Bekzat Almakhan “The Turan Warrior”: Dari Desa Akzhar Ke UFC

Piter Rudai 16/03/2026 4 min read
Bekzat Almakhan “The Turan Warrior”: Dari Desa Akzhar Ke UFC

Jakarta – Ada petarung yang tumbuh di kota besar, dekat pusat latihan elit, dekat media, dekat kesempatan. Bekzat Almakhan lahir dari cerita yang jauh lebih sunyi: desa Akzhar, Bayzak District, Jambyl Region, Kazakhstan, pada 8 Oktober 1997.

Namun “sunyi” bukan berarti lemah. Dari tempat seperti itu, banyak atlet tumbuh dengan satu kebiasaan yang membentuk karakter: jika ingin diakui, kamu harus membuktikannya berkali-kali. Dan itulah yang dilakukan Almakhan—membangun karier sejak 2018, mengumpulkan kemenangan demi kemenangan, sampai reputasinya menjadi sangat jelas: finisher.

Julukannya “The Turan Warrior” bukan sekadar tempelan. Ia selaras dengan gaya bertarungnya: orthodox, striking eksplosif, tekanan konstan, dan pukulan yang punya niat menyelesaikan. Catatan profesionalnya menunjukkan identitas itu secara terang: 12 menang – 3 kalah, dengan 10 KO/TKO, 1 submission, dan 1 keputusan.

Profil singkat

    • Nama: Bekzat Almakhan
    • Julukan: The Turan Warrior
    • Lahir: 8 Oktober 1997, Akzhar (Bayzak District, Jambyl Region), Kazakhstan
    • Divisi: UFC Bantamweight (135 lbs/61 kg)
    • Stance: Orthodox
    • Jangkauan: 68 inci (data profil publik)
    • Rekor pro: 12–3 (10 KO/TKO, 1 SUB, 1 DEC)
    • Aktif pro: sejak 2018

Akzhar, Jambyl, Kazakhstan: tempat petarung dibentuk oleh kebiasaan, bukan fasilitas

Kisah Almakhan terasa “Asia Tengah” sekali—bukan karena gaya bicaranya, tapi karena pola hidupnya: kerja keras dulu, sorotan belakangan. Di banyak wilayah Kazakhstan, atlet tarung tumbuh dari kompetisi yang menuntut mental: kamu sering harus menang tanpa banyak panggung, melawan lawan yang tidak selalu “sesuai rencana”, dan tetap tampil meyakinkan agar namamu naik kelas.

Almakhan memulai karier profesional pada 2018. 

Dari awal, arah jalannya terlihat jelas: ia bukan tipe yang mengumpulkan kemenangan “aman”. Ia mengumpulkan kemenangan yang membuat orang ingat—dan paling mudah diingat dalam MMA adalah KO.

Gaya bertarung

Kalau kamu ingin menggambarkan Almakhan dalam satu kalimat: striker yang selalu ingin berada selangkah lebih dekat.

Di bantamweight, jarak adalah segalanya. Banyak petarung menang karena kaki mereka cepat, bukan karena pukulan paling keras. Almakhan memilih cara yang lebih berbahaya: mengubah pertarungan menjadi “ruang sempit” di mana lawan dipaksa mengambil keputusan cepat.

Ciri gaya “Turan Warrior” bisa diringkas menjadi tiga lapis:

a. Tekanan konstan

Ia ingin lawan bergerak mundur. Bukan untuk “menang poin”, tapi untuk membuat lawan berhenti berpikir. Begitu lawan berhenti berpikir, pertahanan mulai terlambat.

b. Ledakan pukulan

Rekor 10 KO/TKO dari 12 kemenangan menunjukkan bahwa serangan Almakhan bukan sekadar volume—ada daya rusak.

c. Rute darurat yang tetap ada

Meski identitas utamanya striking, ia punya 1 kemenangan submission—yang berarti ia tidak sepenuhnya “buta” ketika pertarungan menyentuh grappling.

Pintu UFC

UFC tidak selalu memberi “laga pemanasan” untuk pendatang baru. Dalam kasus Almakhan, ia langsung masuk ke api: debutnya melawan Umar Nurmagomedov pada 2 Maret 2024. Ia kalah lewat keputusan bulat—namun laga itu justru membuat namanya cepat dikenal karena ia sempat menjatuhkan Umar di ronde pertama sebelum pertarungan kemudian banyak dikendalikan Umar lewat grappling.

Untuk prospek baru, debut seperti ini kadang lebih berharga daripada debut mudah: publik dan matchmaker melihat kamu “nyata”. Kamu tidak datang hanya untuk mengisi kartu pertandingan.

Titik balik

Jika debut melawan Umar adalah pengenalan, maka pertarungan berikutnya adalah deklarasi.

Pada 10 Mei 2025 di UFC 315, Almakhan menghadapi Brad Katona dan menang KO ronde 1 pada 1:04.

Laporan media menyebut KO itu datang dari uppercut yang tepat waktu saat Katona mencoba masuk takedown—lalu disusul pukulan lanjutan sampai wasit menghentikan laga.

Kemenangan ini punya makna besar karena Katona dikenal berpengalaman dan tangguh. Ketika Almakhan menghentikannya secepat itu, pesan yang tersampaikan jelas: pukulan Almakhan tidak butuh banyak kesempatan.

Ujian berikutnya

Setelah KO yang mengangkat namanya, Almakhan kembali diuji oleh gaya berbeda. Pada 22 November 2025 di UFC Fight Night 265, ia menghadapi Aleksandre Topuria dan kalah lewat keputusan bulat.

Kekalahan keputusan sering menjadi cermin paling jujur bagi petarung pressure-striker:

    • Apakah tekananmu benar-benar “mencetak damage”, atau hanya membuatmu terlihat sibuk?
    • Apakah kamu bisa memotong cage lebih rapi tanpa membuka diri?
    • Apakah kamu bisa mengubah tempo di tengah ronde, bukan hanya maju terus?

Untuk petarung dengan power seperti Almakhan, pelajaran ini penting. Di bantamweight, lawan-lawan top adalah mereka yang bisa bertahan dari tekanan dan tetap disiplin selama 15 menit.

Prestasi dan aspek menarik:

1. Finisher di divisi paling padat

Bantamweight UFC adalah divisi yang penuh petarung komplet. Fakta bahwa Almakhan punya 10 KO/TKO menjadikannya ancaman instan—bahkan ketika ia belum “mapan” dalam ranking.

2. Berani masuk lewat pintu sulit

Debut melawan Umar Nurmagomedov bukan jalur nyaman—dan justru itu yang mempercepat kematangan.

3. KO Katona sebagai “cap” karier

KO 64 detik di UFC 315 bukan sekadar kemenangan; itu momen yang mengubah cara orang menyebut namanya—dari prospek regional menjadi petarung UFC yang bisa mematikan siapa pun dalam satu momen.

4. Narasi Kazakhstan yang semakin kuat di UFC

Semakin banyak petarung Kazakhstan muncul di panggung besar, dan Almakhan membawa warna berbeda: bukan grappler murni, melainkan striker finisher yang agresif—tipe yang selalu dicari untuk kartu pertandingan.

Bekzat Almakhan sudah memperlihatkan dua hal yang biasanya tidak datang bersamaan pada prospek muda: keberanian masuk melawan lawan besar, dan kemampuan mencetak KO yang mencolok.

Sekarang tantangannya adalah naik level tanpa membunuh senjata utamanya. Ia tidak perlu berubah menjadi petarung yang “aman”—karena nilai terbesar Almakhan justru ada pada tekanan dan ledakannya. Ia hanya perlu menambah lapisan: timing, variasi tempo, dan disiplin defensif. Jika itu terjadi, “The Turan Warrior” bisa berubah dari petarung yang berbahaya… menjadi petarung yang konsisten menang.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...