Jakarta – Di dunia Muay Thai Thailand, perjalanan menuju puncak jarang berlangsung lurus. Gingsanglek Wor Kumchamnarn adalah salah satu contoh menarik. Petarung southpaw asal Thailand ini membangun reputasinya melalui sirkuit stadion domestik sebelum akhirnya menemukan panggung internasional di ONE Championship. Setelah sempat mengalami periode sulit di awal kiprahnya, ia bangkit dengan tiga kemenangan beruntun sepanjang 2025—termasuk dua kemenangan KO/TKO spektakuler—dan mengubah kembali arah kariernya. ONE sendiri menyebutnya sebagai salah satu petarung yang mengalami perkembangan paling signifikan menjelang 2026.
Ada beberapa hal yang perlu diluruskan dari profil awal. Gingsanglek bukan petarung bantamweight di ONE, melainkan bertanding di kelas flyweight Muay Thai, meskipun beberapa laga domestik atau catchweight membuat angka timbangannya berada di sekitar 61–65 kg. Data ONE mencatat rekor promosinya saat ini 4 kemenangan dan 5 kekalahan, dengan dua KO, satu TKO, dan satu kemenangan unanimous decision. Tingginya tercatat 165 cm, sementara data publik lain mencantumkan tanggal lahir 26 April 2001. Artinya, pada Agustus 2026 ia berusia 25 tahun. Ia dikenal dengan nama ring Gingsanglek Tor Laksong dan berafiliasi dengan Tor Laksong Gym.
Fondasi dari Sirkuit Muay Thai Thailand
Tidak banyak informasi terpercaya yang dipublikasikan mengenai kehidupan pribadi Gingsanglek, masa kecilnya, maupun secara spesifik kapan ia pertama kali tertarik pada bela diri. Karena itu, bagian tersebut sebaiknya tidak diisi dengan kisah dramatis yang tidak memiliki sumber. Yang jelas, ia sudah memiliki pengalaman panjang di sirkuit Muay Thai Thailand sejak usia muda. Catatan pertarungannya menunjukkan aktivitas di stadion-stadion besar seperti Rajadamnern dan Omnoi, menghadapi lawan-lawan berpengalaman jauh sebelum masuk ONE. Pada 2015 ia juga tercatat menerima penghargaan Siam Kela Young Fighter of the Year, sebuah pengakuan yang menunjukkan bahwa namanya telah diperhatikan sejak usia muda.
Salah satu pencapaian penting datang pada 2020, ketika Gingsanglek merebut gelar Omnoi Stadium 135 pounds setelah mengalahkan Phetmorakot Teeded99 melalui TKO ronde kedua pada 26 September. Ia kemudian mempertahankan sabuk tersebut dengan kemenangan angka atas Kongthoranee Sor Sommai pada April 2021. Catatan itu menjadi bukti bahwa sebelum tampil di panggung global, Gingsanglek telah ditempa oleh sistem kompetisi Muay Thai Thailand yang sangat kompetitif.
Langkah berikutnya datang melalui Rajadamnern World Series (RWS) pada 2022, sebelum akhirnya Gingsanglek melakukan debut ONE di ONE Friday Fights 6 pada 24 Februari 2023 menghadapi Kongthoranee. Debut tersebut berakhir kurang menyenangkan karena ia kalah KO pada ronde kedua. Kekalahan itu kemudian menjadi awal dari periode yang cukup berat. Ia kembali kalah dari Kongthoranee pada Juni 2023 dan kemudian ditumbangkan Joachim Ouraghi pada Januari 2024. Pada November 2024, Egor Bikrev juga menghentikannya melalui TKO ronde pertama. ONE mencatat bahwa dalam lima penampilan pertamanya di organisasi, Gingsanglek hanya memenangkan satu pertandingan.
Namun, titik baliknya sudah terlihat sejak penampilan awal. Pada ONE Friday Fights 14, April 2023, ia menghentikan Chorfah Tor Sangtiennoi melalui KO hanya 14 detik memasuki ronde kedua. Senjata utamanya adalah tendangan kiri yang digunakan untuk membuka pertahanan Chorfah sebelum dua tendangan kepala berturut-turut mengakhiri pertandingan. Penampilan tersebut bahkan membuatnya memperoleh Performance of the Night.
2025: Tahun Kebangkitan
Perubahan terbesar terjadi pada 2025. Pada ONE Friday Fights 115, Gingsanglek menghadapi Alexey Balyko dan menciptakan salah satu kemenangan paling spektakuler dalam kariernya. Hanya 53 detik setelah bel pembuka, ia melepaskan spinning backfist yang menjatuhkan petarung Rusia tersebut. Kemenangan itu bukan sekadar tambahan angka di rekor, tetapi menjadi simbol transformasi seorang petarung yang sebelumnya kesulitan menemukan ritme di ONE.
Momentum tersebut berlanjut pada ONE Friday Fights 120 ketika Gingsanglek menghadapi Thant Zin. Ia menjatuhkan lawannya tiga kali dalam 71 detik, memaksa wasit menghentikan pertandingan pada ronde pertama. Dua kemenangan beruntun melalui penyelesaian membuat kepercayaan dirinya kembali terlihat. Akhir tahun kemudian ditutup dengan kemenangan unanimous decision atas Suriyanlek Por Yenying di ONE Friday Fights 137. Dalam laga tersebut, Gingsanglek memperlihatkan sisi lain permainannya: bukan hanya mencari KO, tetapi mampu mengontrol pertarungan dengan kombinasi siku, tendangan kiri, serta pengaturan jarak.
Southpaw dengan Senjata Kiri yang Berbahaya
Gaya bertarung Gingsanglek sangat dipengaruhi posisi southpaw. Kaki dan tangan kirinya menjadi sumber serangan utama, terutama tendangan kiri ke tubuh dan kepala. ONE juga menyoroti bagaimana ia menggunakan tendangan kiri untuk mengatur tempo dan membuka ruang bagi serangan berikutnya. Spinning backfist yang menghancurkan Balyko menunjukkan bahwa ia juga memiliki kemampuan memanfaatkan momentum dan sudut serangan secara eksplosif.
Mentalitas kompetitifnya justru paling terlihat dari cara ia bangkit setelah periode buruk. Alih-alih terjebak dalam empat kekalahan pada lima penampilan awal ONE, ia mengembangkan pendekatan yang lebih agresif dan berorientasi pada penyelesaian. Ini sejalan dengan gambaran ONE mengenai dirinya sebagai petarung yang memiliki finish-first mentality. Meski detail program latihan hariannya tidak banyak dipublikasikan, latar belakangnya di Tor Laksong Gym dan pengalaman panjang di stadion Thailand memberi fondasi pada teknik, timing, conditioning, serta kemampuan membaca ritme lawan.
Perjalanan tersebut belum berakhir tanpa hambatan. Pada ONE Friday Fights 147, Maret 2026, Gingsanglek menghadapi veteran Yodlekpet Or Atchariya dan akhirnya kalah KO ronde ketiga. Kekalahan itu membuat rekor ONE-nya menjadi 4-5. Namun, angka tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan perkembangannya. Secara keseluruhan, ONE mencatat tiga kemenangan dari sembilan laga melalui penyelesaian, dengan tingkat penyelesaian 75 persen dari kemenangan, serta total durasi pertarungan 35 menit 47 detik.
Dengan pengalaman panjang di stadion Thailand, gelar Omnoi 135 lbs, penghargaan petarung muda terbaik, serta kebangkitan spektakuler pada 2025, Gingsanglek kini berada pada fase penting dalam kariernya. Ia bukan lagi sekadar prospek muda yang mencari tempat di ONE. Ia adalah southpaw berbahaya yang telah merasakan kekalahan, belajar dari tekanan level internasional, lalu menemukan kembali identitasnya sebagai striker agresif. Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa kebangkitan tersebut bukan sekadar satu tahun yang gemilang, melainkan fondasi untuk bertahan lebih lama di antara petarung terbaik Muay Thai dunia.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda