Jakarta – Menit ke-85 dalam laga final Piala Dunia 1990 di Stadio Olimpico, Roma, menyajikan salah satu momen paling menegangkan dalam sejarah sepak bola. Ketegangan membumbung tinggi di udara ketika wasit menunjuk titik putih untuk Jerman Barat saat menghadapi juara bertahan Argentina. Di bawah mistar gawang Argentina berdiri Sergio Goycochea, seorang kiper yang dikenal sebagai spesialis penggagal penalti sepanjang turnamen tersebut. Tekanan luar biasa membeban di pundak pemain yang maju mengambil eksekusi. Pemain itu bukan striker haus gol atau gelandang kreatif utama, melainkan seorang bek sayap bernama Andreas Brehme.
Hal yang membuat momen ini abadi dalam sejarah bukan hanya keberanian Brehme mengeksekusi penalti krusial tersebut, melainkan fakta mengenai kaki yang digunakannya. Brehme dikenal secara luas sebagai pemain berkaki kiri alami dengan umpan silang dan tembakan melengkung yang sangat mematikan. Namun, saat berdiri di hadapan Goycochea dalam momen paling menentukan sepanjang kariernya, ia melangkah dan melepaskan tembakan mendatar yang presisi ke pojok kiri bawah gawang menggunakan kaki kanannya. Bola meluncur deras tanpa sanggup dijangkau Goycochea, memastikan Jerman Barat meraih gelar juara dunia ketiga mereka.
Momen di Roma itu merangkum seluruh keistimewaan Andreas Brehme sebagai pesepak bola. Ia adalah sosok pemain yang menggabungkan ketenangan mental tingkat tinggi, kecerdasan taktis, dan kemampuan langka berupa kemampuan menggunakan kedua kaki sama baiknya. Dalam era di mana bek sayap umumnya hanya bertugas bertahan dan menyapu bola, Brehme tampil sebagai pionir bek modern yang menjadi motor serangan dari lini belakang.
Fondasi Kaki Kembar dari Hamburg
Keahlian langka Brehme dalam mengolah bola dengan kedua kakinya tidak lahir begitu saja secara alami, melainkan ditempa melalui latihan keras sejak masa kecil. Lahir di Hamburg pada 9 November 1960, Andreas tumbuh di bawah bimbingan ayahnya, Bernd Brehme, yang juga merupakan seorang pelatih lokal. Ayahnya menanamkan disiplin ketat dan memaksa Andreas kecil untuk melatih kaki kanannya dengan porsi yang sama banyaknya seperti kaki kirinya. Di lapangan latihan klub lokal HSV Barmbek-Uhlenhorst, Andreas menghabiskan waktu berjam-jam menembak dan mengumpan ke dinding menggunakan kedua kakinya secara bergantian.
Latihan keras tersebut membentuk fleksibilitas taktis yang luar biasa. Ketika menembus sepak bola profesional bersama 1. FC Saarbruecken dan kemudian pindah ke 1. FC Kaiserslautern pada tahun 1981, Brehme langsung mencuri perhatian para penikmat Bundesliga. Ia mampu bermain sebagai bek kiri, bek kanan, wing-back, hingga gelandang bertahan tanpa mengalami penurunan kualitas sedikit pun. Lawan tidak pernah bisa menebak ke arah mana ia akan mengecoh atau dengan kaki mana ia akan melepaskan umpan silang. Kemampuannya mengeksekusi bola mati dengan kedua kaki membuat situasi bola mati yang didapat timnya selalu menjadi ancaman mematikan bagi pertahanan lawan.
Puncak Karier di Bayern Munich dan Inter Milan
Penampilan konsisten Brehme di Kaiserslautern membuatnya diboyong oleh klub raksasa Bayern Munich pada tahun 1986. Di bawah arahan pelatih Udo Lattek, Brehme langsung mempersembahkan gelar juara Bundesliga pada musim pertamanya dan membawa Bayern melangkah hingga ke partai final Piala Champions 1987. Keberadaannya di sisi kiri pertahanan memberikan dimensi baru dalam skema penyerangan Bayern, di mana ia sering kali berfungsi sebagai playmaker terselubung dari area belakang.
Namun, periode paling gemilang dalam karier klub Brehme terjadi ketika ia memutuskan merantau ke Italia untuk bergabung dengan Inter Milan pada tahun 1988. Di Serie A, yang saat itu ditasbiskan sebagai liga paling ketat dan kompetitif di dunia, Brehme bergabung bersama kompatriotnya, Lothar Matthaeus, dan kelak disusul oleh Juergen Klinsmann. Kombinasi trio Jerman ini menjadi tulang punggung kejayaan Nerazzurri.
Di bawah asuhan pelatih taktis Giovanni Trapattoni, Brehme menjelma menjadi bek sayap paling lengkap di Eropa. Pada musim perdana Brehme, Inter Milan mendominasi Serie A dan merengkuh gelar Scudetto musim 1988/1989 dengan rekor poin tertinggi dalam format dua poin per kemenangan. Trapattoni memberi kebebasan bagi Brehme untuk naik membantu serangan karena ia tahu Brehme memiliki ketahanan fisik luar biasa untuk kembali menutupi ruang bertahan. Bersama Inter, Brehme juga berhasil mengangkat trofi Piala UEFA pada tahun 1991 setelah mengalahkan Roma di partai puncak.
Panggung Keagungan di Italia 1990
Puncak mahakarya perjalanan karier Andreas Brehme terukir manis di panggung Piala Dunia 1990. Tim nasional Jerman Barat yang ditangani oleh legenda Franz Beckenbauer tampil sangat dominan sepanjang turnamen, dan Brehme menjadi figur sentral di balik kesuksesan tersebut. Sepanjang turnamen, ia tidak hanya solid dalam menggalang pertahanan, tetapi juga menjadi penentu dalam laga-laga krusial.
Pada babak 16 besar melawan Belanda, Brehme mencetak gol indah lewat sepakan melengkung kaki kiri dari dalam kotak penalti yang memastikan kemenangan Jerman Barat. Di babak semifinal menghadapi Inggris, tembakan bebas jarak jauh Brehme berbelok arah dan membobol gawang Peter Shilton, sebelum ia kembali menunjukkan ketenangannya dalam adu penalti yang memuluskan langkah Jerman Barat ke final.
Puncaknya terjadi pada partai final di Roma. Keputusannya mengambil penalti dengan kaki kanan, padahal ia baru saja mencetak gol dengan kaki kiri di laga sebelumnya, membingungkan barisan pertahanan dan kiper lawan. Franz Beckenbauer bahkan pernah berseloroh dengan mengatakan bahwa ia telah mengenal Brehme selama puluhan tahun namun tetap tidak pernah tahu pasti kaki mana yang sebenarnya menjadi kaki dominannya. Keberhasilan menuntaskan tugas tersebut mengukuhkan nama Brehme dalam daftar abadi pahlawan olahraga Jerman.
Penutup Karier Penuh Dongeng di Kaiserslautern
Setelah petualangannya di Italia dan masa singkat bersama Real Zaragoza di Spanyol, Brehme memilih pulang ke klub yang membesarkan namanya, 1. FC Kaiserslautern, pada tahun 1993. Momen-momen akhir kariernya di Kaiserslautern menghadirkan drama emosional yang mirip dengan naskah film.
Pada musim 1995/1996, Kaiserslautern mengalami tragedi memilukan ketika terdegradasi dari Bundesliga untuk pertama kalinya dalam sejarah klub. Tangisan Brehme di pelukan sahabatnya, Lothar Matthaeus, seusai laga terakhir musim itu menjadi gambaran betapa besarnya cinta Brehme pada klub tersebut. Hanya seminggu setelah peristiwa menyedihkan itu, Brehme memimpin Kaiserslautern menjuarai DFB-Pokal, memberikan secercah harapan di tengah kepedihan.
Alih-alih hengkang mencari klub divisi utama, Brehme memilih bertahan di Divisi Dua untuk membawa Kaiserslautern bangkit. Keputusannya terbayar tuntas. Di bawah kepemimpinan pelatih Otto Rehhagel dan kepemimpinan Brehme di lapangan, Kaiserslautern tidak hanya berhasil promosi kembali ke Bundesliga pada tahun 1997, tetapi juga langsung menjuarai Bundesliga pada musim 1997/1998 sebagai tim promosi. Sebuah pencapaian luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sepak bola Jerman. Keberhasilan menjuarai Bundesliga tahun 1998 menjadi panggung perpisahan yang sempurna bagi Brehme sebelum ia memutuskan pensiun dari lapangan hijau.
Warisan Abadi Sang Pelopor Bek Modern
Kabar duka menyelimuti dunia sepak bola ketika Andreas Brehme berpulang pada Februari 2024 di usia 63 tahun. Kepergiannya meninggalkan kenangan mendalam bagi seluruh pecinta sepak bola di seluruh dunia. Brehme bukan sekadar pemenang Piala Dunia atau pengoleksi berbagai trofi bergengsi. Ia adalah seorang inovator yang mendefinisikan ulang peran bek sayap dalam permainan sepak bola.
Atribut fisiknya yang kuat, visi bermain yang tajam, eksekusi bola mati yang akurat, serta kemampuan dua kaki yang seimbang membuat Brehme menjadi standar emas bagi setiap pemain bertahan modern. Nama Andreas Brehme akan selalu dikenang bukan hanya karena ketenangannya saat mengeksekusi penalti di Stadion Olimpico Roma, melainkan juga karena dedikasi, kerendahan hati, dan keajaiban yang selalu ia hadirkan setiap kali kakinya menyentuh bola.
(EA/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda