Drakkar Klose: Dari Arena Gulat Hingga Octagon UFC

Piter Rudai 18/07/2025 3 min read
Drakkar Klose: Dari Arena Gulat Hingga Octagon UFC

Jakarta – Dalam dunia MMA, ada banyak kisah perjuangan yang menginspirasi, namun hanya sedikit yang seotentik dan sepenuh hati seperti perjalanan karier Drakkar Klose. Lahir pada 9 Maret 1988 di South Haven, Michigan, Amerika Serikat, Klose tumbuh besar dalam lingkungan yang penuh tantangan, namun justru membentuk mentalitas kompetitif dan etos kerja keras yang menjadi fondasi kesuksesannya di dunia seni bela diri campuran.

Awal Kehidupan dan Latar Belakang Gulat

Drakkar dibesarkan dalam keluarga besar dan sederhana. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan dunia olahraga, namun gulat menjadi cabang yang benar-benar menyedot perhatian dan bakat alaminya. Saat masih duduk di bangku SMA, Klose menjadi salah satu pegulat terbaik di negara bagian Michigan. Ia memenangkan gelar negara bagian (state champion) dan menempatkan dirinya sebagai salah satu atlet paling berprestasi dari South Haven High School.

Bakat gulatnya berlanjut hingga ke tingkat perguruan tinggi, di mana ia memperkuat North Idaho College dan kemudian pindah ke Lindenwood University. Namun, seperti banyak kisah atlet muda, jalannya tidak selalu mulus. Klose sempat berurusan dengan berbagai hambatan, baik dari sisi akademis maupun kehidupan pribadi, yang membuatnya berhenti dari kuliah. Tapi titik balik justru lahir dari kegagalan itu.

Peralihan ke Dunia MMA

Setelah meninggalkan dunia akademis, Klose memutuskan untuk fokus penuh pada MMA. Ia pindah ke Arizona, tempat di mana komunitas MMA tumbuh subur dan memberi peluang bagi petarung muda. Bergabung dengan tim MMA Lab yang dipimpin oleh John Crouch, ia mulai menata ulang hidupnya.

Drakkar memulai karier profesionalnya pada tahun 2014 dan segera menunjukkan potensinya dengan mencatat kemenangan demi kemenangan. Ia bertarung di berbagai ajang seperti RFA (Resurrection Fighting Alliance) dan WSOF (World Series of Fighting), di mana gaya bertarungnya yang menggabungkan dasar gulat dengan pukulan keras dan pergerakan eksplosif mulai menarik perhatian.

Masuk UFC dan Meniti Tangga Kelas Lightweight

Tahun 2017 menjadi momen penting dalam karier Drakkar Klose ketika ia memulai debutnya di Ultimate Fighting Championship (UFC), organisasi MMA paling prestisius di dunia. Dalam laga perdananya, Klose menghadapi Devin Powell dan meraih kemenangan meyakinkan lewat keputusan bulat. Kemenangan itu membuktikan bahwa ia pantas berada di panggung tertinggi MMA.

Klose terus menunjukkan perkembangan di tiap pertarungan, mengalahkan sejumlah nama berpengalaman seperti Marc Diakiese dan Bobby Green. Dalam duel melawan Diakiese pada UFC 213, Klose tampil impresif dan mencuri perhatian lewat kombinasi striking yang agresif dan pertahanan gulat yang solid.

Namun, perjalanan di UFC tidak selalu mulus. Ia sempat mengalami kekalahan dari David Teymur dan Beneil Dariush, dua petarung top di divisi lightweight. Kekalahan dari Dariush pada Maret 2020 sangat dramatis—Klose hampir meraih kemenangan via KO, namun comeback mengejutkan dari Dariush justru membuat Klose tersungkur di ronde kedua.

Meski begitu, Klose dikenal sebagai petarung yang tak pernah mundur. Ia kembali dengan kemenangan besar melawan Brandon Jenkins di UFC Fight Night 206, menunjukkan bahwa ia masih menjadi ancaman serius bagi siapa pun di divisi 155 pon.

Gaya Bertarung dan Julukan “No-Nonsense”

Gaya bertarung Drakkar Klose merefleksikan latar belakang gulat yang solid dikombinasikan dengan striking penuh tekanan. Ia bukan tipikal petarung flashy yang mengandalkan trik atau gerakan spekulatif. Sebaliknya, Klose tampil lugas, tajam, dan efisien—baik dalam kontrol di ground game maupun dalam pertukaran pukulan di atas kaki.

Ia tidak memiliki julukan resmi seperti sebagian besar petarung UFC, namun banyak penggemar menyebutnya sebagai “no-nonsense fighter”—petarung tanpa basa-basi. Ia masuk oktagon untuk bertarung, bukan untuk pertunjukan. Dan justru itulah yang membuatnya disukai banyak penggemar hardcore MMA.

Kehidupan Pribadi dan Dedikasi

Di luar arena, Klose adalah sosok keluarga yang penuh dedikasi. Ia menikah dengan Cortney Casey, sesama petarung UFC, dan pasangan ini dikaruniai seorang anak laki-laki. Keseimbangan antara karier dan kehidupan rumah tangga menjadi bagian penting dari motivasinya.

Klose kerap menyebut bahwa keluarganya adalah alasan utama ia tetap berjuang keras di dunia MMA. Dalam berbagai wawancara, ia mengaku bahwa setiap kali masuk oktagon, ia membawa nama keluarganya dan ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuk mereka.

Prestasi dan Warisan

Meski belum menyentuh gelar juara UFC, Drakkar Klose adalah contoh nyata bahwa konsistensi, etos kerja, dan ketangguhan bisa membawa seseorang jauh di dunia yang penuh persaingan. Ia mungkin bukan nama terbesar di UFC, namun dalam setiap pertarungan, Klose selalu menghadirkan duel yang keras dan kompetitif.

Dengan kemenangan-kemenangan penting dan pengalaman menghadapi nama-nama besar, Klose telah membuktikan bahwa ia adalah salah satu petarung yang layak diperhitungkan di divisi lightweight UFC—divisi yang dikenal paling kompetitif di dunia MMA.

(PR/timKB).

Sumber foto: mmafighting.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita Lainnya

Loading next article...