Asadula Imangazaliev: “Mesin KO” Dari Rusia

Piter Rudai 06/01/2026 4 min read
Asadula Imangazaliev: “Mesin KO” Dari Rusia

Jakarta – Ada malam-malam tertentu di Lumpinee Stadium yang terasa seperti lahirnya sebuah era. Bukan karena lampu lebih terang atau penonton lebih bising, melainkan karena satu momen—satu tendangan—membuat semua orang serentak sadar: “anak ini berbahaya.” Di antara deretan talenta ONE Friday Fights, Asadula Imangazaliev muncul sebagai nama yang melesat cepat—petarung muda asal Rusia berusia 22 tahun, bertarung di flyweight Muay Thai ONE Championship, dan dikenal sebagai knockout artist dengan gaya agresif yang seolah diciptakan untuk panggung Jumat malam di Bangkok.

Yang paling membuat dunia menoleh adalah momen ketika ia menumbangkan Panpayak Jitmuangnon—legenda Thailand dan juara dunia Muay Thai—dengan KO lewat head kick di partai utama ONE Friday Fights 122 di Lumpinee Stadium. Itu bukan sekadar kemenangan; itu “pernyataan” bahwa hype bukan lagi milik orang lain. Malam itu, Imangazaliev mengambilnya untuk dirinya sendiri.

Profil singkat Asadula Imangazaliev

Di atas kertas, Imangazaliev tampak seperti paket yang rapi—bahkan “terlalu rapi” untuk ukuran talenta muda:

    • Negara: Rusia
    • Usia: 22 tahun
    • Tinggi: 180 cm
    • Batas berat: 132.7 lbs / 60.2 kg (flyweight Muay Thai ONE)
    • Tim: Team Mehdi Zatout
    • Ciri khas: gaya Muay Thai agresif, cepat memotong jarak, dan senjata pamungkas berupa tendangan tinggi yang sering muncul seperti kilat.

Namun angka dan data tidak sepenuhnya menangkap “rasa” dari gaya bertarungnya. Yang membuatnya menonjol adalah cara ia memulai ronde seperti orang yang tidak percaya pada konsep pemanasan—seolah ia ingin memaksa lawan menerima kenyataan sejak menit pertama.

Jalan menuju ONE: menang beruntun dan reputasi “finisher”

Di ONE Championship, rekam jejak Imangazaliev dalam Muay Thai menunjukkan pola yang jelas: menang, lalu menang dengan cara yang meyakinkan.

Pada catatan resmi ONE, ia mencatat kemenangan-kemenangan penting di seri ONE Friday Fights, termasuk:

    • KO ronde 1 (1:00) atas Dedduanglek TDed99 di ONE Friday Fights 90
    • Menang UD atas Mohamed Taoufyq di ONE Friday Fights 98
    • KO ronde 2 (0:52) atas Denphuthai Superlek Muay Thai di ONE Friday Fights 113

Rangkaian hasil ini penting karena memperlihatkan dua sisi yang membuat petarung muda cepat naik daun:

    1. Ia bisa menyelesaikan laga cepat (KO ronde 1/2).
    2. Ia juga bisa menang “tiga ronde penuh” ketika lawan cukup tahan untuk bertahan sampai bel akhir (kemenangan UD).

Bagi divisi flyweight Muay Thai yang menuntut stamina dan tempo tinggi, kemampuan menang dalam dua skenario itu adalah modal besar. Finisher yang hanya bisa menang cepat sering “habis akal” saat lawan bertahan. Imangazaliev sudah menunjukkan ia bisa tetap menang ketika pertarungan dipaksa memanjang.

Panggung terbesar: melawan Panpayak, dan satu tendangan yang mengubah peta

Semua jalur kemenangan itu akhirnya mengantar Imangazaliev ke ujian yang terasa seperti “gerbang kedewasaan”: menghadapi Panpayak Jitmuangnon. Jelang laga, ONE sendiri menggambarkan momen itu sebagai kesempatan terbesar dalam kariernya—main event, Lumpinee, dan lawan yang statusnya legenda.

Lalu pada 29 Agustus 2025, di ONE Friday Fights 122, yang terjadi justru seperti potongan film: Imangazaliev mendaratkan head kick yang menghentikan Panpayak di ronde pertama. Catatan resmi hasil pertandingan menyebut kemenangan itu terjadi via KO pada 2:07 ronde 1.

ONE menyebut momen itu sebagai kemenangan KO lewat tendangan tinggi yang membawa Imangazaliev meraih “kontrak idaman” (kontrak bernilai enam digit) dan semakin menguatkan posisinya di jajaran talenta elite yang berpeluang masuk roster utama/global.

Bagi penonton, detail paling menggetarkan bukan sekadar angka 2:07. Yang terasa adalah pesan psikologisnya: jika legenda sekelas Panpayak bisa “padam” oleh satu serangan, maka siapa pun di divisi ini harus menghitung ulang risikonya.

Gaya bertarung: agresif, cepat, dan “tendangan tinggi kanan” sebagai stempel

Mengapa Imangazaliev terlihat begitu mematikan?

Karena ia bertarung dengan filosofi yang sederhana: ambil ruang, paksa reaksi, lalu hajar saat lawan ragu. Ia bukan petarung yang menunggu lawan membuat kesalahan besar; ia menciptakan situasi sempit yang membuat kesalahan kecil menjadi fatal.

Dalam tayangan sorotan ONE, kemenangan atas Panpayak ditegaskan datang dari head kick—serangan yang terasa “bersih” dan presisi, bukan sekadar ayunan putus asa.

Di flyweight Muay Thai, banyak petarung cepat. Yang membedakan adalah siapa yang bisa tetap tajam saat tempo meninggi. Imangazaliev membangun reputasinya dari situ: ia tidak hanya cepat, tetapi juga “berani” memilih senjata berisiko tinggi—tendangan tinggi—di panggung dan lawan terbesar. Dan ketika senjata itu mendarat, hasilnya bukan sekadar knockdown… tapi penutup.

Prestasi dan sorotan penting

Berikut titik-titik yang paling menonjol dari perjalanan awalnya di ONE:

    • Menang KO atas Panpayak Jitmuangnon di main event ONE Friday Fights 122 (KO R1 2:07) di Lumpinee Stadium
    • Rangkaian kemenangan di ONE Friday Fights, termasuk KO cepat atas Dedduanglek dan Denphuthai, serta kemenangan UD atas Mohamed Taoufyq
    • Meraih kontrak bernilai enam digit / kontrak idaman usai kemenangan KO atas Panpayak (menurut laporan resmi ONE)

Usia 22, tapi mental “main event”

Yang membuat Imangazaliev terasa istimewa bukan hanya hasil, melainkan konteksnya: usia 22 sering identik dengan petarung yang masih “belajar panggung.” Namun ia sudah tampil sebagai headliner melawan ikon Thailand di Lumpinee—panggung yang bagi petarung Muay Thai punya aura seperti ujian kehormatan.

Dan menariknya, ONE sendiri mencatat total durasi laga-laga ONE-nya yang relatif singkat (rata-rata sekitar tiga menit), seolah menggambarkan betapa sering ia membuat pertarungan berakhir sebelum sempat menjadi rumit.

Jika ia terus menang dengan cara seperti ini, narasi tentang dirinya akan sulit dihindari: talenta yang bukan sekadar menang—tetapi mengubah cara orang memandang divisi flyweight.

Setelah Panpayak, apa berikutnya?

Menjatuhkan Panpayak di Lumpinee bukan garis akhir—itu justru “tanda” bahwa langkah berikutnya akan lebih berat. Dalam olahraga seperti Muay Thai di ONE, satu KO spektakuler bisa membuatmu dicari: lawan-lawan yang lebih cerdas, lebih sabar, lebih kuat, dan lebih terbiasa menghadapi tekanan.

Namun, bila ada satu hal yang sudah jelas dari Asadula Imangazaliev: ia tidak datang untuk menunggu giliran. Ia datang untuk mengambilnya—dengan tendangan tinggi, kombinasi cepat, dan keyakinan bahwa ronde awal adalah wilayah kekuasaannya.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...