Akram Hamidi, “La Pépite”: Petarung Muay Thai Dari Prancis

Piter Rudai 17/09/2026 4 min read
Akram Hamidi, “La Pépite”: Petarung Muay Thai Dari Prancis

Jakarta – Di tengah derasnya talenta Muay Thai dan kickboxing dari Thailand, nama Akram Hamidi muncul dari jalur yang berbeda. Lahir di Strasbourg, Prancis, pada 4 Januari 1999, Hamidi tumbuh sebagai petarung Prancis-Aljazair yang membangun reputasinya dari panggung Eropa sebelum akhirnya menembus ONE Championship. Dijuluki “La Pépite”, atau “permata”, ia dikenal sebagai striker bertubuh relatif kecil namun memiliki kecepatan tangan dan daya ledak yang membuat lawan harus selalu waspada. Data yang tersedia mencatat tinggi sekitar 168 cm dan berat bertarung sekitar 55–56,7 kg, dengan gaya orthodox dan basis latihan di Team Valente/Elite Boxing 67, di bawah pelatih Steeve Valente. ONE sendiri menggambarkannya sebagai salah satu talenta Muay Thai terbaik yang muncul dari Aljazair dalam beberapa tahun terakhir.

Ketertarikannya pada olahraga tarung bermula ketika masih sangat muda. Hamidi mulai berlatih sekitar usia 13 tahun, setelah menemukan sebuah gym di dekat rumahnya. Dari sana, latihan yang awalnya menjadi aktivitas fisik berkembang menjadi jalan hidup. Ia kemudian menonjol di level junior Eropa dan mengambil langkah ke dunia profesional ketika baru berusia 17 tahun. Perjalanan tersebut menunjukkan karakter yang kemudian menjadi ciri khasnya: berani mengambil tantangan lebih cepat daripada kebanyakan petarung muda dan tidak takut keluar dari zona nyaman. Di lingkungan Strasbourg, ia ditempa dalam kultur gym yang menuntut disiplin, repetisi teknik, kondisi fisik, serta kemampuan beradaptasi terhadap lawan dengan karakter berbeda.

Fondasi karier Hamidi mulai terlihat melalui keberhasilannya merebut AFMT Bantamweight Championship pada 2017. Setahun kemudian, ia memenangkan gelar WKN European Bantamweight setelah menghentikan Samuele Andolina pada ronde kedua. Tahun 2019 menjadi periode penting karena Hamidi menambahkan WBC Muaythai International Bantamweight Championship setelah mengalahkan Frederico Cordeiro melalui keputusan mutlak. Tidak lama berselang, ia merebut ISKA World K-1 Flyweight Championship dengan kemenangan KO ronde kedua atas Sandro Martin. Dua gelar dunia ISKA lainnya kemudian melengkapi reputasinya sebagai salah satu striker muda paling berbahaya di kelas sekitar 55 kilogram.

Perjalanan menuju panggung internasional tidak selalu berjalan mulus. Salah satu pengalaman penting datang ketika Hamidi menghadapi Yoshiki Takei dalam K-1 World Grand Prix 2018 di Jepang. Ia mengalami kekalahan melalui TKO pada ronde pertama. Kekalahan tersebut menjadi bagian penting dari proses pendewasaannya sebagai petarung. Alih-alih berhenti, Hamidi terus mengembangkan karier di Eropa, menghadapi lawan-lawan dari berbagai negara dan memperkaya pengalamannya. Ia juga sempat mencoba tinju profesional pada 2022 dan memenangkan debutnya atas Jean-Christophe Gomis melalui unanimous decision. Eksperimen tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan tangannya memang menjadi salah satu fondasi utama permainannya.

Kesempatan terbesar datang pada 2023 ketika Hamidi akhirnya memasuki ONE Championship melalui ONE Friday Fights 22. Lawannya adalah Jomhod Eminentair, dan Hamidi langsung memberikan pernyataan keras. Ia menghentikan Jomhod pada ronde kedua melalui pukulan hook kiri ke tubuh—sebuah penyelesaian yang kemudian menjadi salah satu gambaran paling jelas mengenai gaya bertarungnya. ONE mencatat kecepatan tangan serta serangan ke badan sebagai dua senjata utama Hamidi, sementara instingnya untuk mencari penyelesaian membuatnya sangat berbahaya ketika menemukan celah. Kemenangan tersebut bahkan memberinya Performance of the Night.

Namun, level ONE segera memberikan ujian yang jauh lebih berat. Pada ONE Friday Fights 34, Hamidi berhadapan dengan Prajanchai PK Saenchai, salah satu nama elite di divisi tersebut. Pertandingan berlangsung di bawah aturan kickboxing dan Hamidi akhirnya kalah melalui keputusan mutlak. Kekalahan itu justru memperlihatkan bahwa ia mampu bertahan dan beradu teknik dengan juara dunia ONE. Ia kemudian bangkit pada 2024 dengan kemenangan TKO ronde pertama atas Kongchai Chanaidonmueang, sebelum menghadapi legenda Muay Thai Sam-A Gaiyanghadao pada September tahun yang sama. Kali ini Hamidi dihentikan KO pada ronde pertama. Catatan resmi ONE saat ini mencatat rekor Hamidi di organisasi tersebut sebagai 2 kemenangan dan 2 kekalahan.

Secara gaya, Hamidi adalah petarung yang mengandalkan tekanan, kecepatan tangan, kombinasi hook, dan pukulan ke tubuh. Ia tidak membutuhkan banyak ruang untuk menciptakan ancaman karena serangannya dapat muncul dalam rangkaian pendek dan eksplosif. Tubuh lawan menjadi sasaran penting, seperti terlihat saat menghadapi Jomhod. Mentalitasnya juga tampak jelas dari keberaniannya menerima tantangan melawan nama-nama besar. Kekalahan dari Prajanchai dan Sam-A menunjukkan batas yang harus ia lampaui, tetapi pengalaman menghadapi dua mantan atau juara dunia ONE tersebut juga menjadi modal berharga. Metode latihannya bersama Team Valente dan Elite Boxing 67 pada dasarnya berorientasi pada pengulangan teknik, kecepatan, ketahanan fisik, serta kemampuan mempertahankan tekanan ketika tempo pertandingan meningkat.

Pada akhirnya, perjalanan Akram Hamidi bukan sekadar cerita tentang jumlah kemenangan atau koleksi sabuk. Ia adalah kisah seorang petarung Strasbourg yang membangun dirinya dari level junior, menjadi juara Eropa dan dunia di berbagai organisasi, kemudian memaksa masuk ke radar ONE Championship. Data publik yang paling konsisten saat ini mencatat rekor ONE 2–2, sementara angka keseluruhan 55–6 dengan 21 KO yang sering beredar tidak dapat diverifikasi secara meyakinkan dari catatan yang tersedia. Demikian pula, laga melawan Watcharaphon Laochokcharoen di ONE Friday Fights 164 pada 31 Juli 2026 memang terjadwal sebagai pertarungan utama, tetapi sumber yang tersedia belum memberikan hasil resmi yang dapat dipastikan.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...