Jakarta – Di panggung Ultimate Fighting Championship (UFC) yang penuh dengan nama-nama besar, hanya sedikit petarung yang mampu menonjol dengan ciri khas teknis yang unik. Salah satu dari mereka adalah Claudio Puelles Martínez, sang “Prince of Peru”, petarung Lightweight asal Lima, Peru, yang dikenal dengan kemampuan submission kneebar mematikannya.
Puelles bukan hanya sekadar petarung berbakat; ia adalah simbol kebangkitan MMA Peru di kancah internasional. Perjalanan kariernya yang penuh ketekunan, kombinasi keahlian striking dan grappling, serta kemampuannya membalikkan keadaan di momen krusial membuatnya disegani baik oleh rekan seprofesi maupun penggemar.
Akar dan Awal Kehidupan di Lima, Peru
Claudio Puelles lahir pada 21 April 1996 di ibu kota Peru, Lima. Ia tumbuh dalam lingkungan yang relatif sederhana, namun sarat dengan nilai kerja keras dan ketangguhan. Sejak remaja, Puelles sudah menunjukkan ketertarikan pada olahraga tempur, meski awalnya ia tidak langsung memilih MMA.
Di usia belasan tahun, ia mulai berlatih Muay Thai. Disiplin bela diri asal Thailand ini menjadi pintu masuknya ke dunia seni bela diri. Puelles menghabiskan banyak waktu mempelajari teknik tendangan, serangan siku, dan kombinasi pukulan khas Muay Thai, membentuk fondasi striking yang kelak menjadi salah satu modalnya di MMA.
Namun, Puelles adalah sosok yang tidak puas hanya menguasai satu aspek. Ia mulai mempelajari grappling, yang kemudian membawanya jatuh hati pada Brazilian Jiu-Jitsu dan submission wrestling. Di sinilah bakat sejatinya muncul: mengendalikan lawan di matras dan memaksa mereka menyerah melalui teknik submission.
Transisi ke MMA dan Karier Awal
Ketertarikan Puelles pada Mixed Martial Arts (MMA) muncul saat melihat perkembangan olahraga ini di Amerika Latin. Ia mulai memadukan keterampilan Muay Thai dengan kemampuan grappling, lalu mengikuti turnamen-turnamen lokal untuk mengasah kemampuannya.
Puelles memulai debut profesional di sirkuit MMA Amerika Selatan ketika masih berusia sangat muda. Meski menghadapi lawan-lawan yang lebih berpengalaman, ia menunjukkan ketangguhan mental dan kemampuan adaptasi luar biasa. Ia mencatat kemenangan demi kemenangan, sebagian besar melalui submission.
Kombinasi ini membuat namanya mulai dikenal di Peru dan Amerika Latin, dan ia mulai dipandang sebagai prospek muda yang potensial untuk bersaing di level internasional.
The Ultimate Fighter Latin America
Titik balik karier Puelles datang ketika ia terpilih mengikuti The Ultimate Fighter: Latin America (TUF), ajang pencarian bakat UFC yang disiarkan secara internasional. Bagi Puelles, ini adalah panggung sempurna untuk menunjukkan kemampuannya kepada dunia.
Di TUF, Puelles membuktikan dirinya sebagai salah satu petarung muda paling menjanjikan. Ia menunjukkan teknik grappling yang halus, ketenangan dalam tekanan, serta kemampuan membalikkan pertarungan. Meski belum menjadi juara di TUF, penampilannya cukup impresif untuk membuat UFC memberinya kontrak profesional.
Debut dan Perjalanan di UFC
Masuk ke UFC berarti Puelles harus bersaing di divisi Lightweight, salah satu divisi paling brutal dan padat talenta di organisasi tersebut. Debutnya tidak berjalan mulus, namun ia tidak menyerah. Sebaliknya, ia kembali ke gym, memperbaiki kekurangan, dan mengasah kembali teknik submission andalannya.
Puelles mulai membangun reputasi sebagai spesialis submission kneebar — teknik kuncian lutut yang jarang digunakan di UFC modern. Keberhasilannya mengeksekusi kneebar di level tertinggi membuat namanya semakin dikenal.
Kneebar: Senjata Pamungkas “Prince of Peru”
Banyak petarung memiliki signature move, tetapi sedikit yang mampu mengeksekusinya secara konsisten di level elite. Puelles adalah salah satunya. Kneebar miliknya menjadi momok menakutkan bagi lawan, terutama ketika ia berhasil membawa pertarungan ke ground.
Beberapa momen kneebar paling ikoniknya di UFC antara lain:
-
- Felipe Silva (2018)
Dalam pertarungan yang tampak hampir kalah, Puelles berhasil membalikkan keadaan dengan kneebar di ronde ketiga. Kemenangan ini dianggap salah satu comeback terbaik tahun itu. - Chris Gruetzemacher (2021)
Puelles menutup laga di ronde pertama dengan kneebar yang sangat cepat, membuktikan bahwa teknik ini bukan sekadar keberuntungan, tetapi hasil dari perencanaan dan eksekusi matang. - Clay Guida (2022)
Menghadapi veteran tangguh UFC, Puelles kembali membungkus kemenangan lewat kneebar di ronde pertama. Penampilan ini memberinya penghargaan “Performance of the Night”.
- Felipe Silva (2018)
Prestasi dan Penghargaan
-
- Finalis The Ultimate Fighter: Latin AmericaBeberapa kemenangan submission kneebar di UFC
- Penghargaan “Performance of the Night” UFC melawan Clay Guida
- Rekor impresif di UFC sebagai spesialis submissionlMenjadi ikon MMA Peru di panggung internasional
Gaya Bertarung dan Strategi
Claudio Puelles adalah petarung serba bisa yang nyaman bertarung di atas maupun bawah. Ciri khasnya:
-
- Striking: Memanfaatkan teknik Muay Thai untuk mengatur jarak, membuka peluang takedown, dan mengontrol tempo.
- Grappling: Ahli dalam transisi posisi, mampu berpindah dari guard ke posisi dominan dengan mulus.
- Submission: Fokus pada kuncian kaki, terutama kneebar, tetapi juga menguasai armbar dan choke.
- Ketahanan Mental: Mampu bertahan di bawah tekanan dan tetap mencari peluang menyelesaikan pertarungan.
Ambisi Masa Depan
Dengan usianya yang baru memasuki akhir 20-an, Puelles berada di puncak masa produktif atlet MMA. Ambisinya adalah menembus 15 besar Lightweight UFC, menghadapi nama-nama besar, dan membuktikan bahwa petarung dari Peru dapat menjadi penantang gelar dunia.
Ia juga berharap dapat menginspirasi generasi baru petarung Peru untuk mengejar mimpi mereka di kancah MMA global.
Sang Pangeran dari Peru yang Memburu Puncak Dunia
Claudio Puelles Martínez bukan sekadar petarung berbakat, tetapi juga pionir bagi MMA Peru di panggung terbesar dunia. Dengan julukan “Prince of Peru”, ia membawa nama bangsanya setiap kali masuk oktagon.
Kombinasi dedikasi tinggi, teknik submission mematikan, dan ketangguhan mental menjadikannya salah satu petarung yang paling menarik untuk disaksikan di UFC saat ini. Jika terus berkembang, bukan tidak mungkin suatu hari Puelles akan menjadi penantang gelar Lightweight dan mengibarkan bendera Peru di puncak UFC.
(PR/timKB).
Sumber foto: bodylockmma.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda