Jakarta – Di antara nama-nama muda yang mulai mencuri perhatian di ONE Championship, Jordan “Panda Kick” Estupinan memiliki kisah yang tidak biasa. Bersama saudara kembarnya, Johan Estupinan, ia tumbuh di Kolombia dalam lingkungan panti asuhan sebelum akhirnya menemukan jalan hidup melalui olahraga tarung. Keduanya kemudian berkembang menjadi talenta Muay Thai yang menarik perhatian dunia. Bagi Jordan, perjalanan menuju panggung internasional bukan sekadar tentang mengejar kemenangan, tetapi juga usaha membangun identitas dan membawa nama Kolombia semakin dikenal di dunia Muay Thai. ONE Championship menyebut Estupinan bersaudara sebagai salah satu kisah keluarga paling menarik dalam organisasinya.
Sejak muda, Jordan dan Johan dikenal sebagai anak-anak yang sangat aktif. Mereka tidak hanya berlatih bela diri, tetapi juga pernah menekuni breakdance dan parkour. Kebiasaan tersebut ikut membentuk karakter atletiknya: lincah, eksplosif, berani mencoba gerakan tidak biasa, dan memiliki koordinasi tubuh yang sangat baik. Unsur tersebut kemudian terlihat jelas dalam gaya bertarung Jordan. Ia bukan tipikal striker yang hanya berdiri di depan lawan dan bertukar pukulan. Gerakannya penuh perubahan sudut, tendangan, tekanan maju, serta serangan yang datang dari arah yang sulit ditebak. Bersama Johan, ia juga menjalani latihan secara berdampingan. Jordan pernah menjelaskan bahwa mereka selalu berlatih bersama dan perkembangan salah satu saudara ikut mendorong perkembangan yang lain.
Karier profesional Jordan berkembang cepat hingga akhirnya ia memasuki ONE Championship dengan reputasi sebagai prospek tak terkalahkan. Debutnya terjadi pada ONE 170, 24 Januari 2025, menghadapi petarung Inggris Freddie Haggerty dalam pertarungan flyweight Muay Thai. Debut itu langsung menjadi pernyataan. Jordan menggunakan tendangan sebagai senjata pembuka sekaligus alat untuk mengganggu ritme lawan. Pada ronde kedua, ia menemukan celah ketika Haggerty masuk dengan pukulan dan membalas menggunakan tangan kanan keras yang menjatuhkan sang petarung Inggris. Haggerty mampu bangkit, tetapi kembali dijatuhkan sebelum Jordan akhirnya mengamankan kemenangan melalui keputusan mutlak. Hasil tersebut membuat rekor profesionalnya menjadi 8-0.
Kemenangan atas Haggerty bukan kebetulan. Pada penampilan keduanya di ONE Fight Night 31 pada Mei 2025, Jordan menghadapi Ali Saldoev, striker Rusia yang dikenal memiliki pukulan berbahaya. Estupinan kembali memperlihatkan tekanan konstan dan volume serangan tinggi. Ia tidak memberikan banyak kesempatan bagi lawan untuk mengatur tempo dan akhirnya memenangkan pertarungan melalui keputusan mutlak. Kemenangan tersebut membawa catatannya menjadi 9-0 dan semakin mengukuhkan reputasinya sebagai salah satu prospek muda paling menarik di divisi flyweight Muay Thai.
Namun, perjalanan menuju puncak tidak selalu lurus. Pada September 2025, Jordan menghadapi Hyu Iwata dalam pertandingan yang awalnya diproyeksikan sebagai duel dua striker tak terkalahkan. Pertarungan tersebut berlangsung dalam aturan kickboxing, berbeda dari dua kemenangan sebelumnya di ONE yang menggunakan Muay Thai. Hyu akhirnya menghentikan Estupinan melalui TKO pada ronde ketiga. Kekalahan itu menjadi noda pertama dalam karier profesional Jordan dan mengakhiri rekor sempurnanya. Pergantian disiplin juga menjadi ujian tersendiri karena kickboxing menuntut penyesuaian strategi, terutama dalam penggunaan teknik dan ritme serangan.
Jordan kemudian mendapatkan kesempatan bangkit menghadapi salah satu ujian paling berat dalam karier mudanya, Aslamjon Ortikov. Pertemuan tersebut sempat dijadwalkan pada ONE Fight Night 42, tetapi Jordan harus mundur karena cedera. Pertarungan akhirnya terlaksana di ONE Fight Night 43 pada 15 Mei 2026 di Lumpinee Stadium, Bangkok. Ortikov yang ketika itu masih belum terkalahkan tampil sangat efektif. Setelah ronde pertama yang relatif seimbang, petarung Uzbekistan tersebut meningkatkan akurasi dan tekanan. Pada ronde kedua, Ortikov menjatuhkan Jordan tiga kali sebelum wasit menghentikan pertandingan pada menit 2:06. Kekalahan itu membuat rekor profesional Jordan menjadi 9-2.
Meski dua kekalahan beruntun menghentikan momentumnya, karakter Jordan justru terlihat dari bagaimana ia merespons kemunduran tersebut. Ia tetap dikenal sebagai petarung yang mengandalkan keberanian, kreativitas dan tekanan tanpa henti. ONE menggambarkan gaya bertarungnya sebagai agresif, atraktif, dan nyaris tidak pernah bertarung sambil mundur. Julukan “Panda Kick” juga menggambarkan identitas striking-nya yang tidak konvensional. Ia gemar memadukan pukulan dengan tendangan, mengubah ritme secara cepat, serta menggunakan gerakan eksplosif untuk membuat lawan sulit membaca serangan berikutnya.
Dalam latihan, Jordan juga mendapatkan keuntungan dari lingkungan yang sangat kompetitif. Ia berlatih bersama Team CSK dan Team JC Fernandez, sementara pengalaman bertahun-tahun berlatih bersama Johan membuat keduanya saling menjadi partner sekaligus tolok ukur. Mentalitasnya sederhana tetapi agresif: maju, memaksa lawan bereaksi, lalu menyerang ketika celah terbuka. Sebelum bergabung dengan ONE, ia sudah membangun gaya tersebut di level profesional, sementara panggung global memaksanya menambahkan kedewasaan taktik dan kemampuan beradaptasi.
Saat ini Jordan berada pada fase penting dalam kariernya. Dengan rekor profesional 9-2 dan catatan 2-2 di ONE Championship, ia belum menjadi juara, tetapi masih berusia 23 tahun dan memiliki waktu panjang untuk berkembang. Setelah dua kekalahan beruntun, ia dijadwalkan kembali bertarung pada ONE Fight Night 47, 4 September 2026 waktu Bangkok, menghadapi Jaosuayai Mor Krungthepthonburi dalam laga flyweight Muay Thai. Pertandingan tersebut menjadi kesempatan untuk mengembalikan momentum sekaligus membuktikan bahwa kekalahan dari Hyu dan Ortikov hanyalah bagian dari proses menuju level yang lebih tinggi.
Jordan Estupinan mungkin belum memiliki sabuk juara dunia, tetapi kisahnya sudah menunjukkan sesuatu yang lebih fundamental: keberanian untuk bermimpi dari keadaan yang jauh dari ideal. Dari panti asuhan di Kolombia, latihan bersama saudara kembarnya, hingga tampil di Lumpinee Stadium, jalannya dibangun oleh kecepatan, kreativitas dan keberanian. Ia datang ke ONE bukan sekadar untuk menjadi “saudara kembar Johan Estupinan”, melainkan untuk menciptakan namanya sendiri. Jika ia mampu mengubah dua kekalahan terakhir menjadi pelajaran, “Panda Kick” masih memiliki peluang besar untuk berkembang dari prospek menarik menjadi salah satu bintang utama Muay Thai dunia.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda