Jakarta – Di dunia Muay Thai Thailand, nama besar tidak lahir dalam semalam. Di balik setiap petarung elite terdapat ribuan jam latihan, ratusan pertandingan, perjalanan panjang dari satu stadion ke stadion lainnya, serta mentalitas untuk terus bangkit ketika kemenangan tidak lagi datang dengan mudah. Ferrari Fairtex adalah salah satu contoh paling menarik dari perjalanan tersebut. Lahir dengan nama Kittiphop Mueangphrom pada 1 Agustus 1997, petarung asal Surat Thani ini tumbuh menjadi salah satu striker Thailand yang paling diperhitungkan sebelum akhirnya membawa kemampuannya ke panggung global ONE Championship.
Ferrari mulai mengenal Muay Thai sejak masih sangat muda. Seperti banyak nak muay Thailand lainnya, ring menjadi bagian dari kehidupannya jauh sebelum ia dikenal publik. Perjalanan panjang di sirkuit domestik kemudian membentuk karakter bertarungnya. Ferrari tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi berkembang sebagai petarung yang mampu membaca permainan lawan, mengontrol jarak, serta memilih momen untuk menyerang. Reputasinya semakin besar setelah tampil di stadion-stadion paling bergengsi Thailand, termasuk Lumpinee dan Rajadamnern. Ia kemudian meraih gelar Channel 7 Stadium dan menjadikan dirinya salah satu nama penting dalam generasinya.
Puncak awal karier domestiknya datang pada 2021. Ferrari dinobatkan sebagai Sports Writers Association Fighter of the Year, sebuah penghargaan bergengsi yang menunjukkan betapa tingginya penilaian terhadap performanya di Thailand. Setahun sebelumnya, ia juga telah mengukir pengalaman internasional melalui Kejuaraan Dunia IFMA 2019 dan membawa pulang medali perunggu di kelas 63,5 kilogram. Catatan tersebut memperlihatkan bahwa Ferrari bukan sekadar petarung yang populer di stadion lokal, melainkan atlet yang telah ditempa oleh kompetisi tingkat tinggi.
Perjalanan Ferrari kemudian memasuki babak baru ketika ia bergabung dengan Fairtex Training Center di Pattaya. Sasana tersebut merupakan salah satu pusat Muay Thai paling terkenal di dunia dan menjadi tempat berkembangnya sejumlah bintang ONE Championship. Di lingkungan itu Ferrari semakin mengasah kemampuan striking-nya. Tradisi latihan Muay Thai Thailand berpadu dengan tuntutan kompetisi internasional membuatnya harus mempertajam teknik, ketahanan fisik, disiplin, dan kemampuan beradaptasi. Semua pengalaman tersebut menjadi bekal ketika kesempatan tampil di ONE Championship akhirnya datang.
Debutnya di ONE berlangsung pada 29 September 2022 di ONE 161 melawan mantan penantang gelar dunia Han Zi Hao. Pertarungan tersebut berlangsung dalam kelas featherweight Muay Thai, bukan bantamweight seperti kelas yang kini lebih identik dengannya. Ferrari tampil tenang menghadapi pengalaman Han. Ia menggunakan jab dan tendangan dorong untuk menjaga jarak, kemudian meningkatkan tekanan pada ronde kedua dan ketiga. Kemampuannya menghindari serangan sekaligus memberikan balasan membuat Ferrari memenangkan pertarungan melalui keputusan mutlak. Debut tersebut langsung menunjukkan bahwa ia bukan sekadar prospek, tetapi petarung yang siap bersaing di panggung internasional.
Namun, perjalanan di ONE tidak berjalan tanpa hambatan. Ferrari mengalami kekalahan dari Fabio Reis pada ONE Friday Fights 4 dan kemudian menghadapi periode yang menuntut kemampuan mentalnya. Ia berhasil membalikkan keadaan dengan membangun empat kemenangan beruntun di ONE. Rangkaian tersebut mencapai salah satu titik penting ketika ia mengalahkan Mavlud Tupiev dalam laga utama ONE Friday Fights 56 pada Maret 2024. Ferrari mampu mengatasi agresivitas Tupiev selama tiga ronde dan memperpanjang kemenangan beruntunnya menjadi empat laga.
Setelah itu, Ferrari kembali merasakan kerasnya persaingan elite. Ia kalah dari Dmitrii Kovtun pada 2024 dan kemudian menghadapi Kiamran Nabati di ONE Friday Fights 95 pada Januari 2025. Nabati sempat menghentikannya pada ronde pertama, tetapi hasil tersebut kemudian diubah menjadi no contest setelah hasil tes doping pascapertandingan. Periode tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam perjalanan Ferrari di ONE. Ia harus menghadapi bukan hanya persaingan di dalam ring, tetapi juga periode sulit dalam kariernya.
Ferrari kemudian menunjukkan bahwa pengalaman dan mentalitas kompetitif masih menjadi kekuatan utamanya. Pada ONE Fight Night 44, 26 Juni 2026, ia kembali tampil di kelas bantamweight Muay Thai menghadapi veteran Jepang Shinji Suzuki. Kali ini Ferrari tampil dengan pendekatan yang lebih agresif. Straight right menjadi senjata penting sejak ronde pertama, sementara pada ronde kedua ia memanfaatkan clinch untuk melancarkan lutut dan siku. Tendangan tubuh turut digunakan untuk menjaga Suzuki tetap berada dalam tekanan. Setelah tiga ronde, Ferrari dinyatakan menang melalui keputusan mutlak. ONE mencatat kemenangan tersebut membuat rekor all-striking Ferrari menjadi 138-34.
Gaya bertarung Ferrari pada dasarnya mencerminkan pendidikan panjangnya sebagai nak muay Thailand. Ia mampu bertarung dari jarak jauh melalui jab dan tendangan, tetapi juga nyaman ketika pertandingan berubah menjadi pertarungan jarak dekat melalui clinch, lutut dan siku. Yang menarik, ia tidak selalu membutuhkan volume serangan yang berlebihan. Kecerdasannya dalam membaca lawan, memilih timing dan mengubah ritme menjadi bagian penting dari permainannya. Karena itu, pengalaman ratusan pertandingan justru menjadi salah satu senjata terbesarnya: ia tahu kapan harus menekan dan kapan harus mengendalikan pertandingan.
Untuk urusan rekor, angka harus dibaca dengan hati-hati. ONE menyebut rekor all-striking Ferrari menjadi 138 kemenangan dan 34 kekalahan setelah laga melawan Suzuki, sementara halaman profil ONE mencatat rekornya khusus di ONE sebagai 6 kemenangan dan 4 kekalahan dalam 11 laga, dengan satu hasil yang tidak masuk sebagai kemenangan atau kekalahan. Perbedaan ini terjadi karena kategori dan metode pencatatan pertandingan berbeda. Yang jelas, Ferrari telah menjalani karier yang sangat panjang sebelum memasuki panggung global.
Kini, pada usia 29 tahun, Ferrari memasuki fase baru. Setelah kembali menang dalam Muay Thai, ia dijadwalkan menghadapi Akif Guluzada pada 4 September 2026 di The Inner Circle 29 dalam pertandingan bantamweight kickboxing. Laga tersebut menjadi debut Ferrari dalam kickboxing di ONE. Tantangan ini memperlihatkan bahwa perjalanan Ferrari belum selesai. Dari stadion-stadion Thailand, masa sulit di ONE, hingga kesempatan mencoba disiplin baru, kariernya terus berkembang. Ferrari Fairtex bukan hanya tentang jumlah kemenangan, tetapi tentang kemampuan seorang petarung veteran untuk beradaptasi dan tetap menemukan jalan kembali menuju puncak.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda