Jakarta – Ada petarung yang menang karena “lebih rapi”. Ada juga petarung yang menang karena membuat pertarungan berubah menjadi badai—tempo tinggi, tekanan tanpa putus, dan ancaman selesai dari dua arah: pukulan keras atau kuncian yang tiba-tiba mengunci leher. Mateusz Tadeusz Rębecki adalah tipe kedua.
Lahir pada 3 Oktober 1992 di Gryfice, Polandia, Rębecki datang dari lingkungan MMA Eropa yang keras dan “lapar”—sebuah kultur yang membuat petarung terbiasa menutup jarak, mematahkan ritme, lalu memaksa lawan bertahan di bawah gelombang serangan. Ia bertarung di divisi lightweight UFC, dan sejak awal dikenal sebagai petarung dengan identitas yang jelas: agresif, eksplosif, dan sulit ditebak.
Di atas kertas, rekornya menggambarkan keseimbangan yang berbahaya: 9 kemenangan KO/TKO, 7 kemenangan submission, dan 4 kemenangan keputusan, sebuah distribusi yang menandakan ia bisa menyelesaikan laga di mana pun pertarungan berada—di kaki atau di matras.
Julukannya pun seperti dua wajah yang berbeda: “Rebeasti”—menggambarkan sisi buasnya—dan “Chińczyk/Chinczyk”, nama panggilan yang sudah melekat lama di sirkuit Polandia.
Profil singkat Mateusz Rębecki
-
- Nama lengkap: Mateusz Tadeusz Rębecki
- Tanggal lahir: 3 Oktober 1992
- Tempat lahir: Gryfice, Polandia
- Divisi: Lightweight (UFC)
- Stance (data ESPN): Southpaw
- Julukan: “Rebeasti”, “Chińczyk/Chinczyk”
- Gaya umum: tekanan tempo tinggi; striking keras + submission tajam (tercermin dari sebaran kemenangan KO dan kuncian).
Dari Gryfice ke “pabrik petarung” Szczecin: identitas yang dibentuk oleh grind
Kalau kamu menonton Rębecki bertarung, ada satu hal yang terasa konstan: ia tidak suka membiarkan lawan bernapas nyaman. Ia menekan—bukan sekadar maju, tapi mendikte. Gaya ini sangat cocok dengan DNA gym Polandia yang terkenal keras, terutama saat ia berkembang sebagai petarung yang “hidup” dari pace dan kekuatan grappling.
Di catatan publik, Rębecki berafiliasi dengan Berserker’s Team dan juga sempat tercatat bersama American Top Team. Namun benang merahnya jelas: ia adalah petarung yang memadukan striking agresif dengan kemampuan submission yang nyata—bukan tempelan.
Rekor KO dan submission yang sama-sama tebal itu bukan kebetulan. Itu biasanya hasil dari dua hal: (1) keberanian untuk mengambil risiko dalam pertukaran, dan (2) kenyamanan untuk “mengunci” ketika lawan panik atau terlalu fokus menahan pukulan.
Naik takhta di FEN: ketika Rębecki menjadi juara dan mulai terdengar di luar Polandia
Sebelum UFC, Polandia punya panggung yang penting: Fight Exclusive Night (FEN). Di sanalah Rębecki membangun reputasi sebagai mesin tekanan—petarung yang sanggup bertarung 5 ronde, tapi juga bisa menyudahi laga dengan kekerasan.
Puncak fase ini datang pada FEN 20: Next Level (10 Maret 2018). Dalam laga perebutan sabuk lightweight FEN yang kosong, Rębecki menghadapi Marian Ziółkowski dan menang lewat KO/TKO (punches) pada 3:49 ronde 4 (dari 5 ronde).
Bukan hanya menang—cara menangnya menyampaikan pesan: Rębecki bukan sekadar grappler. Ia bisa memecahkan lawan dengan tangan, dan bisa mempertahankan ancaman itu sampai ronde-ronde akhir.
Fase juara ini diakui luas: ia tercatat sebagai mantan FEN Lightweight Champion. Dan dari sana, narasi “pintu UFC” mulai terasa semakin dekat.
Dana White’s Contender Series 2022: 3 menit 5 detik yang mengubah hidup
Bagi banyak petarung Eropa, Dana White’s Contender Series (DWCS) adalah gerbang yang paling logis: tampil sekali, menang meyakinkan, dapat kontrak. Rębecki melakukan itu dengan cara paling “Rębecki”: cepat, menekan, lalu mengunci.
Pada DWCS Season 6 Week 6 (30 Agustus 2022), ia menghadapi Rodrigo Lídio dan menang lewat submission (rear-naked choke) pada 3:05 ronde 1.
Kemenangan ini bukan sekadar menang. Ini statement: kalau kamu memberi Rębecki ruang sedikit saja untuk mengikat posisi, lehermu bisa selesai. Dan benar—laga itu menjadi tiket kontrak menuju UFC, sebagaimana juga tercatat di rangkuman resmi hasil DWCS.
Masuk UFC: awal yang menjanjikan, lalu ujian keras yang membentuknya
Di UFC, Rębecki melanjutkan identitasnya sebagai petarung tempo tinggi. Catatan pertarungannya memperlihatkan naik-turun yang wajar untuk petarung yang bertarung “panas”—gaya yang bisa menciptakan kemenangan spektakuler, tapi juga membuka risiko saat lawan elite mulai membaca pola.
Wikipedia merangkum awal karier UFC-nya dengan beberapa momen kunci: debut UFC menang keputusan, lalu kemenangan TKO, lalu submission—seolah menegaskan “paket lengkap”-nya memang nyata.
Namun UFC selalu menagih harga. Ia mengalami kekalahan KO/TKO dari Diego Ferreira pada 2024, sebuah pengingat bahwa di level ini, sedikit kelengahan saja bisa jadi akhir ronde.
Tapi yang menarik, Rębecki bukan petarung yang mengecil setelah kalah. Ia cenderung menjadi lebih berbahaya—karena rasa urgensinya makin besar.
“Rebeasti” meledak di UFC 308: perang berdarah yang mengukuhkan reputasi
Jika ada satu pertarungan yang mengubah cara publik melihat Rębecki, itu adalah duel melawan Myktybek Orolbai di UFC 308.
Laporan MMA Fighting menggambarkan duel itu sebagai salah satu pertarungan paling brutal dan berdarah tahun tersebut: pertukaran keras tiga ronde, kerusakan di wajah lawan, dan keputusan split yang membuat arena ikut menahan napas.
Yang lebih penting: duel itu resmi menghasilkan Fight of the Night.
Buat Rębecki, penghargaan itu seperti cap kualitas: ia bukan hanya menang. Ia menghibur, tahan banting, dan tetap mematikan dalam chaos—persis karakter petarung yang disukai UFC, karena setiap kali namanya ada di kartu, fans tahu satu hal: ini bisa jadi perang.
Tempo tinggi sebagai identitas: mengapa Rębecki sulit diprediksi?
Ada alasan mengapa Rębecki sering terlihat “liar”, tapi sebenarnya terstruktur.
-
- Southpaw + tekanan maju
Southpaw memberi sudut serangan yang berbeda, dan saat dipadukan dengan tekanan, lawan sering dipaksa bergerak ke arah yang tidak nyaman. - Ancaman ganda: KO atau submission
Rekornya menunjukkan keseimbangan nyata antara penyelesaian lewat pukulan dan kuncian.
Ini membuat lawan tidak bisa “memilih satu pertahanan”. Saat fokus menahan tangan, leher terbuka. Saat fokus menahan kuncian, dagu bisa kena. - Pace yang merusak rencana lawan
Banyak petarung punya gameplan yang butuh ritme. Rębecki memaksa pertarungan jadi “tidak nyaman”—dan di titik itu, kemampuan bertahan mental sering jadi penentu.
- Southpaw + tekanan maju
Periode 2025: kalah pun tetap jadi tontonan (dan tetap dapat bonus)
Tahun 2025 memberi contoh lain tentang siapa Rębecki sebenarnya: bahkan ketika hasil tidak memihak, gaya bertarungnya tetap menghasilkan duel yang layak bonus.
Di UFC Fight Night: Taira vs. Park (2 Agustus 2025), Rębecki kalah keputusan dari Chris Duncan, namun UFC sendiri menyebut laga itu sebagai “entertaining scrap”, dan berbagai laporan bonus menegaskan pertarungan tersebut meraih Fight of the Night.
ESPN juga menampilkan kekalahan itu dalam riwayat laga 2025, bersama hasil lain di tahun yang sama, menunjukkan betapa padatnya jadwal dan kerasnya kompetisi di lightweight.
Dalam konteks karier, ini penting: ada petarung yang ketika kalah menjadi “biasa”. Rębecki justru sering tetap menciptakan perang—dan itu membuatnya selalu relevan dalam percakapan matchmaking.
Rębecki adalah jenis petarung yang membuat lightweight selalu hidup
Divisi lightweight UFC adalah tempat paling ramai—bakat melimpah, teknik tinggi, dan margin kesalahan tipis. Dalam keramaian itu, Mateusz Rębecki menonjol bukan karena gaya yang paling indah, tetapi karena gaya yang paling “mengganggu”: tempo tinggi, tekanan tanpa henti, dan ancaman selesai dari dua arah.
Dari Gryfice ke panggung Polandia sebagai juara FEN, lalu mengunci kontrak UFC lewat RNC 3:05 ronde 1 di DWCS, hingga mencetak perang legendaris dan meraih Fight of the Night—Rębecki membuktikan bahwa “Rebeasti” bukan hanya julukan. Itu cara dia bertarung.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda