Deiveson Figueiredo: Dari Pulau Marajó Menuju Takhta UFC

Piter Rudai 27/08/2026 4 min read
Deiveson Figueiredo: Dari Pulau Marajó Menuju Takhta UFC

Jakarta – Di dunia MMA, perjalanan Deiveson Alcântara Figueiredo adalah kisah tentang kerja keras yang tumbuh jauh dari gemerlap arena. Lahir pada 18 Desember 1987 di Soure, Pará, Brasil, di Pulau Marajó, Figueiredo tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai penggembala kerbau dan juga mengenal luta marajoara, gulat tradisional khas wilayah tersebut. Sejak sekitar usia sembilan tahun, Deiveson mulai mengenal olahraga kontak melalui lingkungan keluarganya. Ketika pindah ke Belém saat remaja, ia menekuni capoeira sebelum pada usia 16 tahun mulai berlatih MMA bersama Iuri “Marajó” Alcântara.

Jalan menuju profesional tidak berlangsung mulus. Sebelum menjadi nama besar UFC, Figueiredo menjalani berbagai pekerjaan untuk bertahan hidup, termasuk bekerja di salon, menjadi tukang bangunan, pengemudi ojek motor, hingga koki sushi. Semua itu dijalani sembari tetap berlatih. Pengalaman tersebut membentuk mentalitasnya: bertarung bukan sekadar olahraga, melainkan jalan untuk memperbaiki kehidupan keluarga. Dalam profil UFC, ia menjelaskan bahwa dirinya telah bertarung sejak usia sembilan tahun dan menjadikan perjuangan di MMA sebagai cara membangun masa depan yang lebih baik bagi anaknya.

Figueiredo menjalani debut profesional pada Februari 2012 dan langsung menang melalui armbar pada ronde pertama. Ia kemudian membangun rekor impresif di sirkuit regional Brasil sebelum bergabung dengan UFC pada 2017. Debutnya di Octagon terjadi melawan Marco Beltrán pada UFC 212, dan Figueiredo menang melalui penghentian dari sudut ring setelah ronde kedua. Beberapa bulan kemudian, ia menghadapi Jarred Brooks dalam duel dua petarung tak terkalahkan. Setelah melewati tekanan wrestling Brooks dan melakukan sejumlah percobaan submission, Figueiredo meraih kemenangan split decision.

Namanya mulai benar-benar diperhitungkan setelah kemenangan atas John Moraga, Joseph Morales, dan Alexandre Pantoja. Kekalahan profesional pertamanya datang dari Jussier Formiga pada 2019 melalui keputusan mutlak. Namun, kekalahan itu justru menjadi bagian penting dari proses pendewasaan Figueiredo. Ia kembali dengan kemenangan atas Tim Elliott dan kemudian memperoleh kesempatan perebutan gelar kelas terbang. Pada Februari 2020, ia mengalahkan Joseph Benavidez melalui TKO, tetapi gagal merebut sabuk karena tidak memenuhi batas berat. Beberapa bulan kemudian, dalam duel ulang untuk gelar kosong, ia menyelesaikan Benavidez melalui rear-naked choke pada ronde pertama dan resmi menjadi juara kelas terbang UFC—petarung Brasil pertama yang merebut sabuk di divisi tersebut.

Era kejuaraannya kemudian identik dengan rivalitas epik melawan Brandon Moreno. Figueiredo mempertahankan sabuk dengan submission cepat atas Alex Perez, sebelum duel pertamanya dengan Moreno berakhir imbang setelah lima ronde. Pertemuan kedua pada 2021 berakhir dengan kekalahan Figueiredo melalui rear-naked choke. Namun, ia bangkit pada trilogi di UFC 270, mengalahkan Moreno lewat keputusan mutlak dan merebut kembali sabuk untuk menjadi juara UFC kelas terbang dua kali. Persiapan menghadapi pertarungan tersebut dilakukan bersama Fight Ready dan Henry Cejudo, memperlihatkan kesediaannya untuk terus memperkaya aspek wrestling, fisik, dan strategi. Pertemuan keempat di UFC 283 pada Januari 2023 berakhir pahit ketika dokter menghentikan laga akibat pembengkakan pada mata Figueiredo, sekaligus menutup saga empat pertandingan mereka.

Setelah era kelas terbang berakhir, Figueiredo naik ke bantamweight pada 2023. Perpindahan kelas itu menghasilkan babak baru: ia mengalahkan Rob Font melalui keputusan, kemudian menundukkan mantan juara Cody Garbrandt lewat rear-naked choke di UFC 300. Kemenangan atas Marlon Vera melalui keputusan mutlak juga menjadi momen penting karena Figueiredo menjadi petarung pertama yang mencatatkan knockdown atas Vera di UFC. Setelah itu, ia kalah dari Petr Yan dan Cory Sandhagen, sempat bangkit dengan kemenangan split decision atas Montel Jackson, lalu kembali kalah dari Umar Nurmagomedov. Pada Mei 2026, Song Yadong menaklukkannya lewat guillotine choke pada ronde kedua di UFC Macau.

Secara gaya, Figueiredo merupakan petarung yang menggabungkan dasar Brazilian jiu-jitsu, pengalaman gulat, capoeira, dan kemampuan boxing. Profil UFC mencatat boxing sebagai gaya striking favoritnya, sementara ia memiliki sembilan kemenangan KO dan sembilan kemenangan submission, dengan 11 kemenangan finis pada ronde pertama. Pendekatannya bukan hanya mengandalkan kekuatan, tetapi kemampuan berpindah dari striking ke clinch dan grappling secara cepat. Ia juga dikenal aktif mencari submission dan mampu menghasilkan serangan keras dari posisi yang tidak selalu menguntungkan.

Latihannya berkembang mengikuti kebutuhan karier. Setelah pernah berlatih bersama Team Alpha Male dan membangun Team Figueiredo sendiri, ia kemudian menjadikan Fight Ready di Arizona sebagai salah satu basis penting. Profil UFC mencatat pola latihan yang mencakup persiapan fisik, MMA, dan Muay Thai setiap hari. Filosofi kompetitifnya pun terlihat jelas: terus beradaptasi, memperbaiki kelemahan, dan tidak membiarkan satu kekalahan menentukan seluruh perjalanan.

Kini, dengan rekor profesional 25 kemenangan, 7 kekalahan, dan 1 hasil imbang, Figueiredo berada pada fase berbeda dalam kariernya. Ia bukan lagi petarung muda yang mengejar sabuk pertamanya, melainkan mantan juara dua kali yang harus membuktikan bahwa dirinya masih mampu bersaing di kelas bantam. UFC telah mencatat pertarungan berikutnya melawan Payton Talbott pada 3 Oktober 2026. Apa pun hasilnya, perjalanan “Deus da Guerra” telah meninggalkan jejak penting: dari anak Pulau Marajó, pekerja serabutan, hingga menjadi salah satu nama besar dalam sejarah kelas terbang UFC.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...