Jakarta – Lakhdar Belloumi berdiri tegak di tengah lapangan dengan bola di bawah telapak kakinya, menatap pertahanan lawan yang rapat, lalu mengirimkan umpan menerobos yang melengkung sempurna tanpa melihat arah bola. Adegan seperti itu bukan sekadar momen acak dalam pertandingan, melainkan mahakarya seni sepak bola yang berulang kali dipertunjukkan oleh sang maestro. Dalam sejarah panjang sepak bola Afrika dan Dunia Arab, sangat sedikit pemain yang mampu menggabungkan keanggunan, kecerdasan taktis, dan visi bermain sejernih Belloumi. Lahir pada 29 Desember 1958 di Mascara, Aljazair, Belloumi bertumbuh menjadi simbol kejayaan, kebanggaan nasional, serta seniman terbaik yang pernah dilahirkan oleh benua Afrika.
Perjalanan Belloumi menuju panggung dunia dimulai dari jalanan dan lapangan lokal di tanah kelahirannya, Mascara. Sejak usia muda, bakat alaminya sudah sangat kentara. Ia tidak hanya mengandalkan kecepatan atau kekuatan fisik, melainkan kecerdasan di atas rata-rata yang membuatnya mampu membaca alur pertandingan beberapa detik lebih cepat dibanding pemain lain. Karier profesionalnya melesat ketika ia membela klub lokal GC Mascara dan kemudian memperkuat MP Oran (sekarang MC Oran). Bersama klub-klub lokal ini, Belloumi membuktikan bahwa bakat besar tidak harus langsung melompat ke Eropa untuk diakui dunia. Ia mendominasi Liga Aljazair, mempersembahkan gelar juara, dan menyajikan pertunjukan sepak bola yang menghibur ribuan pasang mata setiap minggunya.
Puncak keemasan karier Belloumi tercipta di panggung internasional bersama tim nasional Aljazair pada era 1980-an. Saat itu, Aljazair berubah dari tim yang kurang dihitung menjadi kekuatan menakutkan yang disegani lawan. Belloumi adalah otak dari permainan agresif dan dinamis yang ditunjukkan oleh tim berjuluk Serigala Gurun tersebut. Puncak pencapaiannya di tingkat benua terjadi pada tahun 1981, ketika ia berhasil menyabet penghargaan African Footballer of the Year (Pemain Terbaik Afrika). Penghargaan tersebut menjadi bukti sahih bahwa Belloumi adalah raja sepak bola Afrika pada eranya, mengungguli nama-nama besar lainnya di seluruh penjuru benua.
Salah satu momen paling legendaris dalam sejarah sepak bola dunia yang melibatkan Belloumi terjadi pada Piala Dunia 1982 di Spanyol. Pada laga pembuka grup, Aljazair berhadapan dengan Jerman Barat, sebuah raksasa sepak bola dunia yang dihuni bintang-bintang kelas atas dan diprediksi akan menang mudah. Namun, yang terjadi di lapangan Stadion El Molinón di Gijón justru mengejutkan seluruh dunia. Aljazair bermain tanpa rasa takut dan memperagakan permainan umpan-umpan pendek yang sangat memukau. Setelah kedudukan imbang satu sama satu, Belloumi mencetak gol kemenangan yang sangat bersejarah bagi negaranya dan bagi benua Afrika secara keseluruhan. Gol tersebut lahir dari skema serangan balik yang dirancang dengan sangat rapi, di mana Belloumi menuntaskan umpan silang dengan penyelesaian akhir yang tenang. Kemenangan dua banding satu atas Jerman Barat tersebut mencatatkan sejarah sebagai salah satu kejutan terbesar sepanjang masa dalam sejarah Piala Dunia.
Gaya bermain Belloumi sering kali digambarkan sebagai bentuk puisi dalam gerak. Ia adalah tipe playmaker murni nomor sepuluh klasik yang posisinya berada di belakang penyerang utama. Belloumi memiliki kontrol bola yang sangat dekat, seolah-olah bola menempel pada sepatunya. Keahlian paling tersohor darinya adalah umpan blind pass atau umpan tanpa melihat, di mana ia mengoper bola ke arah rekan satu tim yang bebas sementara pandangannya tertuju ke arah yang berlawanan. Gerakan ini bukan sekadar trik untuk gaya-gayaan, melainkan strategi ampuh untuk mengecoh lini pertahanan lawan yang fokus membayangkan pergerakan matanya. Selain itu, ia memiliki kemampuan mengeksekusi tendangan bebas yang akurat serta visi mencetak gol yang sangat tinggi untuk seorang gelandang serang.
Kemampuan luar biasa Belloumi tidak luput dari perhatian klub-klub raksasa Eropa. Selepas penampilan gemilangnya di Piala Dunia 1982, klub-klub papan atas seperti Juventus, Barcelona, dan Paris Saint-Germain secara terang-terangan berminat untuk merekrutnya. Bahkan, megabintang asal Brasil, Pelé, secara terbuka pernah memuji Belloumi dan menyebutnya sebagai salah satu gelandang serang terbaik yang pernah ia lihat. Namun, sebuah aturan unik di Aljazair pada masa itu melarang pemain nasional di bawah usia 27 tahun untuk pindah dan bermain di luar negeri. Ketika usianya akhirnya mencapai batas tersebut dan transfer impian ke Juventus sudah hampir terwujud untuk berduet dengan Michel Platini, nasib buruk menghampirinya. Belloumi mengalami cedera patah kaki yang sangat parah dalam pertandingan Liga Champions Afrika melawan klub Tunisia pada tahun 1985. Cedera berat tersebut memaksa kesepakatan dengan Juventus batal dan membuatBelloumi harus absen dari lapangan dalam waktu yang cukup lama.
Meskipun gagal mewujudkan mimpi bermain di liga top Eropa, loyalitas dan determinasi Belloumi tidak pernah luntur. Ia bangkit dari cedera parah tersebut dan kembali memimpin tim nasional Aljazair melaju ke putaran final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Kehadirannya di lapangan tetap memberikan dampak psikologis yang besar bagi rekan-rekan setimnya dan rasa hormat dari lawan. Sepanjang karier internasionalnya yang membentang dari tahun 1978 hingga 1989, Belloumi telah mencatatkan lebih dari seratus penampilan bersama tim nasional Aljazair dan mencetak puluhan gol penting. Rekor dan dedikasinya menjadikan dirinya sebagai figur yang sangat dicintai oleh publik Aljazair melebihi statusnya sebagai seorang atlet biasa.
Pengaruh Belloumi tidak berhenti sampai di batas garis lapangan saat ia aktif bermain. Bagi masyarakat Aljazair dan benua Afrika, Belloumi adalah lambang kebanggaan nasional dan bukti bahwa bakat murni dari benua Afrika mampu bersaing serta menundukkan kekuatan besar dunia. Karakter bermainnya memberikan inspirasi bagi generasi penerus pesepak bola Afrika tentang bagaimana cara mengendalikan permainan dengan kecerdasan dan ketenangan. Di dalam negeri, nama Lakhdar Belloumi diabadikan sebagai pahlawan olahraga. Setiap kali pembicaraan tentang pesepak bola terbaik Aljazair sepanjang masa mengemuka, namanya selalu berada di urutan teratas bersama figur-figur legendaris lainnya.
Setelah pensiun sebagai pemain, Belloumi tetap mendedikasikan hidupnya untuk dunia sepak bola. Ia melanjutkan karier sebagai pelatih di beberapa klub lokal Aljazair serta sempat menangani tim nasional dalam kapasitas manajemen dan teknis. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keolahragaan yang bertujuan untuk memajukan bakat-bakat muda di wilayah Afrika Utara. Kecintaannya pada si kulit bundar terus menyala, dan ia sering diundang dalam ajang-ajang penghargaan internasional sebagai salah satu legenda hidup sepak bola dunia.
Warisan yang ditinggalkan oleh Lakhdar Belloumi adalah sebuah pelajaran tentang keagungan bakat, keteguhan hati saat menghadapi ujian cedera, dan loyalitas tanpa batas kepada tanah air. Ia menunjukkan bahwa kemewahan dan gemerlap sepak bola Eropa bukanlah satu-satunya tolok ukur kehebatan seorang pemain. Lewat sentuhan magic di kakinya, umpan-umpan ajaib tanpa melihat, serta gol bersejarah ke gawang Jerman Barat, Lakhdar Belloumi telah mengukir namanya dengan tinta emas dalam sejarah panjang sepak bola dunia. Ia akan selalu dikenang sebagai sang maestro sejati yang membawa tarian keindahan di atas hijau lapangan.
(EA/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda