Jakarta – Perjalanan karier seseorang mega bintang dapat berubah dalam hitungan bulan saja. Dari pahlawan yang dielu-elukan menjadi pesakitan yang tidak hanya dicadangkan namun juga segera ingin dibuang. Hal itu menimpa Mohamed Salah, yang selama bertahun-tahun menjadi ikon tak tergantikan Liverpool, kini menghadapi realitas baru yang pahit. Keputusan Arne Slot untuk mencadangkannya dalam laga melawan West Ham bukan lagi kejutan, melainkan konsekuensi logis dari penurunan performa yang mengkhawatirkan. Statistik menunjukkan bahwa Raja Mesir ini bukan lagi kekuatan dominan yang sama seperti musim lalu, di mana ia memecahkan rekor kontribusi gol Liga Primer.
Musim ini, Salah baru mencetak lima gol dan tiga assist dalam 19 penampilan, sebuah penurunan drastis dari standar tingginya. Namun, masalahnya lebih dalam dari sekadar angka gol. Perubahan struktural, hilangnya rekan-rekan kunci di tim, dan peran taktis baru telah menggerus efektivitasnya. Salah kini lebih sering menyentuh bola di area yang tidak berbahaya, jauh dari kotak penalti lawan.
Yang paling mencolok adalah dampak kepergian Trent Alexander-Arnold. Salah kehilangan penyuplai bola utamanya, dan statistik membuktikan bahwa tidak ada pemain saat ini yang mampu mereplikasi koneksi telepati tersebut. Ditambah dengan efisiensi penyelesaian akhir yang menyentuh titik terendah, posisi Salah di starting XI kini benar-benar berada di bawah ancaman serius.
Baca juga: Mo Salah Raih Penghargaan PFA Awards 2025
Kehilangan para rekan satu tim yang telah menyatu dalam beberapa musim menjadi penyebab utama menurunnya performa Salah di musim ini. Satu yang paling berpengaruh secara signifikan adalah hilangnya Trent Alexander-Arnold dari sisi kanan Liverpool. Musim lalu, kombinasi keduanya adalah salah satu yang paling mematikan di dunia sepakbola, di mana Trent memberikan rata-rata 10,5 operan per 90 menit kepada Salah. Koneksi telepati ini adalah sumber utama peluang Salah yang kini telah hilang tak berbekas.
Dominik Szoboszlai dan Conor Bradley memang berusaha mengisi kekosongan tersebut, namun kualitas dan frekuensi suplai bola mereka jauh berbeda. Statistik mencatat Szoboszlai hanya memberikan rata-rata 7 operan per laga kepada Salah, sementara Bradley memberikan 9,1 operan. Penurunan volume suplai bola dari rekan setim di sisi kanan ini memaksa Salah untuk lebih sering turun menjemput bola, yang menguras staminanya.
Selain itu, Salah juga kehilangan koneksi dengan para penyerang tengah. Striker baru seperti Alexander Isak dan Hugo Ekitike memberikan operan yang jauh lebih sedikit kepada Salah dibandingkan Darwin Nunez dan Luis Diaz di musim lalu. Isak hanya mengoper 2 kali per laga, dan Ekitike lebih rendah lagi dengan 1,2 operan, sangat kontras dengan Nunez yang mencapai 3,4 operan.
Hilangnya “pelayan-pelayan” setia ini membuat Salah terisolasi dalam sistem permainan yang baru. Ia harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan bola dan menciptakan peluang bagi dirinya sendiri. Tanpa dukungan distribusi bola yang memadai dari bek kanan dan striker, Salah kehilangan efektivitasnya sebagai penyerang sayap yang menusuk ke dalam.
Mo Salah kini sedang berada di persimpangan jalan paling kritis dalam kariernya di Liverpool. Kombinasi faktor usia yang mulai mengejar, perubahan drastis rekan setim, duka pribadi pasca-tragedi Diogo Jota, dan sistem taktik baru telah menciptakan badai sempurna yang menggerus performanya. Ia bukan lagi pemain yang bisa mengubah hasil pertandingan sendirian.
(Yp/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda