Jakarta – Di kelas heavyweight, ukuran tubuh sering menjadi senjata pertama. Namun bagi Alexander Volkov, tinggi badan hanyalah salah satu bagian dari persenjataan yang jauh lebih lengkap. Dengan tinggi sekitar 201 cm dengan jangkauan 203 cm, petarung Rusia berjuluk “Drago” ini dikenal sebagai heavyweight yang mampu menggabungkan jarak, teknik striking, pengalaman panjang, dan kemampuan grappling. Hingga September 2026, Volkov masih menjadi salah satu nama teratas divisi heavyweight UFC dengan rekor profesional 40 kemenangan dan 11 kekalahan, termasuk 24 kemenangan KO/TKO dan empat kemenangan submission.
Lahir di Moskow pada 24 Oktober 1988, Volkov sudah mengenal olahraga sejak kecil. Ia mulai berlatih karate dan mendapatkan sabuk pertamanya ketika baru berusia sembilan tahun. Basis awalnya kemudian berkembang melalui berbagai disiplin, terutama Ashihara dan Kyokushin Karate, sebelum ia memperluas kemampuannya ke pankration dan Brazilian Jiu-Jitsu. Di level amatir, ia pernah menjadi juara Ashihara Karate Moskow dan tiga kali menjadi juara pankration Moskow. Menariknya, perjalanan Volkov tidak langsung diarahkan menjadi atlet profesional. Ia menyelesaikan pendidikan di Bauman Moscow State Technical University pada 2011 dengan gelar teknik, tetapi pada akhirnya memilih pertarungan sebagai jalan hidupnya.
Karier profesional Volkov dimulai pada 2009. Ia tampil di panggung M-1 Global dan dengan cepat menunjukkan bahwa tubuh besarnya bukan sekadar atribut fisik. Dua kemenangan awalnya diraih melalui TKO dalam waktu sangat singkat, sebelum ia mengalami kekalahan profesional pertamanya melalui armbar. Salah satu titik penting dalam periode awal datang ketika ia menghadapi Ibragim Magomedov pada 2009. Sebagai petarung muda yang belum terlalu dikenal, Volkov justru mampu memenangkan pertarungan tiga ronde tersebut melalui keputusan mutlak. Pengalaman itu menjadi salah satu momen yang membuatnya semakin yakin untuk serius menekuni karier profesional.
Nama Volkov kemudian semakin besar ketika ia memasuki Bellator. Pada 2012, ia memenangkan turnamen heavyweight Bellator dan merebut gelar kelas berat organisasi tersebut. Ia kehilangan sabuk ketika dikalahkan Vitaly Minakov pada 2013, tetapi tidak berhenti di sana. Pada 2014, Volkov kembali memenangkan turnamen heavyweight Bellator. Setelah sempat mengalami dua kekalahan pada 2015, ia kembali ke M-1 Global dan merebut gelar heavyweight pada Februari 2016 dengan mengalahkan Denis Smoldarev melalui triangle choke. Beberapa bulan kemudian, ia mempertahankan gelar dengan kemenangan KO atas Attila Végh. Rangkaian prestasi tersebut akhirnya membuka jalan menuju UFC.
Volkov menjalani debut UFC pada November 2016 dengan kemenangan split decision atas Tim Johnson. Setelah itu, ia membangun rentetan kemenangan atas nama-nama seperti Roy Nelson dan Stefan Struve sebelum menghasilkan salah satu kemenangan terbesar pada fase awal UFC-nya: KO atas mantan juara heavyweight UFC, Fabricio Werdum, pada Maret 2018. Namun, perjalanan menuju papan atas tidak selalu berjalan mulus. Pada UFC 229, Volkov sebenarnya mengendalikan sebagian besar pertarungan melawan Derrick Lewis, tetapi justru terkena serangan penentu pada detik-detik terakhir ronde ketiga. Kekalahan dramatis itu menjadi salah satu contoh betapa berbahayanya kelas heavyweight.
Volkov kemudian berkembang menjadi salah satu veteran paling konsisten di UFC. Ia menaklukkan Walt Harris, Alistair Overeem, Jairzinho Rozenstruik, Alexandr Romanov, dan Tai Tuivasa. Kemenangan atas Tuivasa pada 2023 bahkan berakhir melalui Ezekiel choke, memperlihatkan bahwa kemampuan Volkov tidak hanya bergantung pada pukulan dan tendangan. Pada 2024, ia mengalahkan Sergei Pavlovich melalui keputusan mutlak, sebelum kalah tipis dari Ciryl Gane melalui split decision. Ia bangkit pada 2025 dengan mengalahkan Jailton Almeida melalui keputusan split, lalu mengalahkan Waldo Cortes Acosta dengan keputusan mutlak pada UFC 328, 9 Mei 2026. Kemenangan terakhir tersebut membuat rekornya menjadi 40-11 dan mempertahankannya di posisi No. 2 ranking heavyweight UFC.
Gaya bertarung Volkov sangat dipengaruhi oleh keunggulan fisiknya. Ia mampu menjaga lawan tetap berada di ujung jangkauan dengan jab, straight, front kick, dan tendangan dari jarak jauh. Namun, pengalaman panjang membuatnya semakin nyaman mencampurkan striking dengan clinch dan grappling. UFC mencatat 24 kemenangan KO/TKO, empat submission, serta 17 kemenangan melalui penyelesaian pada ronde pertama. Ia sendiri menyebut high kick sebagai teknik striking favorit dan triangle choke sebagai teknik grappling favoritnya.
Di luar teknik, filosofi Volkov menunjukkan sisi yang lebih tenang. Ia tidak melihat pertarungan sekadar sebagai adu kekuatan, melainkan sebagai proses menguji diri dan terus berkembang. Ia menghormati petarung yang mampu menggabungkan kekuatan, kecerdasan, dan disiplin—bukan sekadar maju menyerang tanpa perhitungan. Pola pikir itu tercermin dalam metode latihannya: teknik, cardio, dan sparring dilakukan pada pagi hari, sedangkan sesi malam lebih banyak digunakan untuk latihan kekuatan.
Perjalanan Volkov pada akhirnya bukan hanya tentang menjadi heavyweight bertubuh raksasa. Ia adalah contoh petarung yang terus berevolusi sejak debut profesional pada 2009. Dari karate, M-1, Bellator, hingga menjadi veteran papan atas UFC, Volkov melewati kemenangan, kekalahan dramatis, perubahan gaya, dan generasi lawan yang terus berganti. Pada usia 37 tahun, ia masih berada di antara elite heavyweight dunia. Dan mungkin itulah kekuatan terbesar “Drago”: bukan sekadar kemampuan untuk menang, tetapi kemauan untuk terus belajar setelah hampir dua dekade hidup di dunia pertarungan.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda