Jakarta – Joe Pyfer merupakan salah satu petarung yang menarik perhatian dalam divisi middleweight Ultimate Fighting Championship (UFC). Dijuluki Bodybagz, petarung asal Amerika Serikat ini dikenal memiliki pukulan keras, agresivitas tinggi, serta kemampuan menyelesaikan pertandingan melalui knockout maupun submission. Namun, di balik penampilannya yang penuh tenaga di dalam oktagon, terdapat perjalanan hidup yang tidak mudah. Pengalaman masa kecil, cedera serius, kegagalan mendapatkan kontrak UFC, hingga perjuangan membangun kembali karier menjadikannya sosok yang memiliki cerita lebih dalam daripada sekadar petarung dengan kemampuan menyerang.
Lahir pada 17 September 1996 di Vineland, New Jersey, Amerika Serikat, Pyfer tumbuh di lingkungan keluarga yang penuh tantangan. Ia pernah menceritakan pengalaman masa kecil yang sulit, termasuk menghadapi kekerasan dalam keluarga dan periode ketika kehidupannya tidak stabil. Ketertarikannya terhadap bela diri dimulai sejak usia sekitar empat setengah tahun. Menurut pengakuannya kepada UFC, ia awalnya mengikuti latihan karena dorongan sang ayah, tetapi seiring waktu justru menemukan kecintaan terhadap olahraga tersebut. Bela diri kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupannya sekaligus jalan untuk membangun masa depan yang berbeda.
Perjalanan menuju MMA profesional dimulai setelah Pyfer mengembangkan kemampuan dalam berbagai disiplin bela diri. Ia kemudian memadukan tinju, gulat, dan Brazilian Jiu-Jitsu untuk membangun gaya bertarung yang lebih lengkap. Karier profesionalnya dimulai pada 2018. Ia tampil di sejumlah organisasi regional, termasuk Art of War Cage Fighting dan Ring of Combat (ROC). Dalam periode tersebut, Pyfer memperlihatkan kemampuan menyelesaikan pertandingan dengan cepat, baik melalui pukulan maupun kuncian. Ia juga berhasil meraih gelar kelas menengah di Art of War dan Ring of Combat, yang menjadi modal penting sebelum mencoba menembus kompetisi tingkat dunia.
Kesempatan pertamanya memasuki UFC datang melalui ajang Dana White’s Contender Series pada Agustus 2020. Ia menghadapi Dustin Stoltzfus dengan harapan mendapatkan kontrak UFC. Namun, pertandingan berakhir dengan kekalahan setelah Pyfer mengalami cedera siku serius akibat benturan ketika melancarkan serangan. Kekalahan tersebut menjadi pukulan besar karena ia harus menjalani masa pemulihan panjang. Cedera itu bahkan membuatnya mempertanyakan apakah impiannya untuk menjadi petarung UFC masih dapat diwujudkan. Setelah lebih dari setahun menepi, ia kembali bertanding pada Desember 2021 dan meraih kemenangan melalui knockout atas Austin Trotman.
Pada Juli 2022, Pyfer kembali tampil di Dana White’s Contender Series, kali ini menghadapi Ozzy Diaz. Ia berhasil memenangkan pertandingan melalui TKO pada ronde kedua. Penampilannya begitu meyakinkan hingga Dana White secara terbuka memberikan kesempatan kepadanya untuk bergabung dengan UFC. Momen tersebut menjadi titik balik penting dalam kariernya. Debut resmi di oktagon berlangsung pada 17 September 2022 melawan Alen Amedovski. Pyfer menang melalui TKO pada ronde pertama, memperlihatkan bahwa dirinya memiliki kekuatan pukulan yang mampu menjadi ancaman bagi petarung kelas menengah.
Namanya semakin dikenal setelah mengalahkan Gerald Meerschaert melalui TKO pada UFC 287, April 2023. Ia kemudian menghadapi Abdul Razak Alhassan pada Oktober 2023 dan kembali meraih kemenangan melalui arm-triangle choke pada ronde kedua. Tiga kemenangan awal di UFC tersebut memperlihatkan bahwa Pyfer bukan hanya petarung dengan pukulan keras, tetapi juga memiliki kemampuan grappling yang efektif. Rangkaian kemenangan itu mengantarkannya mendapatkan kesempatan tampil dalam pertarungan utama untuk pertama kalinya, menghadapi Jack Hermansson pada Februari 2024.
Pertarungan melawan Hermansson menjadi ujian besar bagi perkembangan kariernya. Pyfer memulai pertandingan dengan agresivitas tinggi, tetapi kesulitan mempertahankan intensitas hingga lima ronde. Hermansson berhasil memanfaatkan pengalaman dan ketahanan fisiknya untuk mengendalikan pertandingan. Pyfer akhirnya kalah melalui keputusan mutlak. Kekalahan tersebut memberikan pelajaran penting mengenai pengelolaan energi, kesabaran, dan strategi ketika menghadapi lawan yang mampu bertahan dari tekanan awal. Ia kemudian bangkit dengan mengalahkan Marc-André Barriault melalui knockout hanya dalam 85 detik pada UFC 303, Juni 2024.
Perkembangan berikutnya menunjukkan kematangan yang semakin baik. Pada Juni 2025, Pyfer mengalahkan Kelvin Gastelum melalui keputusan mutlak setelah menjalani tiga ronde penuh. Kemenangan tersebut memperlihatkan kemampuannya bertanding dengan lebih terukur, tidak hanya mengandalkan penyelesaian cepat. Pada Oktober 2025, ia kembali mencatat kemenangan impresif dengan menaklukkan Abus Magomedov melalui rear-naked choke pada ronde kedua. Pencapaian terbesarnya sejauh ini datang pada 28 Maret 2026, ketika ia menghadapi mantan juara kelas menengah UFC, Israel Adesanya. Dalam pertandingan utama tersebut, Pyfer berhasil menghentikan Adesanya melalui TKO pada ronde kedua menit 4:18. Kemenangan ini menjadi bukti bahwa ia mampu bersaing dan mengalahkan petarung papan atas di divisinya.
Sebagai petarung kelas menengah atau middleweight, Pyfer bertanding pada batas berat 185 pon atau sekitar 83,9 kilogram. Gaya bertarungnya berorientasi pada striking agresif dengan dasar tinju yang kuat. Ia memiliki pukulan keras, kombinasi serangan yang eksplosif, serta kemampuan menekan lawan ketika berada dalam jarak dekat. Meski demikian, kemampuan grappling dan Brazilian Jiu-Jitsu membuatnya tidak bergantung pada satu pendekatan. Ia dapat mengubah pertarungan berdiri menjadi pertarungan bawah melalui takedown, kontrol posisi, dan kuncian. Pyfer juga diketahui memiliki sabuk hitam Brazilian Jiu-Jitsu. Dalam persiapannya, ia berlatih bersama Team Marquez MMA, mengembangkan kemampuan tinju, gulat, grappling, serta kondisi fisik untuk menghadapi tuntutan pertandingan profesional.
Di luar teknik, salah satu aspek paling menarik dari Pyfer adalah perubahan mentalitasnya. Ia mengakui pernah menjadi pribadi yang sangat emosional, terutama setelah mengalami kegagalan dan menghadapi komentar negatif dari masyarakat. Kekalahan dari Hermansson juga membuatnya mengevaluasi hubungannya dengan media sosial dan tekanan publik. Dalam wawancaranya dengan UFC pada 2026, ia menjelaskan bahwa kedisiplinan jauh lebih penting daripada motivasi sesaat. Ia juga menyebut keyakinan spiritual dan dukungan pasangan sebagai bagian penting dalam menemukan ketenangan serta keseimbangan hidup. Baginya, setiap lawan harus dipandang sebagai manusia biasa, bukan sosok yang tidak mungkin dikalahkan.
Hingga 5 November 2026, Joe Pyfer mencatatkan rekor profesional 16 kemenangan dan tiga kekalahan. Dari jumlah kemenangan tersebut, 10 diraih melalui KO/TKO, empat melalui submission, dan dua melalui keputusan juri. Ia telah membuktikan kemampuannya berkembang dari petarung regional menjadi salah satu nama yang diperhitungkan di kelas menengah UFC. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan konsistensi dan membuktikan bahwa kemenangan atas Adesanya bukan sekadar pencapaian sesaat. Dengan kekuatan pukulan, kemampuan submission, dan mentalitas yang semakin matang, Pyfer memiliki peluang untuk terus mendekati persaingan perebutan gelar dunia.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda