Curtis Blaydes: Petarung Di Divisi Kelas Berat UFC

Piter Rudai 08/08/2026 4 min read
Curtis Blaydes: Petarung Di Divisi Kelas Berat UFC

Jakarta – Di divisi kelas berat UFC, nama Curtis Blaydes selalu masuk dalam daftar petarung yang paling disegani. Julukan “Razor” melekat bukan hanya karena kemampuannya menyelesaikan pertarungan dengan pukulan keras, tetapi juga karena gaya bertarungnya yang tajam, disiplin, dan efisien. Lahir pada 18 Februari 1991 di Naperville, Illinois, Amerika Serikat, Blaydes memiliki postur ideal untuk kelas heavyweight dengan tinggi 193 cm dan berat bertanding sekitar 118–120 kilogram. Berlatih di Elevation Fight Team yang berbasis di Colorado, ia dikenal sebagai salah satu pegulat terbaik yang pernah menghuni divisi tersebut. Hingga pertengahan 2026, Blaydes membukukan rekor profesional 19 kemenangan, 6 kekalahan, dan 1 no contest, dengan rincian 13 kemenangan melalui KO/TKO serta 6 kemenangan lewat keputusan juri.

Kecintaan Blaydes terhadap dunia bela diri bermula dari olahraga gulat saat masih duduk di bangku sekolah. Ia tumbuh di lingkungan yang menjadikan olahraga sebagai bagian penting dalam pembentukan karakter. Sejak remaja, Blaydes menunjukkan bakat luar biasa di cabang wrestling. Ia beberapa kali tampil gemilang di kompetisi tingkat negara bagian Illinois dan berhasil meraih prestasi yang membuka jalannya menuju level perguruan tinggi. Setelah lulus dari De La Salle Institute di Chicago, ia melanjutkan karier gulat di Northern Illinois University sebelum akhirnya memutuskan untuk beralih sepenuhnya ke seni bela diri campuran (MMA). Keputusan tersebut diambil setelah menyadari bahwa kombinasi kemampuan gulat dan perkembangan striking modern memberinya peluang besar untuk bersaing di level tertinggi.

Blaydes memulai karier profesional MMA pada 2014 dan langsung mencuri perhatian berkat dominasinya atas lawan-lawan regional. Dengan dasar gulat elite, ia mampu mengendalikan pertarungan hampir sepanjang waktu, sementara kemampuan pukulannya berkembang pesat seiring intensitas latihan. Rekor impresif di berbagai promotor Amerika membuat UFC meliriknya hanya dalam waktu sekitar dua tahun sejak debut profesional. Kesempatan itu datang pada 10 April 2016, ketika ia menjalani debut UFC menghadapi calon bintang besar kelas berat, Francis Ngannou, di UFC Fight Night di Zagreb, Kroasia.

Debut tersebut memang berakhir dengan kekalahan TKO akibat dokter menghentikan pertandingan karena cedera pada mata Blaydes. Namun, penampilannya justru menuai banyak pujian karena ia mampu bertahan menghadapi salah satu pemukul paling berbahaya dalam sejarah UFC. Kekalahan itu menjadi pelajaran penting yang membentuk mentalitasnya. Setelah pulih, Blaydes bangkit dengan serangkaian kemenangan meyakinkan atas lawan-lawan tangguh seperti Cody East, Adam Milstead, Alexey Oleynik, dan Mark Hunt. Bahkan kemenangan atas Hunt sempat diubah menjadi no contest setelah Blaydes dinyatakan positif mengandung zat terlarang akibat suplemen yang kemudian diketahui terkontaminasi. Meski demikian, insiden tersebut tidak menghentikan laju kariernya.

Perjalanan Blaydes terus berkembang ketika ia mulai mengalahkan nama-nama elite kelas berat seperti Alistair Overeem, Junior dos Santos, Shamil Abdurakhimov, Jairzinho Rozenstruik, hingga Alexander Volkov. Kemenangan-kemenangan tersebut memperkuat statusnya sebagai salah satu penantang utama gelar juara UFC. Ia memang kembali bertemu Francis Ngannou pada 2018, tetapi sekali lagi harus mengakui keunggulan sang predator asal Kamerun lewat KO ronde pertama. Selain dua kekalahan dari Ngannou, Blaydes juga pernah dihentikan oleh Derrick Lewis, Sergei Pavlovich, dan Tom Aspinall, memperlihatkan betapa ketatnya persaingan di divisi heavyweight modern. Kendati demikian, setiap kali mengalami kekalahan, Blaydes selalu mampu bangkit dan kembali menembus papan atas peringkat UFC.

Keistimewaan terbesar Curtis Blaydes terletak pada perpaduan gulat kelas dunia dengan striking yang terus berkembang. Ia merupakan salah satu petarung dengan jumlah takedown terbanyak dalam sejarah divisi heavyweight UFC. Blaydes gemar menekan lawan menggunakan clinch, menjatuhkan mereka ke kanvas, lalu mengendalikan posisi sebelum melepaskan ground and pound yang sangat keras. Seiring waktu, ia juga meningkatkan kualitas tinju, terutama jab dan overhand kanan, sehingga lawan tidak bisa hanya mengantisipasi ancaman gulatnya. Kombinasi tersebut membuatnya menjadi petarung yang sangat sulit diprediksi.

Di balik performanya di dalam oktagon, Blaydes dikenal memiliki filosofi bertarung yang sederhana tetapi efektif. Baginya, kemenangan bukan soal tampil spektakuler, melainkan tentang menjalankan strategi dengan disiplin. Ia lebih memilih mendominasi lawan selama tiga atau lima ronde dibanding mengambil risiko yang tidak perlu. Pendekatan itu dibentuk melalui latihan intensif di Elevation Fight Team, tempat ia mengasah teknik wrestling, striking, kekuatan fisik, hingga kebugaran kardio bersama sejumlah atlet elite dunia. Mentalitas kompetitifnya juga terbentuk dari pengalaman menghadapi para pemukul paling berbahaya di UFC, membuatnya memahami pentingnya persiapan yang detail sebelum memasuki arena.

Meski hingga kini belum berhasil merebut sabuk juara dunia UFC, Curtis Blaydes tetap dianggap sebagai salah satu heavyweight terbaik pada eranya. Konsistensinya berada di jajaran elite selama bertahun-tahun membuktikan kualitas yang dimilikinya. Dengan rekor profesional 19 kemenangan, 6 kekalahan, dan 1 no contest, serta reputasi sebagai salah satu pegulat paling dominan di kelas berat, “Razor” telah meninggalkan jejak penting dalam sejarah UFC. Kisah kariernya menunjukkan bahwa kerja keras, kemampuan beradaptasi, dan ketahanan mental mampu menjaga seorang petarung tetap relevan di tengah persaingan paling keras dalam dunia seni bela diri campuran.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...