Jakarta – Di dunia Muay Thai, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan pukulan, tetapi juga ketepatan teknik, kecerdasan membaca lawan, dan ketenangan mengambil keputusan. Prinsip tersebut tercermin dalam perjalanan Prajanchai Pongsuphan PK, petarung Thailand yang membangun reputasi melalui pengalaman panjang di arena domestik sebelum menaklukkan panggung internasional ONE Championship. Dengan pengalaman ratusan pertarungan profesional, ia dikenal sebagai striker teknis yang mampu beradaptasi dalam Muay Thai maupun kickboxing.
Dari Arena Thailand Menuju Profesional
Prajanchai berasal dari Bangkok, Thailand, negara yang memiliki tradisi Muay Thai kuat. Informasi terperinci mengenai kehidupan keluarganya dan awal ketertarikannya terhadap bela diri masih terbatas dalam sumber publik. Namun, perjalanan kariernya memperlihatkan bagaimana pengalaman kompetitif sejak usia muda membentuk kemampuan dan mentalitasnya sebagai petarung profesional.
Sebelum dikenal secara internasional, Prajanchai telah menjalani ratusan pertarungan di berbagai arena Thailand. Ia meraih prestasi di stadion-stadion bergengsi, termasuk Lumpinee dan Rajadamnern, yang dikenal sebagai pusat persaingan Muay Thai. Pengalaman tersebut membantunya mengembangkan kemampuan mengatur jarak, membaca pergerakan lawan, dan memilih serangan secara efektif. Bekal inilah yang kemudian menjadi modal penting ketika ia memasuki kompetisi global.
Debut ONE Championship dan Perjalanan Menuju Gelar
Karier internasional Prajanchai mencapai titik penting pada Juli 2021 ketika ia menghadapi legenda Thailand, Sam-A Gaiyanghadao, di ajang ONE: Battleground. Pertarungan tersebut memperebutkan gelar Juara Dunia ONE Strawweight Muay Thai. Prajanchai tampil meyakinkan dan menang melalui keputusan mayoritas juri, sekaligus merebut gelar dunia pertamanya di ONE Championship.
Namun, mempertahankan sabuk terbukti menjadi tantangan tersendiri. Pada Mei 2022, ia menghadapi Joseph Lasiri dalam pertarungan penyatuan gelar. Kali ini, Prajanchai kalah melalui keputusan juri setelah lima ronde. Kekalahan tersebut mengakhiri masa pemerintahannya sebagai juara dan menjadi ujian penting bagi kariernya.
Prajanchai tidak membiarkan hasil tersebut menghentikan langkahnya. Pada Juni 2023, ia kembali menghadapi Sam-A dalam perebutan gelar interim di ONE Friday Fights 22. Ia menang melalui knockout pada ronde kedua. Kemenangan itu memperlihatkan kemampuannya menyelesaikan pertarungan secara agresif tanpa meninggalkan ketepatan teknik yang menjadi ciri khasnya.
Pada Desember 2023, Prajanchai kembali berhadapan dengan Lasiri dalam laga ulang di ONE Friday Fights 46. Kali ini, ia menang melalui knockout pada ronde pertama dan menyatukan gelar dunia strawweight Muay Thai. Hasil tersebut sekaligus menjadi pembalasan atas kekalahannya pada tahun sebelumnya.
Menaklukkan Muay Thai dan Kickboxing
Pada Juni 2024, Prajanchai memperluas pencapaiannya dengan menghadapi Jonathan Di Bella untuk memperebutkan gelar Juara Dunia ONE Strawweight Kickboxing. Ia menang melalui keputusan angka mutlak setelah lima ronde dan merebut sabuk dunia kedua dalam disiplin berbeda.
Keberhasilan tersebut menunjukkan kemampuannya menyesuaikan gaya bertarung dengan aturan kickboxing. Jika Muay Thai mengizinkan penggunaan siku dan teknik clinch, kickboxing memiliki batasan tersendiri terhadap sejumlah teknik tersebut. Prajanchai harus mengoptimalkan kombinasi pukulan, tendangan, pergerakan kaki, dan pengaturan jarak.
Pada Februari 2025, ia kembali menunjukkan ketajamannya dengan mengalahkan Ellis Badr Barboza melalui TKO pada ronde keempat dalam pertarungan Muay Thai. Meski demikian, persaingan dengan Di Bella belum berakhir. Dalam pertandingan ulang pada Oktober 2025, Prajanchai kalah melalui keputusan angka mutlak dan kehilangan gelar kickboxing. Kekalahan tersebut menegaskan bahwa mempertahankan posisi puncak membutuhkan evaluasi dan penyesuaian strategi secara berkelanjutan.
Gaya Bertarung dan Mentalitas Kompetitif
Kekuatan utama Prajanchai terletak pada kombinasi teknik, kecepatan, presisi, dan pertahanan yang disiplin. Ia mampu membaca respons lawan, mengatur jarak, serta melancarkan kombinasi pukulan dan tendangan dengan efisien. Pengalamannya menghadapi beragam lawan juga mendukung kemampuannya mengenali momentum untuk menyerang maupun bertahan.
Mentalitas kompetitifnya tercermin dalam keberhasilannya bangkit setelah kehilangan gelar pada 2022. Alih-alih berhenti pada kekalahan, ia kembali merebut gelar melalui kemenangan knockout. Meskipun rincian program latihan harian dan filosofi pribadi yang disampaikan langsung olehnya tidak tersedia secara lengkap, tuntutan kariernya menunjukkan pentingnya latihan teknik, sparring, kebugaran, dan penyesuaian taktik.
Prajanchai terutama bertanding di kelas strawweight Muay Thai dan kickboxing ONE Championship. Hingga Oktober 2025, catatan pertarungannya di ONE mencakup tujuh kemenangan dan dua kekalahan. Angka tersebut hanya menggambarkan rekor di ONE, bukan keseluruhan rekam jejak profesionalnya yang mencakup ratusan pertarungan.
Perjalanan Prajanchai Pongsuphan PK memperlihatkan bahwa kejayaan tidak hanya dibangun melalui kemenangan, tetapi juga kemampuan bangkit dan beradaptasi. Dari arena legendaris Thailand hingga persaingan dunia, ia membuktikan dirinya sebagai petarung berpengalaman yang terus menguji kemampuan dalam dua disiplin striking berbeda.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda