Wang Junguang: Dari Shaolin Ke Panggung Kickboxing Dunia

Piter Rudai • 13/10/2026 • 4 min read
Wang Junguang: Dari Shaolin Ke Panggung Kickboxing Dunia

Jakarta – Dalam dunia kickboxing, keberanian menyerang saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang petarung elite. Dibutuhkan disiplin, kemampuan membaca lawan, dan ketahanan mental untuk bertahan di tengah pertarungan berintensitas tinggi. Wang Junguang, petarung asal Henan, Tiongkok, membangun namanya melalui perpaduan tradisi bela diri Tiongkok dan kickboxing modern. Dijuluki “Golden Boy”, ia dikenal karena gaya bertarung agresif, kombinasi pukulan eksplosif, serta keberaniannya menghadapi nama-nama besar di ONE Championship dan K-1.

Perjalanan Wang memiliki awal yang berbeda dari banyak petarung profesional lainnya. Menurut profil resmi ONE Championship, ayahnya mengirim Wang ke Kuil Shaolin ketika masih kecil untuk mempelajari kung fu tradisional. Pengalaman tersebut menjadi fondasi awal perjalanan bela dirinya. Seiring bertambahnya usia, ia mengembangkan kemampuannya menuju olahraga tarung kompetitif dan mulai membangun karier melalui berbagai promotor di Tiongkok. Peralihan dari kung fu tradisional menuju kickboxing membutuhkan penyesuaian, terutama dalam menghadapi lawan yang terbiasa bertukar serangan dengan tempo cepat dan strategi yang berbeda.

Wang kemudian mengasah kemampuannya melalui kompetisi profesional, termasuk di ajang WLF dan Glory of Heroes. Ia juga berlatih bersama Tianjin A Fu Fight Club/CFP, sebagaimana tercantum dalam profil K-1. Pada Agustus 2019, ia merebut gelar juara dunia Enfusion kelas 57 kilogram setelah mengalahkan Jorge Varela melalui knockout. Pencapaian tersebut menjadi salah satu tonggak penting yang membuka jalan menuju kompetisi internasional yang lebih besar.

Menembus ONE Championship dan Menghadapi Legenda

Pada Oktober 2019, Wang menjalani debutnya di ONE Championship dengan menghadapi Federico Roma. Ia langsung mencuri perhatian setelah menang melalui TKO pada ronde pertama. Serangan beruntun dan kemampuannya memanfaatkan celah pertahanan lawan memperlihatkan karakter ofensif yang menjadi ciri khasnya. Kemenangan tersebut mengantarkannya ke kesempatan besar: perebutan gelar perdana ONE Strawweight Kickboxing World Championship melawan legenda Thailand, Sam-A Gaiyanghadao, pada Desember 2019.

Menghadapi Sam-A menjadi ujian paling penting pada fase awal karier internasionalnya. Wang tampil agresif dan berusaha meningkatkan tempo untuk mengimbangi pengalaman lawannya. Namun, Sam-A mampu membaca serangan, memanfaatkan tendangan cepat, serta melancarkan serangan balasan yang efektif. Setelah lima ronde, Wang kalah melalui keputusan mutlak. Meski gagal menjadi juara, penampilannya menunjukkan bahwa ia mampu bersaing dengan petarung kelas dunia.

Pada November 2020, Wang menghadapi Aslanbek Zikreev dalam laga utama ONE: Inside the Matrix IV. Pertarungan berlangsung ketat, tetapi Wang kembali mengalami kekalahan melalui keputusan terbelah. Dua kekalahan tersebut memperlihatkan tantangan yang harus dihadapinya: agresivitas dan daya serang perlu diimbangi pengelolaan ritme, pertahanan, serta konsistensi sepanjang ronde.

Tantangan di K-1 dan Karakter Bertarung

Wang juga menguji kemampuannya di Jepang melalui K-1. Pada September 2017, ia menghadapi Takeru Segawa, salah satu nama besar kickboxing Jepang, dan kalah melalui keputusan juri. Pada Agustus 2022, ia kembali berkompetisi di turnamen kelas featherweight K-1. Wang mengalahkan Takahito Niimi pada perempat final, kemudian kalah dari Tora dalam semifinal sehingga finis di posisi ketiga. Pada Desember tahun yang sama, ia menghadapi Taito Gunji dan kembali kalah melalui keputusan juri.

Gaya bertarung Wang bertumpu pada tekanan maju, kombinasi pukulan cepat, dan upaya memaksa lawan bertukar serangan. Ia juga mampu mengubah posisi ketika lawan mulai membaca ritmenya. Dalam wawancara dengan ONE Championship, Wang menjelaskan pendekatannya menghadapi Sam-A: meningkatkan tempo, memanfaatkan kebugaran, dan mencari celah untuk menghentikan lawan. Pendekatan tersebut menggambarkan mentalitas kompetitifnya yang berorientasi pada kemenangan, meskipun menghadapi petarung dengan pengalaman lebih besar.

Wang juga dikenal menjalani kehidupan yang berpusat pada latihan dan karier bela diri. ONE Championship pernah menampilkan kisah pengorbanannya untuk mengejar prestasi, termasuk disiplin latihan dan upayanya menghindari gangguan di luar olahraga. Meski rincian lengkap program latihan hariannya tidak dipublikasikan, kebutuhan mempertahankan stamina, daya ledak, ketepatan pukulan, dan kemampuan bertahan jelas menjadi bagian penting persiapannya.

Rekor, Kelas Bertanding, dan Peluang Berikutnya

Wang bertanding terutama di kelas strawweight kickboxing ONE Championship, dengan batas berat 125 pon atau sekitar 56,7 kilogram. Ia juga berkompetisi di kelas 57–58 kilogram dalam berbagai ajang internasional. Profil resmi K-1 mencatat rekor 28 kemenangan, tujuh kekalahan, dan satu hasil imbang dari 36 pertarungan, serta mencantumkan gelar juara dunia Enfusion kelas 57 kilogram dan posisi ketiga turnamen dunia K-1 2022. Angka tersebut merupakan catatan pada profil K-1, bukan jaminan rekor keseluruhan terbarunya.

Kini, Wang mendapat kesempatan kembali menonjol di ONE Championship. Ia dijadwalkan menghadapi Prajanchai Pongsuphan PK dalam pertarungan kickboxing kelas strawweight pada 16 Oktober 2026 di Lumpinee Stadium, Bangkok. Pertandingan tersebut belum berlangsung per 12 Oktober 2026. Duel ini menjadi kesempatan bagi Wang untuk membuktikan bahwa pengalaman, agresivitas, dan kemampuannya beradaptasi masih dapat membawanya bersaing di panggung elite.

Perjalanan Wang Junguang menunjukkan bahwa bakat dan keberanian saja tidak cukup untuk meraih gelar dunia. Dari latihan kung fu di Shaolin hingga persaingan melawan para juara internasional, ia terus menghadapi tantangan yang menguji teknik dan mentalitasnya. Julukan Golden Boy bukan sekadar gambaran gaya bertarungnya yang atraktif, melainkan simbol perjalanan panjang seorang petarung Tiongkok yang masih berusaha mewujudkan ambisinya di panggung dunia.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...