka peluang melakukan takedown sebelum mendominasi posisi di ground. Setelah memperoleh posisi unggul, Robertson sangat piawai melakukan transisi menuju armbar, rear-naked choke, atau berbagai variasi kuncian lainnya. Ketenangannya saat mencari submission membuat banyak lawan kehabisan energi hanya untuk bertahan.

Meski dikenal sebagai grappler, Robertson tidak berhenti mengembangkan kemampuannya. Bersama tim pelatih di The GOAT Shed Academy, ia terus meningkatkan kualitas tinju, Muay Thai, dan footwork agar mampu bertahan menghadapi striker elite. Latihan strength and conditioning juga menjadi bagian penting dari rutinitasnya untuk menjaga stamina selama tiga ronde penuh. Pendekatan tersebut membuat permainannya jauh lebih seimbang dibandingkan saat pertama kali masuk UFC.

Perjalanan Robertson tentu tidak selalu berjalan mulus. Ia beberapa kali mengalami kekalahan dari lawan-lawan papan atas yang memiliki kemampuan striking lebih matang atau pertahanan takedown yang kuat. Namun, setiap kekalahan selalu dijadikannya sebagai bahan evaluasi. Mentalitas pantang menyerah itulah yang membuatnya mampu bertahan hampir satu dekade di UFC, sebuah pencapaian yang tidak mudah diraih di divisi wanita yang semakin kompetitif.

Bagi Robertson, kemenangan bukan sekadar soal mencatat rekor, tetapi juga tentang membuktikan efektivitas Brazilian Jiu-Jitsu di level tertinggi MMA. Filosofinya sederhana: sabar mencari celah, memanfaatkan kesalahan sekecil apa pun, lalu mengakhiri pertarungan dengan teknik yang bersih. Pendekatan tersebut membuatnya menjadi salah satu submission artist paling disegani di UFC.

Meski belum pernah menyandang sabuk juara dunia, Gillian Robertson telah meninggalkan jejak penting dalam sejarah UFC. Rekor submission yang ia pegang menjadi bukti kualitasnya sebagai salah satu grappler wanita terbaik yang pernah tampil di oktagon. Dengan pengalaman, teknik, dan mentalitas kompetitif yang dimilikinya, “The Savage” tetap menjadi ancaman nyata bagi siapa pun yang berhadapan dengannya, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi baru petarung wanita yang ingin membuktikan bahwa keahlian grappling masih menjadi senjata paling efektif di dunia MMA modern.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...