Alessandro Costa: Petarung Brasil Di Divisi Flyweight UFC

Piter Rudai 24/06/2026 5 min read
Alessandro Costa: Petarung Brasil Di Divisi Flyweight UFC

Jakarta – Dalam dunia MMA, ada petarung yang langsung melesat karena hype, tetapi ada juga yang justru menjadi menarik karena perjalanan mereka terasa lebih keras, lebih manusiawi, dan lebih penuh liku. Alessandro Costa termasuk dalam kelompok kedua. Ia adalah petarung asal Brasil yang lahir pada 28 Januari 1996 dan kini berkompetisi di divisi flyweight UFC. Profil resmi UFC dan ESPN sama-sama menegaskan bahwa Costa dikenal dengan julukan “Nono”, bertarung di kelas flyweight, memakai stance orthodox, dan memiliki tinggi sekitar 163 cm dengan berat tanding sekitar 56–57 kg.

Yang membuat kisah Alessandro Costa menarik bukan sekadar angka 15 kemenangan itu, melainkan bentuk dari kemenangan-kemenangan tersebut. Ia bukan petarung satu dimensi. Enam kemenangan lewat KO/TKO menunjukkan daya rusak yang nyata di atas kaki, tetapi enam kemenangan submission juga menegaskan bahwa jiu-jitsu-nya bukan sekadar pelengkap. Dalam divisi flyweight yang terkenal cepat, teknis, dan sangat dinamis, petarung dengan paket selengkap ini selalu berbahaya. Costa tidak hanya bisa menyerang dari satu arah. Ia bisa membuat lawan waspada di hampir semua fase pertarungan.

Dari sisi identitas teknik, deskripsi tentang Costa sebagai petarung dengan dasar Brazilian Jiu-Jitsu sangat tepat. Profil ESPN secara eksplisit menuliskan gaya utamanya sebagai Brazilian Jiu-Jitsu, sementara UFC Stats menampilkan stance-nya sebagai orthodox. Tetapi menariknya, Costa tidak tampil seperti grappler pasif yang hanya menunggu momen di matras. Dalam banyak pertarungan, ia justru terlihat agresif, nyaman berdiri, lalu menggunakan grappling sebagai ancaman kedua yang sama seriusnya. Itulah yang membuatnya sukar dibaca. Ia adalah petarung jiu-jitsu yang bisa bertarung seperti striker, sekaligus striker yang tidak pernah membuat lawan lupa bahwa submission bisa datang kapan saja.

Perjalanan menuju UFC milik Alessandro Costa juga bukan cerita instan. Ia datang dari jalur panjang, dengan reputasi yang dibangun perlahan. Sebuah sumber menempatkannya sebagai petarung Brasil yang kemudian bertarung dari Mexico, sesuatu yang memberi warna tersendiri pada kariernya. Itu menandakan bahwa Costa bukan hanya dibentuk oleh akar Brasil, tetapi juga oleh pengalaman lintas lingkungan latihan yang memperkaya cara bertarungnya. Bagi petarung flyweight, fleksibilitas seperti ini sangat penting, karena kelas tersebut menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi dari ronde ke ronde.

Salah satu hal yang menonjol dari kisah Costa adalah bahwa ia bukan petarung yang hidup di dunia yang terlalu rapi. Ia sudah merasakan fase menang, kalah, bangkit, lalu jatuh lagi. Artikel MMA Fighting yang terbit baru-baru ini bahkan menyorot bagaimana Costa sempat melalui pertarungan yang sangat sulit akibat cedera kaki mengerikan pada 2025, ketika jari kakinya tersangkut di pagar dan robek, tetapi ia tetap memaksakan diri bertarung. Belakangan Costa sendiri mengakui bahwa itu bukan keputusan terbaik, walau ia tidak menyesal sepenuhnya karena menganggapnya sebagai pelajaran. Detail seperti ini membuat sosoknya terasa lebih hidup. Ia bukan petarung steril dari rasa sakit, melainkan atlet yang benar-benar pernah menanggung kerasnya olahraga ini secara fisik maupun mental.

Bab penting terbaru dalam karier Alessandro Costa datang pada 4 April 2026 di UFC Fight Night: Moicano vs. Duncan, ketika ia menghadapi Stewart Nicoll. Malam itu, Costa tampil sangat tajam dan menutup pertarungan lewat KO/TKO ronde kedua pada 4:56. UFC menulis hasil itu secara resmi, sementara video dan liputan pascalaga menyorot bahwa penyelesaian tersebut datang dari serangan ke tubuh yang sangat rapi. Sebuah sumber bahkan menampilkan highlight khusus tentang body shot itu, menegaskan bahwa kemenangan tersebut bukan kebetulan, melainkan hasil dari persiapan dan pola serangan yang memang sudah ia latih. Kemenangan itu juga memberinya Performance of the Night bonus, sesuatu yang menegaskan bahwa penampilannya malam itu benar-benar meninggalkan kesan besar.

Kemenangan atas Stewart Nicoll sangat penting untuk memahami siapa Alessandro Costa sekarang. Pada titik itu, ia masuk ke laga dengan tekanan besar. MMA Fighting mencatat bahwa sebelum pertarungan tersebut, rekor UFC Costa berada di 2-3, sehingga duel melawan Nicoll terasa seperti persimpangan penting dalam kariernya. Menang dengan body-shot TKO dan bonus performa berarti Costa bukan hanya bertahan hidup di roster, tetapi juga berhasil mengubah narasi. Ia menunjukkan bahwa dirinya masih berkembang, masih berbahaya, dan masih sangat layak diperhitungkan di divisi flyweight.

Menariknya, kemenangan itu juga memperlihatkan lapisan lain dari Alessandro Costa. Banyak orang mengenalnya karena jiu-jitsu, tetapi malam itu justru striking-nya menjadi pusat perhatian. Ini yang membuat profilnya semakin menarik. Ia bukan petarung yang terkunci pada satu identitas. Ketika lawan mengira ancaman utamanya ada di matras, Costa bisa mematikan mereka lewat serangan tubuh. Dan ketika lawan terlalu fokus pada striking, ancaman submission-nya tetap hidup. Dalam MMA modern, petarung seperti ini punya peluang besar untuk terus berkembang karena lawan tidak pernah bisa bersiap hanya untuk satu versi dirinya.

Aspek lain yang relevan adalah situasi terbarunya di UFC. Beberapa laporan terbaru menunjukkan bahwa Alessandro Costa kini dijadwalkan menghadapi Matt Schnell pada UFC Fight Night: Muhammad vs. Bonfim tanggal 6 Juni 2026, dalam laga catchweight 130 lbs setelah perubahan lawan yang terjadi beberapa hari sebelum acara. Ini memperlihatkan bahwa UFC masih melihat Costa sebagai nama yang layak dijaga momentumnya setelah kemenangan besar di April. Artinya, kariernya sedang berada di fase yang sangat penting: satu kemenangan lagi bisa membuat namanya naik cukup jauh di radar divisi.

Kalau berbicara soal prestasi, Alessandro Costa mungkin belum menjadi penantang gelar atau nama elit teratas di flyweight. Tetapi fondasinya sudah sangat kuat. Ia punya rekor 15-5, telah mencatat kemenangan lewat KO/TKO, submission, dan keputusan, serta sudah menunjukkan bahwa ia mampu bangkit dari periode sulit dengan performa yang impresif. Bahkan fakta bahwa setiap kemenangan UFC-nya berujung bonus, seperti disinggung dalam laporan terbaru MMA Fighting dan bonus coverage UFC, memberi sinyal bahwa Costa bukan petarung biasa. Ketika ia menang, ia menang dengan cara yang menarik perhatian.

Pada akhirnya, Alessandro Costa adalah kisah tentang petarung Brasil yang tidak pernah berhenti menyesuaikan diri. Ia lahir pada 28 Januari 1996, datang dengan fondasi Brazilian Jiu-Jitsu, berkembang menjadi petarung flyweight yang sangat lengkap, lalu terus membangun dirinya lewat kemenangan, kekalahan, dan kebangkitan. Julukannya, “Nono,” mungkin terdengar ringan, tetapi perjalanan kariernya sama sekali tidak ringan. Ia adalah petarung yang sudah merasakan sakit, keraguan, dan tekanan, tetapi tetap menemukan cara untuk kembali menonjol. Dalam divisi flyweight UFC yang penuh talenta cepat dan tajam, Alessandro Costa adalah nama yang tetap layak diikuti karena ia tidak hanya berjuang untuk menang, tetapi juga terus berkembang menjadi versi yang lebih lengkap dari dirinya sendiri.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...