Joshua Van: Petarung Myanmar Yang Menaklukkan Dunia UFC

Piter Rudai 13/08/2026 4 min read
Joshua Van: Petarung Myanmar Yang Menaklukkan Dunia UFC

Jakarta – Di usia yang baru menginjak 24 tahun, Joshua Van telah menempatkan namanya di salah satu panggung paling bergengsi dalam dunia mixed martial arts. Lahir dengan nama Joshua Van Bawi Thawng pada 10 Oktober 2001 di Hakha, Chin State, Myanmar, Van kini dikenal sebagai “The Fearless” dan merupakan juara UFC Flyweight. Ia juga mencatat sejarah sebagai petarung kelahiran Myanmar pertama yang tampil di UFC. Data resmi UFC mencatat Van memiliki rekor profesional 17–2, dengan 9 kemenangan KO/TKO, 2 submission, dan 6 kemenangan melalui keputusan. Jadi, angka 19–2 yang sempat beredar sebenarnya keliru jika yang dimaksud adalah rekor profesional MMA—19 adalah jumlah total pertarungan yang sudah tercatat, bukan jumlah kemenangan.

Perjalanan Van menuju oktagon tidak lahir dari kehidupan yang mudah. Ketika masih kecil, keluarganya meninggalkan Myanmar dan sempat tinggal di Malaysia sebelum akhirnya pindah ke Houston, Texas, pada 2013. Masa adaptasi di Amerika Serikat tidak selalu berjalan mulus. Sebagai anak imigran yang belum sepenuhnya menguasai bahasa Inggris, Van menghadapi perundungan dan kerap terlibat perkelahian. Ironisnya, pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu pintu yang membawanya menuju dunia bela diri. Saat remaja, ia mulai mengenal UFC dan tertarik melihat bagaimana pertarungan yang tampak seperti perkelahian jalanan ternyata memiliki teknik, strategi, dan disiplin yang sangat kompleks.

Van mulai berlatih secara lebih serius setelah menemukan jalan menuju MMA. Ia pernah berlatih sendiri dengan meniru teknik dari video-video YouTube sebelum akhirnya bertemu pelatih Scotty Juarez. Kekalahan dalam latihan melawan Juarez menjadi pelajaran penting karena membuatnya sadar bahwa keberanian saja tidak cukup untuk menjadi petarung. Setelah itu, Van berkembang di Houston dan kemudian bergabung dengan 4oz Fight Club, gym yang dikelola veteran UFC Daniel Pineda. Di sanalah kemampuan striking, grappling, conditioning, dan pemahaman taktisnya berkembang hingga membawanya ke level profesional. Menariknya, Van mengatakan kepada UFC bahwa ia mulai berlatih bertarung pada usia 19 tahun terutama untuk menyalurkan sisi kompetitif dalam dirinya.

Van menjalani debut profesional pada 2021 dan berkompetisi di Fury Fighting Championship. Dalam periode tersebut, ia mengumpulkan rekor 7–1, dengan seluruh kemenangan diraih melalui finis. Puncaknya datang di Fury FC 72 pada Desember 2022 ketika ia mengalahkan Cleveland McLean melalui submission ronde kedua untuk merebut gelar Flyweight Fury FC. Prestasi tersebut menjadi batu loncatan penting menuju UFC. Tidak lama kemudian, kesempatan besar datang secara mendadak. Pada 24 Juni 2023, Van menjalani debut UFC menghadapi Zhalgas Zhumagulov dengan pemberitahuan singkat. Ia tidak gentar menghadapi pengalaman lawannya dan menang melalui split decision.

Setelah debut tersebut, Van mulai menunjukkan bahwa kemenangan pertamanya bukan kebetulan. Di UFC 295 pada November 2023, ia mengalahkan Kevin Borjas melalui unanimous decision. Dua bulan kemudian, ia menerima pertarungan melawan Felipe Bunes setelah masuk sebagai pengganti dan menyelesaikannya dengan TKO pada ronde kedua. Namun perjalanan Van sempat mengalami hambatan ketika ia dihentikan Charles Johnson melalui KO pada ronde ketiga pada Juli 2024. Kekalahan tersebut justru menjadi bagian penting dari proses pendewasaannya. Van kemudian bangkit dengan rentetan kemenangan atas Edgar Chairez, Cody Durden, Rei Tsuruya, Bruno Silva, dan Brandon Royval. Pada periode tersebut, ia memperlihatkan peningkatan dalam kemampuan mengontrol tempo sekaligus mempertahankan volume serangan tinggi.

Puncak transformasinya terjadi pada 2025. Setelah menang atas Royval melalui unanimous decision dan Bruno Silva melalui TKO, Van mendapatkan kesempatan menghadapi juara bertahan Alexandre Pantoja di UFC 323 pada 6 Desember 2025. Pertarungan tersebut berakhir hanya dalam 26 detik, tetapi ada detail penting yang perlu diluruskan: kemenangan Van secara resmi tercatat sebagai TKO akibat cedera lengan Pantoja, bukan KO melalui pukulan. Pantoja mengalami cedera ketika mencoba melakukan tendangan dan Van merespons dengan menangkap serta mendorong kakinya. Hasil tersebut membuat Van merebut sabuk UFC Flyweight dan menjadi petarung kelahiran 2000-an pertama yang memenangkan gelar UFC. Pada usia 24 tahun 57 hari, ia juga menjadi juara termuda kedua dalam sejarah UFC setelah Jon Jones.

Namun, sabuk tersebut belum sepenuhnya menghapus keraguan sebagian orang karena kemenangan atas Pantoja berakhir akibat cedera. Van kemudian memperoleh kesempatan sempurna untuk menjawab keraguan itu ketika menghadapi Tatsuro Taira di UFC 328 pada 9 Mei 2026. Taira memberikan ujian serius, termasuk melalui permainan grappling pada awal pertarungan. Van perlahan mengambil alih pertandingan dengan tekanan, striking, dan volume serangannya. Pada ronde kelima, serangkaian pukulan dan tendangan tubuh membuat wasit menghentikan pertandingan pada waktu 1:32, memastikan Van mempertahankan gelar. Pertarungan tersebut juga mendapatkan penghargaan Fight of the Night.

Secara gaya bertarung, Van merupakan petarung orthodox dengan pendekatan freestyle yang sangat mengandalkan tekanan dan volume. Statistik resmi UFC menunjukkan sekitar 87 persen significant strikes-nya berasal dari posisi berdiri, menggambarkan betapa pentingnya striking dalam permainannya. Ia mampu terus bergerak maju, memaksa lawan bekerja dalam tempo tinggi, sekaligus memiliki pertahanan grappling yang cukup kuat untuk keluar dari situasi clinch dan kembali ke jarak ideal. UFC mencatat rata-rata 8,43 significant strikes per menit dalam statistik terbarunya, dengan pertahanan takedown 76 persen. Ia juga telah memiliki blue belt Brazilian Jiu-Jitsu, sehingga permainannya tidak hanya bergantung pada pukulan.

Mentalitas mungkin menjadi senjata terbesar Van. Ia tidak melihat status juara sebagai sesuatu yang mengubah dirinya. Menjelang pertahanan gelar melawan Taira, Van mengatakan bahwa sejak awal ia sudah membayangkan dirinya sebagai juara dunia dan menganggap pertarungan tersebut sebagai pertarungan lain yang harus dimenangkan. Sikap itu menjelaskan mengapa kenaikan level kompetisinya berlangsung begitu cepat. Dari anak Myanmar yang berusaha beradaptasi di Houston, pekerja restoran, petarung Fury FC, hingga menjadi juara UFC, Van membangun kariernya dengan kombinasi keberanian, disiplin, tekanan tanpa henti, dan keyakinan yang nyaris tidak tergoyahkan. Kini, dengan rekor 17–2, 9 kemenangan KO/TKO, 2 submission, dan 6 keputusan, The Fearless bukan lagi sekadar prospek muda. Ia telah menjadi salah satu wajah baru paling menarik di divisi Flyweight UFC.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...