Jakarta – Bayangkan sebuah sore yang sempurna. Anda sedang duduk di kedai kopi favorit, ditemani secangkir cappuccino hangat yang aromanya menguar lembut. Di depan Anda, sahabat lama sedang tertawa lepas, menceritakan kisah konyol masa lalu. Lampu gantung berwarna kekuningan memberi kesan hangat, dan lagu berirama jazz mengalun samar di latar belakang. Ini adalah sebuah momen yang, jika dilihat dari lensa kamera orang lain, adalah definisi dari kebahagiaan sejati.
Namun, di dalam kepala Anda, suasananya sangat berbeda.
Alih-alih ikut tertawa lepas, pikiran Anda justru mengembara ke tumpukan pekerjaan esok hari. Ada suara bisikan halus yang mengingatkan tentang cicilan yang belum dibayar, atau kecemasan mendadak bahwa momen seindah ini pasti akan segera berakhir dan digantikan oleh kesedihan. Anda tersenyum, tetapi senyuman itu hanya mampir di bibir, tidak pernah benar-benar sampai ke mata, apalagi ke hati.
Pernahkah Anda mengalaminya? Mengapa terkadang, ketika kebahagiaan sudah berada tepat di depan mata, kita justru merasa asing dan sulit untuk menikmatinya? Mengapa memeluk rasa bahagia terkadang terasa jauh lebih melelahkan daripada merawat rasa sedih?
Ketika Kebahagiaan Terasa Seperti Ancaman
Secara psikologis, ketidakmampuan untuk menikmati momen bahagia sering kali berakar dari mekanisme pertahanan diri yang keliru. Ada sebuah istilah yang dikenal sebagai cherophobia, yaitu ketakutan yang tidak rasional terhadap kebahagiaan. Orang yang mengalami ini bukan membenci rasa bahagia itu sendiri, melainkan takut pada “konsekuensi” setelahnya.
Banyak dari kita tumbuh dengan narasi atau mitos kehidupan yang tidak disadari, seperti: “Jangan tertawa terlalu keras, nanti setelah ini kamu akan menangis.” Kalimat sederhana yang mungkin sering kita dengar saat kecil ini menanamkan trauma bawah sadar. Kita mulai mengasosiasikan kebahagiaan sebagai sebuah puncak menara, dan kita takut setengah mati bahwa semakin tinggi kita berdiri di sana, akan semakin sakit pula saat kita terjatuh nanti.
Akibatnya, ketika momen bahagia itu datang, otak kita tidak berfokus pada rasa syukur, melainkan langsung mengaktifkan mode waspada. Kita menjadi seperti seorang prajurit di medan perang yang tidak berani menurunkan senjatanya, bahkan ketika situasi sedang aman. Kita menolak untuk larut dalam tawa karena takut lengah saat kesedihan datang mengetuk pintu.
Terjebak dalam Penjara “Bagaimana Jika”
Musuh terbesar dari momen hari ini adalah penyesalan masa lalu dan kecemasan masa depan. Manusia adalah makhluk yang diberkahi dengan kemampuan imajinasi yang luar biasa, namun sayangnya, kita sering menggunakan kemampuan itu untuk menyiksa diri sendiri.
Saat menghadiri pesta perayaan kelulusan atau kenaikan jabatan, alih-alih merayakan pencapaian yang telah diperjuangkan dengan berdarah-darah, pikiran kita justru melompat ke masa depan. Bagaimana jika nanti ekspektasi orang semakin tinggi? Bagaimana jika aku tidak bisa mempertahankan prestasi ini? Bagaimana jika ini hanya keberuntungan sesaat?
Kita menjadi terlalu sibuk menganalisis kebahagiaan sampai lupa merasakannya. Kebahagiaan itu seperti pasir pantai yang halus; semakin keras kita mencoba menggenggam dan menganalisis strukturnya, ia justru akan semakin cepat slip di antara jari-jari kita. Momen indah membutuhkan kehadiran penuh (presence). Ketika fisik kita berada di ruang pesta, namun pikiran kita berada di ruang sidang masa depan, kita telah merampok hak diri sendiri untuk berbahagia.
Rasa Bersalah yang Tidak Pada Tempatnya
Alasan lain yang sangat menyentuh dan sering kali tersembunyi di lubuk hati terdalam adalah rasa bersalah (survivor’s guilt dalam skala kehidupan sehari-hari). Kita merasa tidak pantas untuk bahagia ketika tahu bahwa ada orang-orang di sekitar kita yang sedang berjuang atau menderita.
Mungkin Anda baru saja mendapatkan bonus besar di tempat kerja, tetapi di saat yang sama, adik Anda baru saja kehilangan pekerjaannya. Atau Anda sedang menikmati liburan yang indah, sementara orang tua Anda di kampung halaman sedang sakit-sakitan. Rasa empati yang terlalu besar, jika tidak dikelola dengan sehat, dapat berubah menjadi racun yang menyabotase kebahagiaan kita sendiri.
Ada suara di dalam hati yang berbisik, Teganya kamu bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Kita merasa bahwa dengan ikut menderita atau menahan diri untuk tidak bahagia, kita sedang menunjukkan kesetiakawanan. Padahal, meredupkan cahaya diri sendiri tidak akan pernah bisa membantu menerangi kegelapan orang lain.
Kelelahan Emosional dan Kehilangan Kemampuan Memaknai
Dunia modern menuntut kita untuk bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Kita dipaksa untuk terus mengejar target berikutnya. Setelah mencapai target A, kita langsung dituntut memikirkan target B. Ritme hidup yang kelewat cepat ini membuat jiwa kita mengalami mati rasa emosional (emotional numbness).
Ketika kita terlalu lelah secara mental, kapasitas emosional kita untuk memproses kebahagiaan menjadi menyusut. Kita melihat sesuatu yang indah, tahu bahwa itu indah, tetapi hati kita terlalu lelah untuk bergetar. Kita merayakan ulang tahun, pernikahan, atau kelahiran anak dengan mekanis—mengikuti prosesi, mengambil foto untuk media sosial, lalu selesai. Momen itu lewat begitu saja tanpa meninggalkan bekas yang hangat di dalam dada.
Kita telah kehilangan kemampuan untuk savoring, sebuah seni dalam psikologi yang berarti memperpanjang dan memperdalam pengalaman positif. Seperti menikmati sepotong cokelat premium, savoring menuntut kita untuk mengunyahnya perlahan, membiarkannya meleleh di lidah, dan mencecap setiap sesapan rasanya. Sayangnya, kita sering kali menelan kebahagiaan itu bulat-bulat demi mengejar hidangan berikutnya.
Belajar Menerima Bahagia yang Sederhana
Menyembuhkan diri dari ketidakmampuan menikmati kebahagiaan bukanlah perkara membalik telapak tangan. Ini adalah sebuah perjalanan untuk berdamai dengan ketidakpastian hidup.
Langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah merangkul kerentanan (vulnerability). Mengutip pemikiran sosiolog Brené Brown, kegembiraan adalah emosi yang paling rentan kita rasakan. Mengapa? Karena saat kita merasa sangat bahagia, kita menyadari bahwa kita memiliki banyak hal yang bisa hilang. Namun, menolak bahagia tidak akan mengurangi rasa sakit saat kehilangan itu benar-benar terjadi suatu hari nanti. Menolak bahagia hanya akan membuat kita kehilangan kesempatan untuk mengumpulkan “bekal kenangan indah” yang justru kita butuhkan untuk bertahan saat masa-masa sulit datang.
Langkah kedua adalah memberikan izin kepada diri sendiri (self-permission). Katakan pada diri Anda, “Aku sudah bekerja keras, aku telah melewati banyak badai, dan saat ini, aku berhak untuk menikmati ketenangan ini. Aku aman.” Biarkan pertahanan diri Anda turun sejenak.
Terakhir, kembalilah ke tubuh dan panca indra Anda saat momen indah itu terjadi. Ketika Anda sedang bersama orang-orang tersayang, rasakan hangatnya sentuhan tangan mereka. Dengarkan baik-baik warna suara tawa mereka. Perhatikan bagaimana sinar matahari sore menyentuh wajah mereka. Tarik napas dalam-dalam, dan akuilah dalam hati: Ini adalah momen yang baik, dan aku ada di sini untuk merasakannya.
Hidup ini tidak pernah menjanjikan hari esok yang tanpa masalah. Badai akan selalu datang dan pergi. Namun, justru karena kedatangan badai yang tidak bisa diprediksi itulah, setiap detik cuaca cerah yang kita miliki saat ini menjadi begitu berharga.
Jangan biarkan ketakutan akan hari esok merampok keindahan hari ini. Tersenyumlah, tertawalah dengan lepas, dan biarkan kebahagiaan itu meresap hingga ke bagian jiwa Anda yang paling dalam. Anda pantas mendapatkannya, kemarin, hari ini, dan di hari-hari yang akan datang.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda