Nursulton Ruziboev, Raksasa Uzbekistan Di UFC

Piter Rudai 01/08/2026 4 min read
Nursulton Ruziboev, Raksasa Uzbekistan Di UFC

Jakarta – Di antara deretan petarung bertubuh tinggi yang menghiasi divisi middleweight UFC, nama Nursulton Ruziboev menjadi salah satu yang paling menarik perhatian. Petarung asal Uzbekistan yang memiliki julukan “Black” ini bukan hanya unggul karena postur menjulang setinggi 196 cm, tetapi juga berkat pengalaman bertanding yang sangat kaya. Dengan berat bertanding sekitar 84–85 kilogram, Ruziboev telah mengukir rekor profesional 37 kemenangan, 9 kekalahan, dan 2 hasil imbang, termasuk 13 kemenangan melalui KO/TKO, 21 submission, dan 3 kemenangan lewat keputusan juri. Statistik tersebut menggambarkan satu hal yang sangat jelas: ia adalah petarung yang selalu berusaha mengakhiri pertarungan sebelum bel terakhir berbunyi.

Lahir pada 2 November 1993 di Uzbekistan, Ruziboev tumbuh di lingkungan yang akrab dengan olahraga tarung. Seperti banyak atlet dari kawasan Asia Tengah, ia mengenal disiplin bela diri sejak usia muda. Awalnya ia mempelajari berbagai bentuk gulat tradisional yang populer di negaranya sebelum memperluas kemampuannya ke sambo, grappling, dan akhirnya mixed martial arts (MMA). Perpaduan kekuatan fisik, jangkauan tubuh yang luar biasa panjang, serta bakat alami dalam pertarungan bawah membuatnya berkembang cepat dibandingkan rekan-rekan seusianya. Ketika memutuskan menekuni MMA secara serius, Ruziboev melihat olahraga ini sebagai jalan untuk menguji seluruh kemampuan bela dirinya sekaligus membuka peluang berkarier di tingkat internasional.

Karier profesionalnya dimulai pada 2014, ketika dunia MMA di kawasan Eurasia sedang berkembang pesat. Berbeda dengan banyak petarung yang membangun rekor secara perlahan, Ruziboev justru sangat aktif bertanding di berbagai organisasi regional seperti Open FC, Gorilla Fighting Championship (GFC), UAE Warriors, hingga sejumlah promotor di Rusia dan Asia Tengah. Frekuensi bertanding yang tinggi membuatnya cepat mengumpulkan pengalaman. Ia menghadapi lawan dengan berbagai latar belakang, mulai dari spesialis striking hingga pegulat elite. Dari sinilah kemampuan adaptasinya berkembang pesat, sekaligus membentuk mentalitas petarung yang tidak takut menghadapi siapa pun.

Salah satu ciri paling mencolok dalam perjalanan karier Ruziboev adalah kemampuannya menyelesaikan pertarungan dengan cepat. Sebagian besar kemenangan yang diraihnya terjadi pada ronde pertama, baik melalui pukulan keras maupun submission. Keunggulan fisiknya menjadi modal penting. Dengan tinggi badan hampir dua meter dan rentang lengan yang panjang, ia mampu menjaga jarak ketika bertarung di atas kaki. Namun ketika lawan mulai kehilangan keseimbangan, Ruziboev akan segera membawa pertarungan ke bawah dan memanfaatkan kemampuan grappling-nya yang sangat efektif. Tidak mengherankan jika lebih dari separuh kemenangan profesionalnya diraih melalui submission.

Setelah bertahun-tahun mendominasi berbagai promotor regional, kesempatan menuju panggung terbesar akhirnya datang ketika ia bergabung dengan Ultimate Fighting Championship (UFC) pada 2023. Debutnya berlangsung impresif saat menghadapi Brunno Ferreira di UFC Fight Night. Meski Ferreira dikenal sebagai pemukul keras, Ruziboev tampil tenang dan berhasil menghentikan perlawanannya melalui TKO pada ronde pertama. Kemenangan tersebut langsung memperkenalkan namanya kepada publik UFC dan menunjukkan bahwa kualitasnya mampu bersaing di level tertinggi.

Perjalanan di UFC kemudian menghadirkan tantangan yang semakin berat. Ia menghadapi petarung dengan kemampuan yang jauh lebih lengkap dibanding lawan-lawan sebelumnya. Ruziboev meraih kemenangan atas Sedriques Dumas, tetapi juga merasakan kerasnya persaingan ketika menghadapi Joaquin Buckley. Kekalahan tersebut menjadi pelajaran penting mengenai tuntutan kompetisi di UFC, di mana setiap kesalahan kecil dapat berujung pada kekalahan. Alih-alih kehilangan kepercayaan diri, ia justru menjadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki pertahanan striking, manajemen jarak, dan transisi menuju grappling.

Dalam upaya meningkatkan kualitasnya, Ruziboev kemudian berlatih bersama American Top Team (ATT) di Florida, Amerika Serikat. Gym tersebut dikenal sebagai rumah bagi banyak juara dunia MMA. Di sana ia mendapatkan kesempatan berlatih dengan atlet-atlet elite dari berbagai negara serta dipandu pelatih berpengalaman. Program latihannya berfokus pada penyempurnaan teknik striking modern, peningkatan wrestling ofensif dan defensif, serta penguatan kondisi fisik agar mampu mempertahankan intensitas tinggi sepanjang pertarungan. Lingkungan kompetitif di ATT juga membantunya memperluas wawasan taktis sehingga tidak hanya mengandalkan keunggulan fisik semata.

Di dalam oktagon, Ruziboev merupakan petarung yang sangat efisien. Ia tidak banyak membuang energi untuk melakukan serangan yang tidak perlu. Dengan jangkauan panjang, ia mengendalikan lawan menggunakan jab dan tendangan lurus sebelum mencari celah untuk melakukan takedown atau mengunci submission. Ketika kesempatan muncul, ia bergerak sangat cepat untuk mengakhiri pertarungan. Kemampuan tersebut membuatnya menjadi salah satu finisher paling berbahaya di divisi middleweight. Dari 37 kemenangan profesional, sebanyak 34 di antaranya diraih melalui penyelesaian, sebuah angka yang menunjukkan betapa jarangnya pertarungan Ruziboev berakhir di tangan juri.

Di balik gaya bertarung agresifnya, Ruziboev memegang filosofi sederhana: setiap latihan harus lebih berat daripada pertandingan. Prinsip itu membentuk mentalitas kompetitif yang membuatnya terus berkembang meski telah menjalani puluhan laga profesional. Ia percaya pengalaman hanya akan bernilai jika disertai kemauan untuk belajar dari kemenangan maupun kekalahan. Kini, dengan pengalaman lebih dari empat puluh pertarungan profesional, dukungan fasilitas kelas dunia di American Top Team, serta kemampuan finishing yang telah terbukti, Nursulton Ruziboev terus membangun reputasinya sebagai salah satu ancaman nyata di divisi middleweight UFC. Bagi banyak penggemar MMA, perjalanan petarung Uzbekistan ini menunjukkan bahwa kerja keras, pengalaman, dan keberanian menghadapi tantangan mampu mengantarkan seorang atlet dari sirkuit regional menuju panggung terbesar dunia.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...