Jakarta – Dalam dunia olahraga tarung, perjalanan seorang atlet tidak selalu dimulai dari sasana tinju atau arena bela diri profesional. Luke Simonds membuktikan bahwa latar belakang olahraga yang beragam juga dapat menjadi modal untuk membangun karier kompetitif. Dikenal dengan julukan “Lethal Strike”, atlet asal Amerika Serikat ini menarik perhatian melalui kekuatan fisik, daya tahan, dan kemampuannya menghasilkan tamparan keras di Power Slap. Dari seorang binaragawan yang menghabiskan bertahun-tahun membangun tubuhnya, Simonds berkembang menjadi salah satu nama yang diperhitungkan di kelas light heavyweight.
Luke Monroe Simonds berasal dari Amerika Serikat dan tercatat bertanding dari Dallas, Texas. Berdasarkan profil resmi Power Slap, ia memiliki tinggi sekitar 183 cm, berat sekitar 93 kg, dan berusia 29 tahun. Sebelum terjun ke kompetisi adu tampar, Simonds memiliki pengalaman dalam berbagai cabang olahraga, seperti gulat, sepak bola Amerika, bisbol, lari lintas alam, dan bola basket. Ia juga menjalani latihan binaraga selama kurang lebih 12 tahun. Pengalaman tersebut membentuk fondasi kekuatan, koordinasi, dan kedisiplinan fisiknya. Di luar olahraga, Simonds pernah bekerja sebagai pekerja lanskap, operator forklift, pekerja gudang, hingga juru masak. Ketertarikannya terhadap Power Slap muncul ketika mendapatkan kesempatan mengikuti program Road to the Title musim ketiga. Ia melihat kompetisi tersebut sebagai peluang untuk mengubah kecintaannya terhadap kebugaran menjadi pekerjaan profesional.
Awal karier Simonds di Power Slap dimulai melalui program Road to the Title Season 3. Pada pertandingan pertamanya melawan Cesar Gonzalez, ia sempat mengalami kesulitan akibat pelanggaran teknis berupa illegal windup. Gonzalez juga sempat menjatuhkannya sebelum dinyatakan melakukan pelanggaran langkah. Namun, Simonds mampu bangkit dan mengakhiri pertandingan dengan kemenangan knockout pada ronde kedua. Ia kemudian menghadapi Alan Klingbeil dan berhasil menang melalui keputusan terbelah (split decision). Hasil tersebut memperlihatkan bahwa dirinya tidak hanya mengandalkan kekuatan serangan, tetapi juga mampu bertahan dalam pertandingan yang berlangsung ketat.
Pencapaian berikutnya datang pada Power Slap 10, 6 Desember 2024. Menghadapi TJ Thomas di kelas light heavyweight, Simonds berhasil meraih kemenangan knockout pada ronde pertama. Penampilan tersebut memperkuat reputasinya sebagai atlet dengan daya serang berbahaya. Ia menutup tahun debut dengan tiga kemenangan tanpa kekalahan dan dua kemenangan knockout. Prestasi itu membuatnya dinobatkan sebagai Rookie of the Year dalam Power Slap Awards 2024. Penghargaan tersebut menjadi pencapaian penting karena menandai keberhasilannya beradaptasi dengan cepat di kompetisi profesional.
Memasuki 2025, Simonds menghadapi Garrett Blakesslee pada Power Slap 11, 30 Januari 2025, di Riyadh, Arab Saudi. Ia berhasil menang melalui TKO pada ronde kedua. Namun, perjalanan menuju puncak divisi mulai menghadirkan tantangan ketika kembali bertemu Alan Klingbeil pada Power Slap 13, 27 Juni 2025. Kali ini, Simonds kalah melalui TKO pada ronde kedua. Kekalahan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan serangan tidak selalu menjamin kemenangan ketika menghadapi lawan dengan kemampuan serupa.
Kesulitan berlanjut pada Power Slap 18, 6 Maret 2026. Simonds menghadapi Peter Truchlik dan kembali kalah melalui TKO pada ronde kedua. Dua kekalahan beruntun menjadi tantangan besar bagi perkembangan kariernya. Dalam wawancara menjelang pertandingan tersebut, ia mengakui bahwa persoalan mental menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Ia menyadari bahwa meremehkan kemampuan lawan dapat menjadi kesalahan fatal. Baginya, kesiapan mental dan fisik harus berjalan beriringan agar seorang atlet mampu tampil maksimal.
Kesempatan untuk bangkit datang pada Power Slap 20, 15 Mei 2026, ketika menghadapi Jaidan “The Koala” Fa’anana-Schultz. Pertandingan berlangsung ketat hingga tiga ronde dan akhirnya dimenangkan Simonds melalui keputusan mutlak (unanimous decision). Ketiga juri memberikan skor 28-27. Kemenangan ini menghentikan tren dua kekalahan sekaligus membuktikan bahwa Simonds mampu mengumpulkan poin melalui konsistensi penampilan, bukan hanya mengandalkan knockout. Berdasarkan profil resmi, ia kemudian menempati peringkat ketiga kelas light heavyweight.
Dari segi gaya bertanding, Simonds merupakan atlet bertangan kanan dengan karakter serangan yang mengutamakan kekuatan. Pengalaman panjang dalam binaraga menjadi modal untuk membangun kekuatan otot dan kondisi fisik. Program latihannya mencakup angkat beban, latihan hipertrofi, serta kardio menggunakan StairMaster selama lebih dari 30 menit setiap hari. Ia juga menjalani pengaturan pola makan dan penurunan berat badan untuk memenuhi batas kelas light heavyweight. Dalam menghadapi lawan, Simonds berusaha menjaga konsentrasi, mengatur posisi tubuh, serta mempersiapkan pertahanan agar mampu bertahan dari serangan lawan.
Mentalitas kompetitif Simonds berpusat pada disiplin, ketangguhan, dan keinginan membangun masa depan yang lebih baik bagi keluarganya. Pengalaman menghadapi kekalahan membuatnya semakin memahami pentingnya persiapan menyeluruh. Ia tidak ingin hanya dikenal sebagai atlet dengan tamparan keras, tetapi juga ingin membuktikan kemampuannya berkembang melalui evaluasi dan konsistensi.
Berdasarkan profil resmi Power Slap yang menjadi acuan artikel ini, Luke Simonds memiliki rekor 5 kemenangan dan 2 kekalahan (5-2-0), dengan tiga kemenangan knockout. Ia bertanding di kelas light heavyweight dengan berat sekitar 205 pon atau 93 kg dan tinggi 183 cm. Perlu ditegaskan bahwa catatan tersebut merupakan rekor kompetisi Power Slap, bukan MMA atau UFC. Meskipun Power Slap memiliki keterkaitan dengan UFC melalui Dana White, Simonds tidak tercatat pernah menjalani debut di Octagon.
Perjalanan “Lethal Strike” menunjukkan bahwa membangun karier di olahraga tarung membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan fisik. Pengalaman, kemampuan beradaptasi, kedisiplinan, dan kesiapan mental menjadi bagian penting untuk mempertahankan posisi di antara atlet terbaik. Setelah melewati dua kekalahan dan berhasil bangkit melalui kemenangan atas Fa’anana-Schultz, Simonds masih memiliki ambisi untuk merebut gelar juara light heavyweight. Tantangan berikutnya adalah membuktikan konsistensi dan mengubah potensinya menjadi prestasi yang lebih besar.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda