Jakarta – Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok terus melahirkan atlet-atlet muda berbakat di dunia olahraga tarung. Salah satu nama yang paling mencuri perhatian adalah Zhang Peimian, kickboxer muda yang tampil impresif di panggung ONE Championship. Lahir pada 16 Oktober 2003 di Hepu County, Guangxi, Tiongkok, Zhang dikenal dengan julukan “Fighting Rooster”, sebuah julukan yang mencerminkan gaya bertarungnya yang agresif, pantang mundur, dan selalu menekan lawan sejak ronde pertama. Dengan tinggi 164 sentimeter dan berat bertanding sekitar 56–57 kilogram, ia berkompetisi di divisi ONE Strawweight Kickboxing dan berlatih di Shengli Fight Club, salah satu pusat pelatihan kickboxing ternama di Tiongkok. Meski usianya masih sangat muda, Zhang telah membangun reputasi sebagai salah satu striker paling berbahaya di divisinya.
Perjalanan Zhang menuju dunia bela diri dimulai sejak masa kanak-kanak. Tumbuh di Guangxi, ia dikenal sebagai anak yang aktif dan memiliki energi berlimpah. Melihat karakter tersebut, keluarganya mendorongnya untuk menyalurkan bakat melalui olahraga bela diri. Pada usia sekitar delapan tahun, ia mulai mengenal Sanda (Chinese Kickboxing), cabang olahraga yang memadukan teknik tinju, tendangan, dan bantingan. Di bawah bimbingan pelatih lokal, Zhang memperlihatkan perkembangan yang sangat cepat. Ia memiliki keberanian bertarung yang tinggi, kecepatan tangan yang luar biasa, serta kemampuan menyerang tanpa ragu. Kombinasi tersebut membuatnya mulai menjuarai berbagai kompetisi junior di Tiongkok dan menarik perhatian pelatih profesional.
Memasuki usia remaja, Zhang bergabung dengan Shengli Fight Club, tempat ia mengembangkan kemampuannya menjadi atlet profesional. Di sana, ia tidak hanya memperhalus teknik Sanda, tetapi juga memperdalam ilmu kickboxing internasional yang lebih menekankan kombinasi pukulan, penguasaan jarak, dan strategi bertarung. Latihan intensif yang dijalaninya setiap hari membuat perkembangan tekniknya berlangsung sangat pesat. Ia kemudian memutuskan beralih ke karier profesional dan mulai bertanding pada berbagai ajang kickboxing nasional maupun internasional.
Nama Zhang mulai dikenal luas ketika mengikuti Road to ONE China Kickboxing Tournament. Turnamen tersebut menjadi ajang seleksi bagi talenta terbaik Tiongkok untuk memperoleh kontrak di ONE Championship. Dengan penampilan agresif dan kemampuan menyerang yang konsisten, Zhang berhasil menjuarai turnamen tersebut. Gelar itu menjadi titik balik penting dalam kariernya karena membuka jalan menuju organisasi bela diri terbesar di Asia.
Debut Zhang di ONE Championship berlangsung pada Maret 2022 saat menghadapi petarung Australia Josh Tonna di ONE X. Meski baru berusia 18 tahun, ia tampil tanpa rasa gugup. Sejak ronde pertama, Zhang langsung mengambil inisiatif menyerang melalui kombinasi pukulan cepat dan tendangan keras yang terus menekan lawannya. Dominasi tersebut berakhir dengan kemenangan TKO, menjadikannya salah satu debutan paling mengesankan di ONE Championship pada tahun itu. Kemenangan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa Tiongkok memiliki prospek baru yang siap bersaing di level dunia.
Momentum positif tersebut membawanya memperoleh kesempatan bertarung memperebutkan gelar ONE Strawweight Kickboxing World Championship melawan Jonathan Di Bella pada ONE 162 di Kuala Lumpur, Oktober 2022. Meski tampil sangat agresif dan beberapa kali memberikan tekanan, Zhang akhirnya harus mengakui keunggulan teknik Di Bella melalui keputusan bulat. Kekalahan itu menjadi pengalaman penting dalam kariernya. Ia belajar bahwa bertarung di level juara dunia tidak hanya membutuhkan keberanian menyerang, tetapi juga kesabaran, pengelolaan ritme, dan kemampuan beradaptasi terhadap strategi lawan.
Alih-alih terpuruk, Zhang justru bangkit dengan penampilan yang semakin matang. Ia kembali meraih kemenangan atas sejumlah lawan tangguh di ONE Championship dan terus memperbaiki aspek teknis permainannya. Pengalaman menghadapi Di Bella membuatnya lebih sabar dalam membangun serangan, tanpa kehilangan identitas sebagai striker agresif. Setiap kemenangan yang diraihnya memperlihatkan perkembangan dalam pemilihan kombinasi pukulan, pergerakan kaki, serta kemampuan mengontrol tempo pertandingan.
Hingga pertengahan 2026, Zhang membukukan rekor profesional 19 kemenangan, 5 kekalahan, dan 1 hasil imbang, dengan 6 kemenangan melalui KO/TKO dan 13 kemenangan melalui keputusan juri. Statistik tersebut menunjukkan bahwa meski memiliki kekuatan pukulan yang mampu menghasilkan knockout, ia juga sangat mampu memenangkan pertandingan melalui dominasi teknik dan aktivitas menyerang selama tiga ronde penuh. Sebagian besar kemenangannya lahir dari tekanan konstan yang membuat lawan kesulitan mengembangkan permainan.
Gaya bertarung Zhang menjadi salah satu yang paling menarik di divisi strawweight. Berbekal dasar Sanda, ia mengandalkan kombinasi tinju cepat, tendangan rendah yang keras, serta mobilitas tinggi untuk terus menekan lawan. Julukan “Fighting Rooster” benar-benar tercermin dalam setiap penampilannya. Ia hampir tidak pernah mundur dan selalu berusaha menjadi pihak yang mengendalikan jalannya pertandingan. Intensitas serangannya sering kali memaksa lawan bertahan sepanjang laga.
Di balik gaya bertarung yang eksplosif, Zhang dikenal sebagai atlet yang sangat disiplin. Bersama Shengli Fight Club, ia menjalani latihan fisik, teknik, dan sparring dengan intensitas tinggi hampir setiap hari. Ia juga memberi perhatian besar pada pemulihan tubuh, nutrisi, dan analisis video pertandingan lawan. Filosofi bertarungnya sederhana: terus maju, percaya pada latihan, dan tidak pernah takut menghadapi siapa pun. Baginya, setiap kekalahan adalah pelajaran yang harus dijadikan bahan untuk berkembang.
Meski masih berusia muda, Zhang Peimian telah menjadi salah satu simbol kebangkitan kickboxing Tiongkok di panggung internasional. Dari seorang anak yang belajar Sanda di Guangxi hingga menjadi juara Road to ONE China Tournament dan mantan penantang gelar dunia ONE Championship, perjalanannya menunjukkan bahwa kerja keras dan keberanian mampu membuka jalan menuju level tertinggi. Dengan usia yang masih sangat muda dan kemampuan yang terus berkembang, Zhang memiliki peluang besar untuk kembali menantang sabuk juara dunia dan mengukuhkan dirinya sebagai salah satu kickboxer terbaik di generasinya.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda