Brandon Moreno: Petarung Meksiko Di Divisi Flyweight UFC

Piter Rudai 07/08/2026 4 min read
Brandon Moreno: Petarung Meksiko Di Divisi Flyweight UFC

Jakarta – Di antara deretan bintang besar yang pernah menghiasi Ultimate Fighting Championship (UFC), nama Brandon Carrillo Moreno memiliki tempat yang sangat istimewa. Lahir di Tijuana, Meksiko, pada 7 Desember 1993, Moreno bukan hanya dikenal karena kemampuan bertarungnya yang komplet, tetapi juga karena berhasil mematahkan batas sejarah sebagai petarung Meksiko pertama yang menjadi juara dunia UFC. Julukan “The Assassin Baby” menggambarkan perpaduan unik antara wajahnya yang selalu tampak ramah dan gaya bertarung agresif yang membuat lawan selalu berada dalam tekanan. Dengan tinggi 170 cm, bertarung di kelas flyweight (57 kg), serta menyandang sabuk hitam Brazilian Jiu-Jitsu, Moreno berkembang menjadi salah satu ikon terbesar dalam sejarah divisi tersebut.

Perjalanan Moreno menuju panggung dunia dimulai dari kehidupan sederhana di Tijuana. Ia tumbuh dalam keluarga yang mengelola usaha piñata, sehingga sejak kecil telah terbiasa membantu pekerjaan orang tuanya. Ketika berusia sekitar 12 tahun, Moreno mulai berlatih seni bela diri campuran (MMA). Awalnya, sang ayah mendaftarkannya ke sasana hanya agar ia memiliki kegiatan positif setelah pulang sekolah. Namun, latihan tersebut justru membuka jalan menuju karier profesional. Moreno dengan cepat menunjukkan bakat alami, terutama dalam teknik grappling dan Brazilian Jiu-Jitsu. Selain memiliki kemampuan belajar yang cepat, ia juga dikenal sebagai atlet yang disiplin dan selalu berusaha meningkatkan kualitas dirinya setiap hari.

Moreno memulai karier profesional MMA pada 2011 di berbagai ajang regional Meksiko. Ia meraih sejumlah kemenangan yang membuat namanya mulai diperhitungkan di Amerika Latin. Kesempatan yang lebih besar datang ketika ia tampil di World Fighting Federation (WFF) dan kemudian memperoleh kontrak untuk mengikuti The Ultimate Fighter: Tournament of Champions pada 2016. Walaupun gagal menjuarai turnamen tersebut, penampilannya cukup mengesankan hingga UFC memutuskan memberikan kontrak permanen. Debutnya di UFC menjadi awal perjalanan panjang yang penuh pasang surut. Moreno sempat mencatat kemenangan penting atas Louis Smolka dan Dustin Ortiz, tetapi performanya yang belum konsisten membuat UFC melepasnya pada 2018.

Keputusan UFC tersebut justru menjadi titik balik kariernya. Moreno tidak larut dalam kekecewaan. Ia kembali bertarung di organisasi Legacy Fighting Alliance (LFA) dan langsung menunjukkan kualitasnya dengan merebut gelar juara flyweight. Penampilan impresif itu membuat UFC memanggilnya kembali hanya beberapa bulan kemudian. Kesempatan kedua tersebut dimanfaatkan dengan sangat baik. Moreno tampil jauh lebih matang, baik dari sisi teknik maupun mental. Ia mulai mencatat kemenangan beruntun atas sejumlah petarung elite dan perlahan menjelma menjadi penantang utama gelar juara dunia.

Puncak karier Moreno datang pada 12 Juni 2021 ketika menghadapi Deiveson Figueiredo dalam duel perebutan gelar UFC Flyweight. Setelah pertarungan pertama mereka berakhir imbang pada 2020, Moreno tampil luar biasa dalam laga ulang tersebut. Ia mendominasi jalannya pertandingan sebelum mengunci rear-naked choke pada ronde ketiga, memaksa Figueiredo menyerah. Kemenangan melalui submission itu bukan sekadar mengantarkannya menjadi juara dunia UFC, tetapi juga mengukir sejarah sebagai petarung kelahiran Meksiko pertama yang merebut sabuk juara UFC. Prestasi tersebut disambut meriah oleh publik Meksiko yang selama bertahun-tahun menantikan lahirnya juara dunia dari negaranya.

Persaingan Moreno dan Figueiredo kemudian berkembang menjadi salah satu rivalitas terbesar dalam sejarah divisi flyweight. Mereka bertemu sebanyak empat kali antara 2020 hingga 2023. Setelah kehilangan sabuk pada awal 2022 akibat kekalahan angka tipis, Moreno kembali merebut gelar pada Januari 2023. Dalam pertarungan keempat melawan Figueiredo, laga dihentikan oleh dokter setelah Figueiredo mengalami cedera serius pada mata akibat pukulan Moreno, sehingga kemenangan diberikan melalui TKO. Dengan hasil tersebut, Moreno resmi menjadi juara dunia UFC Flyweight dua kali, sekaligus memperkuat statusnya sebagai salah satu petarung flyweight terbaik sepanjang era modern.

Di luar pertandingan, Moreno dikenal sebagai sosok yang rendah hati, ceria, dan sangat dekat dengan keluarga. Ia berlatih di Fortis MMA, salah satu kamp elite di Amerika Serikat yang terkenal dengan pendekatan ilmiah terhadap pengembangan atlet. Program latihannya memadukan striking, Brazilian Jiu-Jitsu, wrestling, latihan kekuatan, hingga simulasi pertandingan berintensitas tinggi. Filosofi bertarung Moreno berpusat pada kemampuan beradaptasi. Ia tidak bergantung pada satu senjata utama, melainkan selalu mencari kelemahan lawan dan memanfaatkannya secara sistematis. Gaya bertarungnya menggabungkan kombinasi pukulan cepat, footwork yang aktif, transisi grappling yang halus, serta kemampuan submission yang sangat berbahaya. Mentalitasnya pun menjadi salah satu kekuatan terbesar; bahkan setelah sempat dikeluarkan dari UFC, ia mampu bangkit dan kembali menjadi juara dunia.

Hingga kini, Brandon Moreno tetap menjadi salah satu wajah utama divisi flyweight UFC. Rekor profesionalnya tercatat 23 kemenangan, 10 kekalahan, dan 2 hasil imbang, dengan rincian 5 kemenangan KO/TKO, 11 submission, dan 7 kemenangan melalui keputusan juri. Lebih dari sekadar statistik, perjalanan “The Assassin Baby” menjadi bukti bahwa kegagalan bukanlah akhir dari sebuah mimpi. Dari seorang remaja yang membantu usaha keluarga di Tijuana hingga berdiri di puncak UFC sebagai juara dunia dua kali, Moreno telah menginspirasi generasi baru petarung Meksiko untuk percaya bahwa kerja keras, ketekunan, dan keberanian menghadapi kegagalan mampu mengubah sejarah.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...