Jakarta – Bagi Billy Elekana, MMA bukan sekadar olahraga yang dipilih sejak kecil. Perjalanannya justru lahir dari sebuah titik balik dalam hidup. Petarung berdarah Samoa yang lahir di Victorville, California, pada 28 Mei 1995 ini mulai berlatih MMA pada 2017, setelah pulih dari insiden penusukan. Saat berada di rumah sakit, Elekana memutuskan untuk mengubah arah hidupnya dan menjadikan pertarungan sebagai jalan baru. Sebelum serius menekuni MMA, ia sempat mengenal pertarungan melalui backyard boxing dan perkelahian jalanan. Kini, ia dikenal dengan julukan “Son of Susie”, berlatih di Uprising MMA dan Porrada Training Center, serta membawa motivasi yang sangat personal: keluarga dan ketiga anaknya.
Elekana tidak langsung memasuki dunia profesional. Ia lebih dahulu membangun pengalaman di level amatir, dengan catatan yang dilaporkan UFC sebesar 6-1, sekaligus memenangkan dua gelar amatir. Ia juga mengembangkan kemampuan Brazilian jiu-jitsu hingga mencapai sabuk ungu di bawah Marcelo Nunes. Pengalaman tersebut menjadi fondasi bagi gaya bertarungnya yang tidak hanya mengandalkan kemampuan berdiri. Setelah beralih profesional pada 2021, Elekana mengawali karier dengan kemenangan atas Ravon Baxter melalui rear-naked choke pada ronde kedua. Ia kemudian mengalahkan Starling Simmons lewat TKO pada ronde pertama.
Kariernya berkembang melalui LFA, tempat ia mengalahkan Jeff Nielsen dan Kohlman Scribner sebelum mengalami kekalahan profesional pertama dari Daniel Compton melalui split decision pada Juli 2022. Alih-alih menjadi penghambat, kekalahan tersebut menjadi bagian dari proses pendewasaan. Elekana kemudian naik ke PFL, bertanding di kelas light heavyweight 205 pound. Ia menang atas Tristan Overvig dan Chuck Campbell, sebelum kembali meraih kemenangan lewat TKO atas Jureall Simmons di Lights Out Xtreme Fighting pada Juli 2024. Rangkaian hasil tersebut membawanya semakin dekat dengan panggung terbesar MMA dunia.
Kesempatan itu datang pada UFC 311, 18 Januari 2025. Elekana menerima pertarungan melawan Bogdan Guskov dalam waktu singkat setelah lawan Guskov sebelumnya mundur. Debutnya berakhir dengan kekalahan melalui guillotine choke pada ronde kedua. Namun, justru pertandingan tersebut ia anggap sebagai salah satu pertarungan paling penting dalam kariernya. Menurut Elekana, debut UFC memberinya gambaran nyata mengenai level kompetisi tertinggi dan apa yang harus diperbaiki. Ia kemudian merespons dengan kemenangan atas Ibo Aslan melalui keputusan mutlak pada Juli 2025, sebelum mengalahkan Kevin Christian melalui rear-naked choke pada ronde pertama November 2025.
Momentum itu berlanjut pada UFC 325, 31 Januari 2026, ketika Elekana menghadapi sesama petarung berdarah Samoa, Junior Tafa. Ia menunjukkan ketenangan dan kemampuan grappling dengan mengamankan kemenangan melalui rear-naked choke pada ronde kedua. Hasil tersebut membuatnya mencatat tiga kemenangan UFC secara beruntun setelah kekalahan pada debut. Hingga pembaruan terakhir, Elekana memiliki rekor profesional 10-2-0, terdiri dari 3 kemenangan KO/TKO, 3 submission, dan 4 kemenangan melalui keputusan. Dengan kata lain, enam dari sepuluh kemenangan profesionalnya berakhir sebelum bel terakhir. Ia bertanding di kelas light heavyweight (205 pound/sekitar 93 kg) dengan tinggi sekitar 188 cm dan reach 77 inci.
Di dalam oktagon, Elekana memiliki pendekatan yang adaptif. Ia mengaku tidak terlalu terpaku pada skenario yang dibuat sebelum pertarungan. Menurutnya, ketika pertarungan dimulai, ia akan membaca situasi dan merespons berdasarkan apa yang diberikan lawan. Dalam salah satu kamp pelatihannya, ia secara khusus menyebut fokus pada movement dan grappling, dengan konsep “hit and move”. Kemampuannya terlihat dari perpaduan pukulan, tendangan, pergerakan, dan transisi ke grappling. PFL juga mencatat bagaimana ia menggunakan low kick, front kick, hook, knee, serta mampu bertahan ketika lawan mencoba melakukan takedown.
Di balik gaya bertarung tersebut terdapat mentalitas yang sangat personal. Elekana mengatakan bahwa motivasinya bukan semata-mata sabuk juara atau uang, melainkan keluarga yang ia bangun dan keinginan memberikan segalanya kepada anak-anaknya. Ia juga membawa identitas Samoan sebagai bagian dari dirinya setiap kali masuk ke oktagon. Dengan perjalanan yang bermula dari masa sulit, berkembang melalui sirkuit regional, PFL, hingga UFC, Elekana menjadi gambaran tentang petarung yang membangun karier bukan melalui jalan yang lurus, melainkan melalui kemampuan untuk bangkit setiap kali mendapat pukulan balik. Kini, dengan rekor 10-2 dan tiga kemenangan UFC beruntun, perjalanan “Son of Susie” masih jauh dari selesai.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda