Jakarta – Liverpool Football Club, yang dikenal sebagai The Reds, adalah salah satu klub sepak bola paling ikonik dan sukses di dunia. Didirikan pada tahun 1892, klub yang berbasis di Anfield ini telah mengukir sejarah panjang yang penuh dengan drama, tragedi, dan kejayaan, menjadikannya raksasa abadi dalam lanskap sepak bola Inggris dan Eropa. Kisah klub ini adalah cerminan dari identitas kota yang pekerja keras, yang semangatnya diabadikan dalam lagu kebangsaan mereka, “You’ll Never Walk Alone”.
Kelahiran dan Tahun-Tahun Awal (1892–1959)
Kelahiran Liverpool FC adalah hasil dari perselisihan sewa stadion. Pemilik Anfield saat itu, John Houlding, berselisih sengit dengan komite Everton FC. Ketika Everton memutuskan pindah ke Goodison Park, Houlding ditinggalkan dengan stadion kosong. Alih-alih menutupnya, ia membentuk klub baru, menamakannya Liverpool FC. Mereka dengan cepat menunjukkan ambisi, memenangkan Liga Lancashire di musim perdananya dan mendapatkan tempat di Liga Sepak Bola pada tahun 1893.
Liverpool segera mengukuhkan diri sebagai kekuatan di Inggris Utara. Gelar Liga Divisi Pertama pertama mereka diraih pada musim 1900–01, diikuti oleh gelar kedua pada musim 1905–06. Periode kejayaan terbesar di paruh pertama abad ke-20 terjadi di awal tahun 1920-an, di mana mereka berhasil memenangkan gelar liga berturut-turut pada 1921–22 dan 1922–23, berkat kontribusi pemain kunci seperti Elisha Scott. Namun, memasuki era pasca-Perang Dunia II, performa klub mengalami penurunan, dan pada akhir 1950-an, mereka terperosok di Divisi Kedua.
Revolusi Shankly dan Fondasi Budaya (1959–1974)
Titik balik terpenting, yang membentuk Liverpool modern, terjadi pada Desember 1959 ketika manajer karismatik, Bill Shankly, diangkat. Shankly, yang melihat potensi besar, dengan cepat merevolusi klub dari atas ke bawah, mengubahnya menjadi apa yang ia sebut sebagai “benteng yang tak tertembus”. Ia memperkenalkan fasilitas latihan yang lebih baik di Melwood, mendorong filosofi “passing and movement” yang cair dan cepat, dan, secara ikonik, mengubah seragam The Reds dari shirt merah dengan celana putih menjadi serba merah, yang diyakininya memberikan keunggulan psikologis.
Shankly membawa Liverpool kembali ke Divisi Pertama pada tahun 1962 dan meraih gelar Liga pada tahun 1964, mengakhiri penantian 17 tahun. Di bawah kepemimpinannya, Liverpool memenangkan total tiga gelar Liga, dua Piala FA, dan yang paling krusial, trofi Eropa pertama mereka: Piala UEFA pada tahun 1973. Shankly tidak hanya membangun tim hebat; ia membangun sebuah budaya, menanamkan kebanggaan pada suporter dan pemain, yang diwujudkan dalam moto ikoniknya, “This is Anfield”. Warisannya adalah cetak biru untuk kesuksesan yang berlanjut.
Dominasi Eropa: Warisan Boot Room (1974–1989)
Setelah Shankly pensiun pada tahun 1974, ia menyerahkan kendali kepada asistennya, Bob Paisley, melanjutkan tradisi unik “Boot Room” di mana para pelatih klub memastikan transisi kepemimpinan yang mulus. Paisley memimpin era dominasi klub yang paling cemerlang dan dianggap sebagai manajer Liverpool yang paling sukses.
Dalam sembilan tahun, Paisley meraih 20 trofi, sebuah rekor luar biasa. Ini termasuk enam gelar Liga Inggris, tiga Piala Liga, dan yang paling mentereng, tiga Piala Eropa/Liga Champions (1977, 1978, 1981). Kesuksesan berlanjut di tangan anggota Boot Room lainnya, Joe Fagan, yang memenangkan Treble (Liga Inggris, Piala Liga, dan Piala Eropa) pada tahun 1984.
Periode emas ini dilanjutkan oleh Kenny Dalglish, salah satu pemain terhebat klub, yang mengambil alih sebagai manajer-pemain pada tahun 1985. Dalglish memenangkan tiga gelar Liga lagi dan dua Piala FA, memperkuat posisi Liverpool sebagai raja sepak bola Inggris dan Eropa.
Tragedi, Perjuangan, dan Masa Sulit (1985–2015)
Meskipun kesuksesan olahraga melimpah, klub ini juga harus menanggung tragedi besar. Pertama adalah Tragedi Heysel (1985) di final Piala Eropa, yang merenggut nyawa 39 suporter dan berujung pada larangan lima tahun bagi klub-klub Inggris di Eropa. Lebih menghancurkan lagi, Tragedi Hillsborough (1989) menewaskan 97 suporter dalam semifinal Piala FA. Tragedi ini menjadi luka mendalam yang mendefinisikan perjuangan klub untuk keadilan selama beberapa dekade, memperkuat ikatan emosional antara tim dan basis penggemar mereka.
Setelah masa sukses Dalglish, klub memasuki periode tanpa gelar liga. Meskipun memenangkan beberapa trofi piala, termasuk Treble Piala tahun 2001 di bawah Gérard Houllier, dan kemenangan heroik Liga Champions UEFA 2005 di Istanbul di bawah Rafael Benítez (setelah comeback 3-0 melawan AC Milan yang dikenal sebagai “The Miracle of Istanbul”), klub gagal meraih gelar Liga Inggris (Divisi Pertama/Liga Primer) selama 30 tahun.
Kebangkitan Abad ke-21 dan Era Klopp (2015–Sekarang)
Kebangkitan sejati ke puncak sepak bola global terjadi dengan kedatangan manajer Jerman yang penuh semangat, Jürgen Klopp, pada Oktober 2015. Klopp memperkenalkan filosofi “Gegenpressing” yang berintensitas tinggi dan membangun tim yang bersemangat, berenergi, dan sangat terorganisir.
Di bawah Klopp, Liverpool kembali menjadi kekuatan yang ditakuti di Eropa. Puncak era ini adalah kemenangan Liga Champions UEFA 2019, mengalahkan Tottenham Hotspur di final. Akhirnya, pada musim 2019–2020, The Reds meraih gelar Liga Primer Inggris, mengakhiri penantian 30 tahun yang menyakitkan dengan penampilan yang mendominasi. Klopp mengembalikan Liverpool ke puncak, memenangkan setiap trofi utama yang tersedia, termasuk Piala Dunia Antarklub FIFA, Piala Super UEFA, Piala FA, dan Piala Liga.
Hingga kini, Liverpool FC memiliki total 19 gelar Liga Inggris, 6 Liga Champions (membuat mereka menjadi klub Inggris tersukses di Eropa), 8 Piala FA, dan 10 Piala Liga. Sejarah The Reds adalah kisah tentang ketahanan, tradisi, dan janji abadi antara tim dan pendukungnya, di mana setiap kesulitan pada akhirnya dilewati dengan kejayaan.
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda