Marvin Vettori: The Italian Dream Di UFC

Piter Rudai 28/08/2026 4 min read
Marvin Vettori: The Italian Dream Di UFC

Jakarta – Marvin Vettori adalah salah satu petarung Italia paling penting dalam sejarah UFC. Lahir di Trento pada 20 September 1993 dan tumbuh di Mezzocorona, Italia, Vettori sejak remaja sudah tertarik pada olahraga tarung. Sepak bola sempat menjadi aktivitas pertamanya, tetapi ia berhenti sekitar usia 13 atau 14 tahun karena merasa olahraga tersebut bukan dunianya. Ketertarikannya terhadap bela diri semakin kuat ketika berusia 16 tahun setelah menyaksikan pertarungan Fedor Emelianenko di PRIDE. Sosok Fedor, Shogun Rua dan Wanderlei Silva membuatnya melihat MMA sebagai olahraga yang ingin ia jalani secara serius. Dari situlah lahir ambisi yang kelak membawanya ke panggung terbesar dunia.

Masalahnya, Italia saat itu belum memiliki ekosistem MMA yang matang, terutama di kota kecil tempat Vettori tumbuh. Ia harus bepergian dengan kereta ke berbagai tempat latihan untuk mempelajari disiplin yang berbeda. Pada usia 18 tahun, Vettori mengambil keputusan besar: meninggalkan Italia dan pindah ke London untuk berlatih di London Shootfighters. Kehidupan barunya jauh dari mudah. Ia pernah tidur di sofa selama empat hingga lima bulan, berkeliling London membawa CV untuk mencari pekerjaan, kemudian bekerja sebelum kembali ke gym. Jadwalnya sangat berat—bekerja hingga dini hari, tidur beberapa jam, lalu kembali berlatih. Namun, justru masa sulit tersebut membentuk disiplin dan mentalitas yang kemudian menjadi ciri khasnya.

Vettori menjalani debut profesional MMA pada 2012 ketika masih berusia 18 tahun dan kalah melalui unanimous decision dari Alessandro Grandis. Kekalahan tersebut tidak menghentikan langkahnya. Ia kemudian membangun karier di Eropa, termasuk bertarung di Ultimate Challenge MMA dan Venator FC. Di Venator, ia merebut gelar kelas menengah pada 2015. Setelah kemenangan atas Igor Araujo melalui submission pada Mei 2016, kesempatan menuju UFC akhirnya datang. Debutnya berlangsung di UFC 202 pada Agustus 2016 melawan Alberto Uda, dan Vettori langsung menang melalui guillotine choke pada ronde pertama. Sejak saat itu, ia menjadi bagian penting dari generasi petarung Italia yang membuka jalan lebih lebar bagi MMA negaranya.

Karier awalnya di UFC berjalan naik turun. Ia kalah dari Antonio Carlos Junior, menang atas Vitor Miranda, lalu bermain imbang melawan Omari Akhmedov. Salah satu titik penting datang pada April 2018 ketika ia menghadapi Israel Adesanya. Vettori memberikan perlawanan ketat dan akhirnya kalah melalui split decision. Pertemuan tersebut kelak berkembang menjadi salah satu rivalitas penting dalam perjalanan kariernya. Setelah kemenangan atas Cezar Ferreira, Andrew Sanchez dan Karl Roberson, Vettori menutup 2020 dengan kemenangan monumental atas Jack Hermansson melalui unanimous decision dalam pertarungan lima ronde. Kemenangan itu mengubah statusnya dari prospek menjadi penantang serius di kelas middleweight.

Pada 2021, Vettori semakin dekat dengan sabuk UFC. Ia mengalahkan Kevin Holland melalui keputusan mutlak setelah berkali-kali menjatuhkan lawannya, lalu mendapatkan kesempatan kedua menghadapi Adesanya untuk gelar middleweight di UFC 263. Kali ini hasilnya berbeda dari pertemuan pertama, tetapi tidak berpihak kepadanya: Adesanya menang melalui unanimous decision. Meski gagal menjadi juara, Vettori membuktikan bahwa dirinya mampu bertahan dalam pertarungan lima ronde melawan salah satu striker terbaik generasinya. Setelah itu ia mengalahkan Paulo Costa dalam pertarungan lima ronde yang berlangsung penuh drama pada Oktober 2021. Duel tersebut bahkan tercatat dalam buku rekor UFC sebagai salah satu pertarungan dengan volume significant strikes tertinggi.

Gaya bertarung Vettori dibangun di atas tekanan, daya tahan dan kemampuan grappling. Ia bukan petarung yang selalu mengejar KO spektakuler. Justru kekuatannya terlihat ketika pertandingan berlangsung panjang dan melelahkan. UFC mencatat sembilan kemenangan submission dalam kariernya, sementara rata-rata durasi pertarungannya mencapai 17 menit 9 detik, salah satu angka tertinggi di antara petarung UFC dengan jumlah pertandingan yang memenuhi kriteria statistik. Ia juga memiliki pertahanan takedown sekitar 69 persen. Di bawah pelatih Rafael Cordeiro di Kings MMA, Vettori mengembangkan perpaduan striking, wrestling dan Brazilian jiu-jitsu yang membuatnya mampu bertarung baik di jarak dekat maupun di lantai.

Mentalitas menjadi bagian terbesar dari identitasnya. Vettori pernah menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang harus terus mencari tantangan karena sejak awal tidak memiliki fasilitas MMA tingkat tinggi di kampung halamannya. Ia terbiasa membangun dirinya sendiri, berpindah tempat latihan dan berkorban ketika teman-teman seusianya menjalani kehidupan yang lebih normal. Bahkan ketika akhirnya mencapai level perebutan gelar, ambisinya tidak berubah. Pelatihnya, Rafael Cordeiro, pernah menilai ketangguhan mental Vettori sebagai salah satu keunggulan terbesarnya. Prinsipnya sederhana: kekalahan bukan alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses menjadi lebih kuat.

Dalam beberapa tahun terakhir, perjalanan Vettori menjadi semakin berat. Ia kalah dari Robert Whittaker pada 2022, kemudian mengalahkan Roman Dolidze pada 2023 sebelum takluk dari Jared Cannonier. Pada 2025, ia kembali menghadapi periode sulit setelah kalah dari Dolidze dalam rematch, Brendan Allen dan Brunno Ferreira. UFC saat ini mencatat rekor profesionalnya 19 kemenangan, 10 kekalahan dan satu hasil imbang (19-10-1), dengan sembilan kemenangan submission dan dua kemenangan KO/TKO. Meski hasil terakhirnya melawan Ferreira tercatat sebagai kekalahan dalam riwayat pertarungan UFC, halaman profil UFC saat ini menampilkan inkonsistensi pada label hasil pertandingan tersebut; riwayat resmi UFC dan sumber pemberitaan UFC sama-sama menunjukkan Ferreira memenangkan duel itu melalui keputusan mutlak.

Kini, pada usia 32 tahun, Vettori masih berada dalam kelas middleweight UFC dan belum menyerah mengejar kembali posisi elite. Ia dijadwalkan menghadapi Ismail Naurdiev pada 3 Oktober 2026. Perjalanan dari kota kecil di Trentino, tidur di sofa London, bekerja sambil berlatih, hingga menjadi penantang gelar UFC membuat julukan The Italian Dream terasa lebih dari sekadar nama panggung. Vettori mungkin belum pernah mengenakan sabuk UFC, tetapi kariernya telah membuktikan satu hal: dalam olahraga yang penuh ketidakpastian, kemampuan untuk terus bangkit setelah pukulan terbesar sering kali menjadi pencapaian tersendiri.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...