Jakarta – Di antara deretan petarung kelas berat UFC, Waldo Cortes Acosta menghadirkan kisah yang berbeda. Berasal dari Fundación, Barahona, Republik Dominika, pria kelahiran 3 Oktober 1991 ini tidak tumbuh sebagai atlet seni bela diri sejak kecil. Sebaliknya, ia lebih dahulu dikenal sebagai petinju sebelum akhirnya beralih ke mixed martial arts (MMA). Dengan tinggi 193 cm dan berat bertanding sekitar 120 kilogram, Acosta memadukan postur atletis, kecepatan tangan, serta pengalaman bertinju yang matang untuk bersaing di divisi paling bergengsi UFC. Berlatih di Ultimate Kombat Training Center, ia mengusung julukan “Salsa Boy”, sebuah identitas yang mencerminkan akar budaya Karibia sekaligus gaya bertarungnya yang agresif namun tetap menghibur. Hingga pertengahan 2026, ia mengoleksi rekor profesional 17 kemenangan dan 3 kekalahan, terdiri atas 9 kemenangan KO/TKO, 1 submission, dan 7 kemenangan melalui keputusan juri.
Perjalanan Acosta menuju panggung dunia tidak dimulai dari arena oktagon. Sejak muda, ia menekuni olahraga tinju yang sangat populer di Republik Dominika. Berbekal fisik kuat dan refleks cepat, ia berkembang menjadi petinju amatir berbakat sebelum beralih ke level profesional. Pengalaman panjang di atas ring membentuk dasar teknik pukulan, pengaturan jarak, serta ketenangan menghadapi tekanan. Namun, perkembangan pesat dunia MMA membuatnya tertarik mencoba tantangan baru. Ia menyadari bahwa kemampuan tinju yang dimilikinya dapat menjadi senjata utama apabila dipadukan dengan keterampilan grappling dan pertahanan takedown yang memadai.
Keputusan berpindah ke MMA terbukti tepat. Acosta memulai karier profesional dengan mencatatkan sejumlah kemenangan beruntun di berbagai ajang regional Amerika Serikat. Latar belakang sebagai petinju membuatnya tampil berbeda dibanding mayoritas heavyweight lain. Ia lebih nyaman bertarung dalam posisi berdiri, mengandalkan kombinasi jab, straight, dan hook yang akurat untuk membuka pertahanan lawan. Dominasi tersebut menarik perhatian UFC, yang kemudian memberinya kesempatan tampil melalui ajang Dana White’s Contender Series pada 2022. Dalam kesempatan itu, Acosta berhasil mengalahkan Danilo Marques melalui keputusan mutlak, penampilan yang cukup meyakinkan untuk mengantarkannya memperoleh kontrak resmi UFC.
Debut UFC dijalani pada 29 Oktober 2022 ketika menghadapi Jared Vanderaa di UFC Fight Night. Acosta langsung menunjukkan kualitasnya sebagai striker dengan tempo tinggi. Ia mengontrol sebagian besar jalannya pertarungan melalui kombinasi pukulan lurus dan tekanan konstan hingga akhirnya memenangkan laga lewat keputusan mutlak. Kemenangan tersebut menjadi awal yang positif dan memperlihatkan bahwa dirinya mampu bersaing di level tertinggi, meski baru beberapa tahun berkecimpung di dunia MMA.
Karier Acosta terus berkembang setelah kemenangan atas Vanderaa. Ia kemudian menundukkan sejumlah nama berpengalaman seperti Chase Sherman dan Łukasz Brzeski, memperlihatkan peningkatan dalam aspek stamina, kontrol jarak, dan kemampuan bertahan dari tekanan lawan. Salah satu ujian terbesarnya datang ketika menghadapi Marcos Rogério de Lima pada April 2024. Dalam laga tersebut, Acosta menunjukkan perkembangan signifikan dalam pertahanan grappling dan berhasil meraih kemenangan melalui keputusan juri. Hasil itu semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu petarung kelas berat yang layak diperhitungkan di papan tengah UFC.
Perjalanan menuju jajaran elite tentu tidak selalu mulus. Acosta juga mengalami beberapa kekalahan yang menjadi pelajaran penting dalam kariernya. Menghadapi petarung kelas berat dengan kemampuan gulat atau permainan bawah yang kuat memaksanya terus menyempurnakan aspek defensif. Tantangan terbesar bagi mantan petinju profesional ini adalah beradaptasi dengan kompleksitas MMA, di mana ancaman takedown, submission, dan clinch sama berbahayanya dengan pukulan keras. Namun, setiap kekalahan justru menjadi bahan evaluasi yang membantunya berkembang menjadi atlet yang lebih komplet.
Secara teknis, gaya bertarung Waldo Cortes Acosta masih sangat dipengaruhi oleh latar belakang tinju profesional. Ia dikenal memiliki footwork yang cukup ringan untuk ukuran heavyweight, pukulan lurus yang tajam, serta kemampuan membaca ritme pertarungan dengan baik. Berbeda dengan banyak petarung kelas berat yang mengandalkan satu pukulan pemungkas, Acosta lebih sering membangun kemenangan melalui kombinasi pukulan yang konsisten dan tekanan tanpa henti. Meski memiliki sembilan kemenangan KO/TKO, ia tidak selalu berburu penyelesaian cepat. Kesabarannya dalam mengumpulkan poin dan mengendalikan tempo menjadi salah satu keunggulan utama.
Di luar arena, Acosta dikenal sebagai sosok yang disiplin dan rendah hati. Filosofi bertarungnya menekankan pentingnya kerja keras, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar. Bersama tim pelatih di Ultimate Kombat Training Center, ia menjalani program latihan yang mencakup pengembangan striking, wrestling, Brazilian Jiu-Jitsu, latihan kekuatan, hingga peningkatan daya tahan fisik. Ia memahami bahwa untuk bertahan di divisi heavyweight UFC, seorang petarung tidak cukup hanya mengandalkan pukulan keras, tetapi juga harus memiliki kecerdasan taktis dan kesiapan mental menghadapi berbagai gaya lawan.
Meski belum pernah memperebutkan gelar juara dunia UFC, Waldo Cortes Acosta telah membuktikan bahwa dirinya merupakan salah satu heavyweight yang terus berkembang. Dari seorang petinju profesional di Republik Dominika hingga menjadi atlet UFC, perjalanan “Salsa Boy” mencerminkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan menghadapi tantangan baru. Dengan rekor profesional 17 kemenangan dan 3 kekalahan, pengalaman yang terus bertambah, serta kemampuan striking yang semakin matang, Acosta masih memiliki peluang besar untuk menembus jajaran penantang gelar dan mengukir prestasi lebih tinggi di masa mendatang.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda