Jakarta – Ikram Aliskerov merupakan salah satu petarung asal Dagestan, Rusia, yang membangun reputasinya melalui perpaduan kemampuan gulat, combat sambo, dan pukulan keras. Lahir pada 7 Desember 1992, Aliskerov tumbuh di lingkungan yang melahirkan banyak atlet olahraga tarung berprestasi. Perjalanannya menuju Ultimate Fighting Championship (UFC) tidak dibangun dalam semalam, melainkan melalui pengalaman bertanding bertahun-tahun, gelar internasional, dan keberanian menghadapi lawan-lawan tangguh.
Ketertarikannya pada bela diri bermula sejak kecil ketika ia mulai berlatih gulat. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting bagi perkembangan kemampuan fisiknya, terutama dalam mengendalikan lawan dan mempertahankan keseimbangan. Seiring waktu, ia beralih ke mixed martial arts (MMA), cabang yang menuntut petarung menguasai berbagai disiplin sekaligus. Aliskerov kemudian menekuni combat sambo, olahraga bela diri yang menggabungkan teknik pukulan, tendangan, bantingan, dan kuncian. Prestasinya di cabang ini menjadi bekal utama sebelum ia memasuki persaingan profesional MMA pada 2012.
Nama Aliskerov mulai dikenal melalui pencapaiannya di tingkat internasional. Ia meraih gelar juara dunia combat sambo pada 2012 dan kembali menjadi juara dunia pada 2016 di kelas 90 kilogram. Ia juga menjuarai Piala Dunia combat sambo pada 2014 dan 2015 serta Kejuaraan Eropa pada 2017. Deretan prestasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan grappling dan penguasaan tekniknya telah teruji sebelum memasuki panggung MMA yang lebih besar. Pengalaman sebagai atlet sambo juga membentuk dasar gaya bertarungnya yang mengutamakan efisiensi, kontrol, dan kemampuan membaca pergerakan lawan.
Karier profesionalnya berkembang melalui sejumlah promotor, termasuk Brave Combat Federation dan Eagle FC. Di Brave CF, ia mencatat kemenangan atas beberapa lawan, antara lain Joey Michael Berkenbosch, Geraldo Coelho de Lima Neto, dan Denis Tiuliulin. Namun, perjalanan itu tidak sepenuhnya mulus. Pada 19 April 2019, Aliskerov mengalami kekalahan KO dari Khamzat Chimaev pada ronde pertama di Brave CF 23. Kekalahan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam kariernya, sekaligus memperlihatkan kerasnya persaingan di level profesional. Ia kemudian bangkit dengan meraih sejumlah kemenangan, termasuk melalui penyelesaian submission menggunakan teknik kimura.
Peluang menuju UFC semakin terbuka setelah Aliskerov tampil di Dana White’s Contender Series pada 13 September 2022. Menghadapi Mario Sousa, ia memenangkan pertarungan melalui kimura pada ronde pertama. Kemenangan tersebut memperlihatkan efektivitas kemampuan kuncian yang menjadi salah satu senjata andalannya. Ia kemudian menjalani debut UFC pada 6 Mei 2023 di UFC 288 melawan Phil Hawes. Aliskerov mengakhiri pertarungan melalui KO akibat pukulan pada ronde pertama. Ia melanjutkan momentum tersebut dengan mengalahkan Warlley Alves melalui TKO pada UFC 294, Oktober 2023. Dua kemenangan awal itu membuatnya diperhitungkan sebagai prospek berbahaya di divisi middleweight.
Ujian terbesarnya datang pada 22 Juni 2024 ketika ia menghadapi mantan juara UFC, Robert Whittaker, di Riyadh, Arab Saudi. Aliskerov menerima pertarungan tersebut setelah Khamzat Chimaev mundur dari jadwal semula. Namun, pengalaman Whittaker terbukti menentukan. Aliskerov kalah KO pada ronde pertama setelah menerima rangkaian pukulan. Hasil tersebut menjadi kekalahan keduanya dalam karier profesional. Meski demikian, kekalahan itu tidak menghapus potensinya. Pada April 2025, ia kembali menang meyakinkan dengan menghentikan André Muniz melalui TKO pada ronde pertama. Ia kemudian mengalahkan JunYong Park melalui keputusan bulat pada Oktober 2025, sebelum menundukkan Brunno Ferreira lewat keputusan bulat pada 27 Juni 2026.
Memasuki akhir Oktober 2026, rekor profesional Aliskerov tercatat 18 kemenangan dan dua kekalahan. Dari total kemenangan tersebut, tujuh diraih melalui KO/TKO, lima melalui submission, dan enam melalui keputusan juri. Ia bertarung di kelas middleweight dengan batas berat 185 pon atau sekitar 84 kilogram. Statistik itu menggambarkan petarung yang memiliki kemampuan menyelesaikan laga melalui berbagai cara, bukan hanya mengandalkan satu teknik.
Gaya bertarung Aliskerov berakar pada combat sambo, tetapi telah disesuaikan dengan tuntutan MMA modern. Ia memiliki pukulan yang berbahaya, kemampuan grappling yang kuat, serta ancaman kuncian ketika pertarungan berlanjut ke lantai. Dengan posisi southpaw, ia juga dapat menghadirkan sudut serangan yang berbeda bagi lawannya. Kekuatan utamanya terletak pada kemampuan menggabungkan serangan berdiri dan penguasaan posisi. Meski tidak semua detail rutinitas latihannya tersedia untuk publik, latar belakang sambo dan persiapannya bersama tim profesional menunjukkan pentingnya latihan teknik, kondisi fisik, serta simulasi pertarungan.
Tantangan Aliskerov bukan sekadar memenangkan pertandingan, melainkan membuktikan konsistensi ketika menghadapi petarung elite. Cedera dan perubahan jadwal juga sempat menghambat momentumnya, termasuk pembatalan beberapa pertarungan yang direncanakan. Mentalitas kompetitifnya terlihat dari kemampuannya kembali meraih kemenangan setelah kekalahan dari Whittaker. Bagi Aliskerov, jalan menuju puncak kelas middleweight masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut. Namun, perpaduan pengalaman juara sambo, kekuatan pukulan, dan kemampuan submission menjadikannya sosok yang patut diperhitungkan dalam persaingan UFC.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda