Perjalanan Sang Legenda Herbert Prohaska Menaklukkan Eropa

Eva Amelia • 28/10/2026 • 4 min read
Perjalanan Sang Legenda Herbert Prohaska Menaklukkan Eropa

Jakarta – Herbert Prohaska merupakan salah satu maestro sepak bola terbesar yang pernah dilahirkan oleh Austria. Lahir di distrik kelas pekerja Simmering, Wina, pada 8 Agustus 1955, Prohaska tumbuh dalam kesederhanaan. Ayahnya bekerja sebagai buruh kasar sementara ibunya adalah seorang pembersih ruangan. Dari jalanan Wina yang berbatu, Prohaska mengembangkan visi bermain yang luar biasa, kontrol bola yang anggun, serta kemampuan membagi bola dengan presisi tinggi. Sosok yang akrab disapa dengan julukan Schneckerl karena rambut keritingnya saat muda ini memadukan keanggunan gaya bermain klasik dengan kecerdasan taktis yang melampaui zamannya.

Perjalanan kariernya di dunia sepak bola profesional dimulai ketika ia bergabung dengan klub raksasa lokal, Austria Wien, pada tahun 1972. Pada usia yang masih sangat muda, Prohaska langsung menjelma menjadi ruh permainan tim. Bersama Austria Wien, ia tidak hanya sekadar bermain sepak bola, tetapi juga mengukir dominasi domestic yang amat dominan. Dalam kurun waktu delapan musim pertamanya di klub tersebut, ia mempersembahkan empat gelar Bundesliga Austria dan tiga trofi Piala Austria. Keberhasilannya mengorkestrasi lini tengah membuat Austria Wien menjadi kekuatan yang ditakuti di Eropa, bahkan berhasil menembus partai final Piala Winners UEFA pada musim 1977-1978 sebelum akhirnya finis sebagai runner-up.

Pada awal dekade 1980-an, ketika kompetisi Serie A Italia menjadi panggung sepak bola paling bergengsi dan paling ketat di dunia, Prohaska mengambil langkah berani untuk merantau ke Italia. Kala itu, klub-klub Serie A dibatasi dalam merekrut pemain asing, sehingga hanya pemain dengan kualitas paling luar biasa yang dapat menembus kompetisi tersebut. Prohaska direkrut oleh Inter Milan pada tahun 1980. Selama dua musim mengenakan seragam kebanggaan Nerazzurri, ia menunjukkan kapasitasnya sebagai gelandang kelas dunia. Puncak pencapaiannya bersama Inter terjadi pada musim 1981-1982 ketika ia membantu tim merengkuh trofi Coppa Italia.

Petualangan Prohaska di Serie A tidak berhenti sampai di situ. Pada musim panas 1982, ia memutuskan untuk pindah ke ibu kota dan bergabung dengan AS Roma di bawah asuhan pelatih legendaris Nils Liedholm. Di Roma, keberadaannya menjadi kepingan taktik yang sangat vital di lini tengah bersama nama-nama besar seperti Falcao dan Agostino Di Bartolomei. Musim 1982-1983 menjadi momen bersejarah dalam karier Prohaska dan sejarah klub ibu kota tersebut. Ia mengantarkan AS Roma meraih gelar Scudetto Serie A, sebuah raihan luar biasa yang mengakhiri penantian gelar juara liga Roma selama puluhan tahun. Keberhasilan menaklukkan kompetisi seberat Serie A membuktikan bahwa kualitas teknis dan visi bermain Prohaska mampu bersaing di tingkat tertinggi dunia.

Setelah menaklukkan Italia, kecintaannya pada tanah air membawanya pulang ke FK Austria Wien pada tahun 1983. Kembalinya si anak hilang langsung membawa dampak instan. Prohaska kembali mendominasi sepak bola domestik dengan membawa Austria Wien meraih tiga gelar juara liga berturut-turut dari tahun 1984 hingga 1986. Ia juga dianugerahi penghargaan Austrian Footballer of the Year sebanyak tiga kali, yakni pada tahun 1984, 1985, dan 1988. Setelah mendedikasikan seluruh jiwa dan raganya di atas lapangan hijau, Prohaska akhirnya memutuskan untuk gantung sepatu pada tahun 1989. Pengakuannya sebagai legenda sejati dikukuhkan ketika ia terpilih sebagai Austria Wien Player of the Century pada tahun 2011.

Di level internasional, Prohaska merupakan pilar utama tim nasional Austria dengan mencatatkan 83 penampilan dan mencetak 10 gol. Momen paling monumental dalam seragam tim nasional terjadi pada 30 Oktober 1977 dalam laga kualifikasi Piala Dunia melawan Turki di Izmir. Prohaska mencetak gol tunggal kemenangan yang sangat dramatis. Gol bersejarah yang dikenal di publik Austria sebagai Tor von Izmir atau Gol dari Izmir tersebut memastikan tiket Austria menuju putaran final Piala Dunia 1978 di Argentina, mengakhiri penantian panjang negara itu selama 20 tahun untuk tampil kembali di panggung tertinggi sepak bola dunia.

Pada putaran final Piala Dunia 1978 di Argentina, Prohaska menjadi sosok penting di balik kejutan besar yang diciptakan Austria. Salah satu laga paling ikonik dalam sejarah sepak bola Austria terjadi ketika mereka mengalahkan juara bertahan Jerman Barat dengan skor 3-2 dalam pertandingan yang dikenang sebagai Wunder von Cordoba atau Keajaiban Cordoba. Prohaska memimpin lini tengah dengan sangat dingin dan penuh percaya diri dalam laga bersejarah tersebut. Empat tahun kemudian, ia kembali memimpin negaranya berlaga pada putaran final Piala Dunia 1982 di Spanyol.

Pensiun sebagai pemain tidak lantas membuat Prohaska menjauh dari lapangan hijau. Ia langsung beralih peran menjadi pelatih kepala Austria Wien pada tahun 1990. Dengan pemahaman taktis yang sangat tajam, ia membuktikan bahwa kecerdasannya di lapangan dapat ditransformasikan dengan sempurna ke pinggir lapangan. Sebagai juru taktik Austria Wien, ia sukses mempersembahkan dua gelar juara Bundesliga Austria dan dua trofi Piala Austria.

Keberhasilannya di tingkat klub membuat Asosiasi Sepak Bola Austria mempercayakan kursi pelatih tim nasional kepadanya pada tahun 1993. Di bawah kepemimpinannya, tim nasional Austria menunjukkan performa yang sangat solid dan konsisten. Puncak kepelatihannya bersama tim nasional terjadi ketika ia sukses membawa Austria lolos secara otomatis ke putaran final Piala Dunia 1998 di Prancis sebagai juara grup kualifikasi. Pencapaian ini menegaskan posisinya sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola negaranya, baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih.

Setelah mengakhiri karier kepelatihannya, Prohaska tetap menjadi figur yang dihormati di dunia olahraga. Ia aktif bekerja sebagai pengamat dan analis sepak bola terkemuka di televisi nasional Austria serta menjadi pengulas rutin di berbagai media cetak. Pengamatan taktisnya yang tajam, dipadukan dengan gaya bicara yang jujur dan humor khas Wina, membuatnya tetap dicintai oleh publik sepak bola lintas generasi.

Perjalanan karier Herbert Prohaska adalah cerminan dari dedikasi, keanggotaan taktis, dan loyalitas tinggi terhadap dunia sepak bola. Dari seorang bocah sederhana di distrik Simmering hingga menaklukkan panggung Serie A Italia dan memimpin negaranya di Piala Dunia, warisan yang ditinggalkan oleh Schneckerl akan selalu terukir emas dalam lembaran sejarah sepak bola dunia.

(EA/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...