Alex Perez: Grappler Tangguh yang Tak Pernah Berhenti Mengejar Sabuk UFC

Piter Rudai 25/07/2026 4 min read
Alex Perez: Grappler Tangguh yang Tak Pernah Berhenti Mengejar Sabuk UFC

Jakarta – Di divisi flyweight UFC yang dipenuhi petarung cepat dan teknis, Alex Perez dikenal sebagai sosok yang selalu membawa ancaman dari berbagai aspek pertarungan. Kemampuan gulat yang kuat dipadukan dengan striking yang terus berkembang membuat petarung asal Hanford, California, ini menjadi salah satu nama yang konsisten berada di jajaran elite selama beberapa tahun terakhir. Meski perjalanan kariernya tidak selalu mulus akibat cedera dan beberapa kekalahan penting, Perez terus menunjukkan mentalitas pantang menyerah yang membuatnya tetap diperhitungkan sebagai penantang berbahaya di divisi 57 kilogram.

Alexander Salvador Perez lahir pada 21 Maret 1992 di Hanford, California, Amerika Serikat. Ia memiliki tinggi 168 sentimeter dengan jangkauan sekitar 165 sentimeter dan bertarung di kelas flyweight UFC. Sejak kecil, Perez tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan etos kerja keras. Ketika masih bersekolah, ia aktif mengikuti olahraga gulat (freestyle wrestling), sebuah fondasi yang kemudian menjadi senjata utama dalam karier MMA-nya. Melalui olahraga itu ia belajar disiplin, daya tahan, dan kemampuan mengendalikan lawan, kualitas yang terus melekat hingga kini.

Ketertarikannya terhadap mixed martial arts muncul ketika menyadari bahwa gulat dapat dikombinasikan dengan striking dan Brazilian Jiu-Jitsu. Ia mulai berlatih secara serius dan bergabung dengan Team Oyama di California, sebelum memperluas pengalaman latihan di Syndicate MMA, Las Vegas. Di bawah bimbingan para pelatih berpengalaman, Perez berkembang menjadi petarung yang komplet. Meski identitas utamanya adalah seorang grappler, ia terus mengasah kemampuan tinju dan tendangan sehingga mampu mengancam lawan baik dalam pertarungan berdiri maupun di bawah.

Karier profesional Perez dimulai pada 2011 di berbagai organisasi regional Amerika Serikat. Ia dengan cepat mengumpulkan kemenangan berkat kombinasi gulat agresif, kontrol posisi yang baik, serta kemampuan menyelesaikan pertarungan melalui submission maupun ground and pound. Penampilannya di ajang-ajang regional menarik perhatian promotor besar hingga akhirnya ia memperoleh kesempatan tampil di Dana White’s Contender Series pada 2017. Dalam ajang tersebut, Perez tampil impresif dan sukses mengamankan kontrak UFC.

Debut resminya di UFC berlangsung pada 9 Desember 2017 menghadapi Carls John de Tomas. Perez tampil dominan dan mengakhiri laga melalui submission arm-triangle choke pada ronde kedua. Kemenangan tersebut menjadi awal yang menjanjikan sekaligus memperlihatkan bahwa dirinya memiliki kualitas untuk bersaing di level tertinggi. Setelah itu ia melanjutkan tren positif dengan mengalahkan Eric Shelton dan kemudian meraih kemenangan spektakuler atas Jose Torres melalui knockout menggunakan tendangan kaki yang menjadi salah satu penyelesaian terbaik pada tahun itu.

Perjalanan Perez menuju papan atas semakin mantap setelah mengalahkan Jordan Espinosa lewat armbar pada 2020. Beberapa bulan kemudian, ia menghadapi mantan penantang gelar Jussier Formiga. Dalam laga tersebut Perez tampil sangat agresif dan memenangkan pertarungan melalui TKO pada ronde pertama. Kemenangan atas Formiga langsung mengangkat namanya sebagai penantang serius gelar UFC Flyweight.

Puncak awal kariernya datang ketika mendapat kesempatan menantang juara dunia Deiveson Figueiredo pada November 2020. Namun kesempatan emas itu tidak berakhir sesuai harapan. Perez harus menyerah melalui guillotine choke pada ronde pertama setelah mencoba melakukan takedown. Kekalahan tersebut memang mengecewakan, tetapi sekaligus memberinya pengalaman menghadapi salah satu juara flyweight paling dominan pada masanya.

Setelah pertarungan perebutan gelar, karier Perez sempat terganggu oleh serangkaian cedera yang membuat aktivitasnya di oktagon tidak lagi konsisten. Ia beberapa kali harus menepi dalam waktu lama, kehilangan momentum yang telah dibangun dengan susah payah. Meski demikian, setiap kali kembali bertanding, Perez tetap menunjukkan kualitas sebagai petarung elite dengan kemampuan gulat yang sulit dihentikan.

Memasuki pertengahan dekade 2020-an, Perez kembali berusaha menembus persaingan papan atas. Pada Januari 2026 ia mencatat kemenangan penting atas Charles Johnson melalui knockout, membuktikan bahwa striking-nya semakin berkembang dan tidak lagi hanya bergantung pada permainan bawah. Beberapa bulan kemudian ia dijadwalkan menghadapi Su Mudaerji. Pertandingan tersebut berakhir sebagai no contest setelah insiden yang membuat laga tidak dapat dilanjutkan, sehingga tidak memengaruhi posisi rekor profesionalnya.

Hingga pertengahan 2026, Alex Perez membukukan rekor profesional 26 kemenangan, 10 kekalahan, dan 1 no contest dari 37 pertandingan. Dari 26 kemenangan tersebut, tujuh diraih melalui KO atau TKO, tujuh melalui submission, dan dua belas lewat keputusan juri. Statistik tersebut menunjukkan keseimbangan kemampuannya sebagai petarung yang mampu menyelesaikan laga di berbagai situasi.

Gaya bertarung Perez berakar kuat pada freestyle wrestling. Ia sangat piawai mencari celah melakukan takedown, mengontrol posisi di atas lawan, lalu membangun peluang submission. Di sisi lain, perkembangan kemampuan striking membuat lawan tidak bisa hanya fokus mengantisipasi permainan bawah. Pukulan lurus, kombinasi hook, serta low kick kini menjadi bagian penting dari strateginya untuk membuka jalan menuju takedown ataupun menghasilkan knockout.

Dalam latihan sehari-hari, Perez dikenal menjalani program yang sangat disiplin. Selain meningkatkan teknik gulat dan Brazilian Jiu-Jitsu, ia memberi perhatian besar pada latihan kekuatan, daya tahan, serta kecepatan eksplosif. Latihan bersama Team Oyama dan Syndicate MMA memberinya kesempatan berlatih dengan banyak petarung elite sehingga kualitas tekniknya terus berkembang.

Mentalitas kompetitif menjadi salah satu kekuatan terbesar Perez. Cedera berkepanjangan, kekalahan dalam perebutan gelar, hingga naik turunnya performa tidak pernah membuatnya kehilangan motivasi. Ia selalu melihat setiap tantangan sebagai kesempatan untuk berkembang dan kembali membuktikan diri. Filosofi bertarungnya sederhana tetapi efektif: mengendalikan ritme pertandingan, memaksimalkan setiap peluang, dan tidak memberi ruang bagi lawan untuk merasa nyaman.

Meski belum berhasil merebut sabuk juara UFC, Alex Perez tetap menjadi salah satu nama paling disegani di divisi flyweight. Kemampuan bertarung yang komplet, pengalaman menghadapi lawan-lawan elite, serta semangat untuk terus bangkit menjadikannya ancaman bagi siapa pun yang memasuki oktagon bersamanya. Selama masih mampu menjaga kondisi fisik dan terhindar dari cedera, peluang Perez untuk kembali menembus persaingan perebutan gelar dunia tetap terbuka lebar.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...