Jakarta – Bagi Austin Bashi, bela diri bukan sekadar profesi yang datang ketika dewasa. Sejak masih kecil, ia sudah membayangkan dirinya menjadi juara UFC. Lahir pada 29 September 2001 di Amerika Serikat dan tumbuh di West Bloomfield, Michigan, Bashi membangun fondasi kariernya melalui gulat sebelum memperluas kemampuannya ke Muay Thai dan Brazilian Jiu-Jitsu. Ia kemudian menjadi dua kali All-State wrestler, dua kali juara nasional Muay Thai, serta meraih gelar juara dunia IBJJF No-Gi ketika masih berstatus brown belt sebelum mendapat sabuk hitam BJJ. Kombinasi tersebut membentuk identitas Bashi sebagai petarung yang sejak awal ditempa untuk menjadi mixed martial artist lengkap.
Ketertarikannya terhadap pertarungan berkembang menjadi rutinitas hidup sejak usia sekitar delapan tahun. Alih-alih memandang latihan sebagai sekadar persiapan pertandingan, Bashi menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia bahkan pernah menggambarkan dirinya bisa menghabiskan delapan hingga sembilan jam sehari di gym, dengan keyakinan bahwa kepercayaan diri seorang petarung harus dibangun melalui persiapan. Di Warrior Way Martial Arts di Michigan, ia mengembangkan permainan yang menggabungkan dasar gulat dengan kontrol dan submission BJJ serta kemampuan striking dari Muay Thai. Filosofinya sederhana tetapi keras: semakin sering berlatih dan menghadapi lawan sulit, semakin siap dirinya ketika berada di level tertinggi.
Bashi memulai karier profesional pada 2020 dan memilih jalur regional yang menuntutnya menghadapi lawan-lawan tangguh sejak dini. Ia tampil di XFC, Shamrock Fighting Championships, dan kemudian Lights Out Championship. Kemenangan demi kemenangan membuat namanya semakin diperhitungkan. Ia merebut gelar kelas bantam Shamrock FC dan Lights Out Championship, sekaligus menunjukkan kemampuan menyelesaikan pertarungan melalui striking maupun submission. Salah satu kemenangan paling penting terjadi pada September 2023 ketika ia mempertahankan gelar Lights Out dengan mengalahkan Askar Askar melalui rear-naked choke pada ronde kedua. Bashi tidak hanya memenangkan pertarungan tersebut, tetapi memperlihatkan mentalitasnya: ia tetap mengejar takedown meskipun percobaan awal gagal. Bagi Bashi, tekanan bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan kondisi yang justru menguji siapa dirinya sebagai petarung.
Momentum terbesar datang pada Dana White’s Contender Series pada 3 September 2024. Menghadapi Dorian Ramos, Bashi memperlihatkan permainan grappling yang menjadi salah satu senjata utamanya dan mengakhiri laga melalui rear-naked choke pada ronde kedua menit 3:15. Kemenangan tersebut memberinya kontrak UFC. Menariknya, Bashi tidak melihat pertarungan itu sebagai sekadar kesempatan untuk menang. Ia memahami bahwa Contender Series menuntut kemenangan yang meyakinkan karena seorang petarung harus menunjukkan bahwa dirinya layak berada di UFC. Ketika memasuki panggung UFC, ia sudah membawa rekor sempurna 13-0, hasil dari pengalaman panjang di level regional.
Debutnya di UFC berlangsung pada 11 Januari 2025 menghadapi Christian Rodriguez. Pertarungan tersebut menjadi ujian besar karena Rodriguez dikenal sebagai lawan yang mampu menghentikan sejumlah prospek tak terkalahkan. Bashi akhirnya mengalami kekalahan pertama dalam karier profesionalnya melalui keputusan mutlak setelah tiga ronde. Namun, kekalahan itu tidak membuatnya keluar dari jalur. Pada penampilan berikutnya, 2 Agustus 2025, ia bangkit dengan performa dominan melawan John Yannis. Bashi langsung membawa pertarungan ke wilayah grappling, mengambil punggung lawan, lalu mengunci rear-naked choke pada ronde pertama menit 3:39—sekaligus mencatat kemenangan UFC pertamanya.
Perjalanan di UFC kemudian kembali menghadirkan tantangan. Pada 18 Juli 2026, Bashi menghadapi Jose Miguel Delgado dan kalah melalui keputusan mutlak setelah tiga ronde. Hasil tersebut membuat rekor profesionalnya kini menjadi 14-2, dengan 3 kemenangan KO/TKO, 6 submission, dan 5 kemenangan melalui keputusan. Ia bertarung di kelas featherweight (145 pound/65,8 kg), memiliki tinggi sekitar 168 cm dengan jangkauan 70 inci. Secara statistik, enam dari 14 kemenangan profesionalnya datang melalui submission, mempertegas reputasinya sebagai grappler berbahaya. UFC juga mencatat enam kemenangan submission dan empat kemenangan finis pada ronde pertama dalam keseluruhan kariernya.
Secara gaya bertarung, Bashi adalah petarung yang tidak terpaku pada satu jalur. Dasar gulat membuatnya nyaman menekan lawan, mencari takedown berulang kali, mengontrol posisi, lalu berpindah ke punggung untuk memburu submission. Namun, kemampuan Muay Thai membuat ancamannya tidak berhenti ketika pertarungan berdiri. Head kick menjadi salah satu teknik striking favoritnya, sementara RNC adalah senjata grappling yang paling sering ia gunakan. Mentalitasnya pun sangat kompetitif: ia menyukai aktivitas tinggi, tidak takut menghadapi lawan sulit, dan menganggap tekanan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.
Kini, di usia 25 tahun, Bashi berada pada fase penting dalam kariernya. Rekor 14-2 menunjukkan bahwa ia masih memiliki ruang besar untuk berkembang, terutama setelah merasakan dua kekalahan pertamanya di UFC. Tantangan berikutnya sudah menanti: ia dijadwalkan menghadapi Lucas Brennan pada 7 November 2026 di UFC Fight Night: Bonfim vs. Brady. Bagi Bashi, perjalanan dari matras gulat, gelar regional, hingga Octagon belum selesai. Justru setelah merasakan kemenangan dan kekalahan di UFC, babak sebenarnya dari kariernya mulai terbuka.
Catatan fakta: Rekor dan statistik di atas disesuaikan dengan data terbaru hingga 8 Oktober 2026, terutama dari profil resmi UFC dan riwayat pertandingan Sherdog. Ada perbedaan kecil pada beberapa basis data mengenai tahun awal karier profesional, tetapi profil resmi UFC mencatat Bashi sebagai profesional sejak 2020, selaras dengan riwayat pertandingannya yang dimulai pada November 2020.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda