Salahdine Parnasse, Petarung Prancis Yang Siap Menaklukkan UFC

Piter Rudai 31/07/2026 3 min read
Salahdine Parnasse, Petarung Prancis Yang Siap Menaklukkan UFC

Jakarta – Di antara banyak talenta yang lahir dari kancah MMA Eropa, nama Salahdine Parnasse menempati posisi yang istimewa. Petarung asal Prancis berdarah Maroko ini telah lama disebut sebagai salah satu atlet terbaik di luar UFC. Perpaduan kecepatan, teknik, dan kecerdasan bertarung membuatnya tampil dominan sejak usia muda. Dengan tinggi 178 cm dan bertarung di kelas lightweight (70 kg), Parnasse dikenal sebagai striker eksplosif yang mampu mengakhiri pertarungan baik melalui pukulan maupun submission. Rekor profesionalnya hingga menjelang debut di UFC adalah 23 kemenangan dan 2 kekalahan, terdiri atas 8 kemenangan KO/TKO, 7 submission, dan 8 keputusan juri. Setelah bertahun-tahun menjadi bintang di Eropa, ia akhirnya dijadwalkan menjalani debut UFC melawan Dan Hooker pada UFC Paris, 5 September 2026, sebuah laga utama yang langsung menguji kualitasnya di panggung terbesar MMA dunia.

Lahir pada 4 Desember 1997 di Aubervilliers, pinggiran Kota Paris, Parnasse tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi disiplin. Darah Maroko yang mengalir dalam dirinya turut membentuk karakter pekerja keras yang kemudian menjadi ciri khasnya. Ketertarikannya terhadap bela diri muncul sejak masih anak-anak. Pada usia sekitar 11 tahun, ia mulai berlatih MMA di Atch Academy, salah satu pusat pengembangan atlet terbaik di Prancis. Di sana ia tidak hanya mempelajari teknik bertarung, tetapi juga membangun fondasi mental sebagai atlet profesional. Berlatih bersama petarung-petarung elite membuatnya berkembang pesat, terutama dalam aspek boxing, footwork, serta transisi ke permainan bawah yang sangat efektif.

Bakat Parnasse terlihat begitu menonjol sehingga ia memutuskan menjadi petarung profesional saat masih berusia 17 tahun. Berbeda dengan banyak atlet muda yang membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi, Parnasse justru cepat menarik perhatian berkat gaya bertarungnya yang matang. Ia mampu mengombinasikan kecepatan tangan, akurasi pukulan, serta kemampuan membaca ritme lawan dengan sangat baik. Seiring bertambahnya pengalaman, permainan grappling dan submission-nya juga berkembang hingga menjadi salah satu senjata paling berbahaya ketika pertarungan memasuki kanvas.

Kariernya melesat ketika bergabung dengan KSW, promotor MMA terbesar di Eropa yang berbasis di Polandia. Di organisasi inilah nama Salahdine Parnasse benar-benar melejit. Ia mengalahkan sejumlah petarung elite Eropa dan berhasil merebut gelar KSW Featherweight Champion. Tidak berhenti di sana, ia kemudian naik kelas dan juga merebut sabuk KSW Lightweight Champion, menjadikannya salah satu petarung termuda yang mampu menjadi juara di dua divisi berbeda dalam sejarah organisasi tersebut. Prestasi itu membuat banyak pengamat menyebutnya sebagai salah satu prospek terbaik yang belum berada di UFC. Dominasinya di KSW berlangsung selama beberapa tahun dan memperlihatkan konsistensi yang jarang dimiliki petarung seusianya.

Meski telah menjadi bintang di Eropa, Parnasse tidak pernah berhenti mencari tantangan baru. Ia sempat menjajal panggung internasional di luar KSW, termasuk tampil dalam ajang MMA di Amerika Serikat sebelum akhirnya resmi menandatangani kontrak dengan UFC. Kemenangan impresif pada laga tersebut semakin memperkuat keyakinan banyak pihak bahwa dirinya sudah siap bersaing dengan para petarung elite dunia. Penantian panjang itu akhirnya berakhir ketika UFC mengumumkan perekrutannya pada pertengahan 2026. Menariknya, organisasi terbesar MMA tersebut langsung mempercayainya tampil sebagai main event UFC Paris menghadapi veteran berpengalaman Dan Hooker, sebuah bukti besarnya kepercayaan UFC terhadap kualitas Parnasse.

Di dalam oktagon, Parnasse merupakan petarung yang sangat modern. Ia mengandalkan striking cepat berbasis boxing, pergerakan kaki yang lincah, serta kemampuan menjaga jarak sebelum melepaskan kombinasi pukulan tajam. Namun ketika lawan mulai fokus mengantisipasi serangan berdiri, ia mampu beralih ke permainan bawah dengan mulus. Kemampuan submission-nya telah menghasilkan tujuh kemenangan profesional dan menjadi bukti bahwa dirinya bukan sekadar striker. Fleksibilitas inilah yang membuatnya sulit diprediksi karena lawan harus selalu siap menghadapi ancaman dari segala arah.

Kesuksesan tersebut tidak lepas dari filosofi bertarung yang terus dipegangnya. Parnasse percaya bahwa teknik hanya akan berkembang melalui latihan yang konsisten dan kemauan untuk terus belajar. Bersama Atch Academy, ia menjalani latihan yang menitikberatkan pada kecepatan, efisiensi gerakan, penguasaan teknik striking modern, serta simulasi situasi pertandingan berintensitas tinggi. Ia dikenal sebagai atlet yang tenang di luar arena, tetapi berubah agresif ketika pintu oktagon ditutup. Mentalitas kompetitifnya juga terlihat dari keberaniannya menerima tantangan terbesar dalam karier, termasuk langsung menghadapi Dan Hooker pada debut UFC. Dengan usia yang masih berada di puncak performa dan pengalaman sebagai mantan juara dua divisi KSW, Salahdine Parnasse kini memasuki babak baru. UFC menjadi panggung pembuktian apakah dominasi yang ia bangun di Eropa mampu berlanjut di level tertinggi, sekaligus membuka jalan menuju persaingan gelar juara lightweight di masa depan.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...