Jakarta – Charles Oliveira da Silva merupakan salah satu petarung paling menarik dalam sejarah Ultimate Fighting Championship (UFC). Dikenal dengan julukan Do Bronx, petarung asal Brasil ini membangun reputasinya melalui kemampuan Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ) yang luar biasa, keberanian menghadapi lawan tangguh, serta mentalitas pantang menyerah. Perjalanannya menuju puncak tidak berlangsung mudah. Ia harus melewati keterbatasan ekonomi, masalah kesehatan, kekalahan, hingga berbagai keraguan sebelum akhirnya menjadi juara dunia kelas ringan UFC.
Lahir pada 17 Oktober 1989 di Guarujá, São Paulo, Brasil, Oliveira tumbuh dalam keluarga sederhana di lingkungan Vicente de Carvalho. Sejak kecil, kehidupannya tidak selalu berjalan mulus. Ketika berusia sekitar tujuh tahun, ia pernah mengalami demam rematik dan masalah kesehatan yang memengaruhi aktivitas fisiknya. Kondisi tersebut sempat membuat keluarganya khawatir terhadap masa depannya. Namun, dukungan keluarga dan kesempatan mengikuti latihan Brazilian Jiu-Jitsu mengubah arah hidupnya. Ia mulai berlatih setelah diperkenalkan kepada olahraga tersebut oleh orang-orang di lingkungannya. Kemampuan Oliveira berkembang pesat hingga berhasil meraih berbagai prestasi dalam kompetisi jiu-jitsu. Julukan Do Bronx kemudian melekat sebagai representasi lingkungan tempat ia dibesarkan dan menjadi identitas yang terus dibawanya sepanjang karier.
Ketertarikannya terhadap bela diri berkembang menjadi ambisi untuk berkompetisi di tingkat profesional. Oliveira mulai menjalani karier mixed martial arts (MMA) profesional pada 2008. Sebelum memasuki UFC, ia mencatatkan rangkaian kemenangan melalui kemampuan submission yang menjadi ciri khasnya. Performa tersebut menarik perhatian UFC dan membawanya mendapatkan kesempatan tampil di organisasi MMA terbesar dunia. Debutnya berlangsung pada 1 Agustus 2010 melawan Darren Elkins. Oliveira berhasil memenangkan pertandingan melalui armbar hanya dalam waktu 41 detik pada ronde pertama. Kemenangan tersebut menjadi awal perjalanan panjangnya di panggung internasional.
Pada tahun-tahun awal di UFC, perjalanan Oliveira belum sepenuhnya konsisten. Ia menghadapi sejumlah petarung berpengalaman seperti Jim Miller, Donald Cerrone, Frankie Edgar, dan Cub Swanson. Ia sempat mengalami kekalahan, termasuk ketika menghadapi Anthony Pettis dan Ricardo Lamas. Selain itu, Oliveira pernah mengalami kesulitan dalam memenuhi batas berat badan kelas bertanding. Ia sempat berkompetisi di kelas ringan, kemudian turun ke kelas bulu, sebelum akhirnya kembali ke kelas ringan pada 2017. Perubahan tersebut menjadi salah satu keputusan penting dalam kariernya karena memberinya kesempatan membangun kembali performa dan konsistensi.
Perubahan besar mulai terlihat pada 2018. Oliveira memperlihatkan perkembangan signifikan, bukan hanya dalam kemampuan grappling, tetapi juga striking. Ia mengalahkan sejumlah lawan seperti Clay Guida, Jim Miller, David Teymur, dan Jared Gordon. Kemenangan atas Kevin Lee melalui guillotine choke pada 2020 semakin memperkuat posisinya sebagai penantang serius. Pada tahun yang sama, ia juga mengalahkan Tony Ferguson melalui keputusan mutlak. Rangkaian kemenangan tersebut mengantarkannya menuju perebutan gelar kelas ringan yang saat itu kosong.
Momen terbesar dalam kariernya terjadi pada 15 Mei 2021 di UFC 262. Menghadapi Michael Chandler dalam perebutan sabuk juara kelas ringan, Oliveira sempat berada dalam tekanan setelah menerima serangan keras. Namun, ia mampu bangkit dan menghentikan Chandler melalui TKO pada ronde kedua. Kemenangan tersebut menjadikannya juara kelas ringan UFC. Ia kemudian mempertahankan gelarnya dengan mengalahkan Dustin Poirier melalui rear-naked choke pada UFC 269, Desember 2021. Pada Mei 2022, Oliveira kembali mengalahkan Justin Gaethje melalui submission. Namun, ia gagal memenuhi batas berat badan sebelum pertandingan sehingga gelarnya dicopot sebelum pertarungan berlangsung. Meski menang di dalam oktagon, kemenangan tersebut tidak membuatnya mempertahankan status juara resmi.
Kesempatan merebut kembali gelar datang pada UFC 280, Oktober 2022, ketika ia menghadapi Islam Makhachev. Oliveira kalah melalui arm-triangle choke pada ronde kedua. Meski demikian, kekalahan tersebut tidak menghentikan ambisinya. Ia bangkit dengan mengalahkan Beneil Dariush melalui TKO pada UFC 289 tahun 2023. Setelah itu, ia mengalami kekalahan tipis melalui keputusan terbelah saat menghadapi Arman Tsarukyan di UFC 300 pada April 2024. Pada November 2024, ia kembali menunjukkan kualitasnya dengan mengalahkan Michael Chandler melalui keputusan mutlak. Perjalanannya berlanjut dengan kekalahan KO dari Ilia Topuria pada Juni 2025, sebelum bangkit mengalahkan Mateusz Gamrot melalui submission pada Oktober 2025. Pada 7 Maret 2026, Oliveira kembali mencuri perhatian setelah mengalahkan Max Holloway melalui keputusan mutlak dalam perebutan gelar BMF di UFC 326.
Secara teknis, Oliveira dikenal sebagai petarung yang sangat berbahaya dalam pertarungan bawah. Kemampuan Brazilian Jiu-Jitsu menjadi fondasi utamanya, terutama melalui teknik rear-naked choke, guillotine choke, armbar, dan berbagai variasi kuncian lainnya. Namun, ia bukan sekadar spesialis grappling. Perkembangan striking membuatnya semakin lengkap sebagai petarung MMA. Ia mampu menggabungkan pukulan agresif, tekanan ke depan, perubahan level serangan, serta transisi cepat menuju takedown dan submission. Filosofi bertarungnya terlihat dari keberanian mengambil risiko dan kemampuannya memanfaatkan peluang sekecil apa pun. Mentalitas kompetitifnya terbentuk melalui pengalaman menghadapi kekalahan, tekanan perebutan gelar, dan tuntutan menjaga kondisi fisik.
Dalam menjalani persiapan, Oliveira mengembangkan latihan yang menggabungkan Brazilian Jiu-Jitsu, gulat, striking, pengondisian fisik, serta simulasi pertarungan. Ia berlatih bersama tim Chute Boxe Diego Lima untuk meningkatkan kemampuan teknis dan strategi menghadapi karakter lawan yang berbeda. Konsistensi latihan, disiplin, dan evaluasi terhadap kekurangan menjadi bagian penting dalam perkembangannya.
Hingga 5 November 2026, Oliveira memiliki rekor profesional 37 kemenangan, 11 kekalahan, dan satu pertandingan tanpa hasil (no contest). Dari total kemenangannya, 10 diraih melalui KO/TKO dan 22 melalui submission. Ia juga memegang rekor UFC untuk jumlah kemenangan submission dan total kemenangan melalui penyelesaian pertandingan (finishes), masing-masing 17 dan 21 berdasarkan catatan UFC. Perjalanan Charles Oliveira membuktikan bahwa keberhasilan tidak selalu datang melalui jalan yang mudah. Dari seorang anak yang tumbuh dengan berbagai keterbatasan di Brasil, ia berkembang menjadi mantan juara kelas ringan dan pemegang gelar BMF UFC, sekaligus salah satu spesialis submission paling disegani dalam sejarah olahraga MMA.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda