Menelusuri Misteri Angka Unik Jarak Lari Maraton Modern

Eva Amelia 09/08/2026 5 min read
Menelusuri Misteri Angka Unik Jarak Lari Maraton Modern

Jakarta – Setiap kali sebuah perlombaan lari maraton akbar digelar di kota-kota besar dunia, ribuan pelari akan berdiri di garis awal dengan satu tujuan yang sama, yaitu menaklukkan jarak sejauh 42,195 kilometer. Bagi masyarakat awam atau mereka yang baru terjun ke dunia atletik, angka tersebut sering kali memicu sebuah pertanyaan besar. Mengapa jarak sebuah perlombaan yang begitu prestisius dan legendaris tidak ditetapkan dalam angka yang genap? Mengapa bukan 40 kilometer, atau genap 45 kilometer agar lebih mudah diingat? Di balik keunikan angka yang terkesan acak tersebut, tersimpan sebuah narasi sejarah yang panjang, yang melibatkan legenda kuno, ambisi politik, drama olahraga, hingga selera personal dari keluarga kerajaan Inggris.

Akar dari perlombaan maraton modern tentu saja tidak bisa dilepaskan dari kisah kepahlawanan Yunani kuno yang terjadi pada tahun 490 Sebelum Masehi. Berdasarkan cerita rakyat yang melegenda, seorang prajurit pembawa pesan bernama Pheidippides berlari tanpa henti dari medan pertempuran di kota Marathon menuju Athena. Tugasnya sangat krusial, yaitu mengabarkan bahwa pasukan Yunani telah berhasil mengalahkan invasi bala tentara Persia. Setibanya di Athena, dengan sisa tenaga terakhirnya, ia meneriakkan kata kemenangan sebelum akhirnya runtuh dan mengembuskan napas terakhir. Jarak historis yang ditempuh oleh prajurit tersebut diperkirakan berkisar antara 40 kilometer. Ketika Olimpiade modern pertama kali dihidupkan kembali di Athena pada tahun 1896, para penyelenggara sepakat untuk mengadakan lomba lari demi menghormati mitos Pheidippides ini dengan jarak resmi sepanjang 40 kilometer.

Selama bertahun-tahun awal kebangkitan Olimpiade, jarak maraton sebenarnya bersifat fleksibel dan selalu berubah-ubah tergantung pada rute geografis kota penyelenggara. Pada Olimpiade Paris tahun 1900, para pelari menempuh jarak sekitar 40,26 kilometer. Empat tahun berselang, ketika Olimpiade menyeberang ke Saint Louis di Amerika Serikat, jarak yang harus ditaklukkan berubah lagi menjadi 39,99 kilometer. Pada masa-masa itu, fokus utama dari perlombaan ini adalah esensi dari daya tahan tubuh manusia, bukan standardisasi angka yang kaku. Selama jaraknya berada di kisaran 40 kilometer, perlombaan tersebut sudah dianggap sah sebagai sebuah kompetisi maraton.

Titik balik yang mengubah sejarah dan melahirkan angka unik 42,195 kilometer baru terjadi pada pelaksanaan Olimpiade London tahun 1908. Britania Raya selaku tuan rumah ingin menyelenggarakan sebuah kompetisi yang megah dan berkesan. Komite penyelenggara awalnya merencanakan rute maraton sepanjang 26 mil, atau setara dengan 41,84 kilometer. Rute ini dirancang untuk membentang dari Kastil Windsor, tempat kediaman resmi keluarga kerajaan, menuju Stadion White City yang menjadi pusat pelaksanaan Olimpiade di London barat. Namun, rencana awal di atas kertas tersebut segera mengalami perubahan drastis akibat permintaan khusus dari pihak istana.

Keluarga Kerajaan Inggris, khususnya Ratu Alexandra, memiliki keinginan spesifik agar garis awal perlombaan dimulai tepat di bawah jendela pembibitan kerajaan di Kastil Windsor. Hal ini dimaksudkan agar para pangeran dan putri muda dapat menyaksikan awal mula perlombaan tanpa harus berdesakan dengan kerumunan publik. Tidak hanya itu, pihak penyelenggara juga harus memodifikasi titik akhir perlombaan di dalam Stadion White City. Agar Sang Ratu dan anggota keluarga kerajaan lainnya mendapatkan pandangan yang sempurna dari kotak VIP mereka, garis akhir perlombaan digeser sedemikian rupa sehingga para pelari harus menyelesaikan putaran parsial di dalam stadion.

Modifikasi demi memuaskan estetika dan kenyamanan keluarga kerajaan ini menambah jarak rute perlombaan secara signifikan. Ketika para petugas mengukur ulang rute dari bawah jendela Kastil Windsor hingga tepat di depan kotak VIP Ratu Alexandra di Stadion White City, panjang total lintasan melar menjadi tepat 26 mil dan 385 yard. Jika dikonversikan ke dalam sistem metrik yang kita gunakan sekarang, angka tersebut setara dengan 42,195 kilometer. Pada saat itu, tidak ada yang menyangka bahwa perubahan rute yang didasari oleh urusan protokoler kerajaan ini akan menjadi standar baku yang diadopsi oleh seluruh dunia di masa depan.

Perlombaan maraton di London tahun 1908 itu sendiri berlangsung dengan penuh drama yang menguras emosi publik, yang semakin mengukuhkan jarak baru ini dalam ingatan kolektif dunia olahraga. Seorang pelari bertubuh kecil asal Italia bernama Dorando Pietri memimpin jalannya lomba dengan gagah berani. Namun, ketika memasuki stadion untuk menyelesaikan sisa jarak peninggalan keluarga kerajaan tersebut, Pietri yang sudah mengalami dehidrasi parah dan kelelahan ekstrem kehilangan arah. Ia berbelok ke arah yang salah dan terjatuh beberapa kali di atas lintasan.

Melihat kondisi Pietri yang memprihatinkan di hadapan ribuan penonton, termasuk Sang Ratu, beberapa petugas medis dan wasit perlombaan yang iba memutuskan untuk membantunya berdiri dan memapahnya melewati garis finis. Pietri berhasil menyentuh garis akhir di urutan pertama, namun delegasi Amerika Serikat segera mengajukan protes resmi karena adanya bantuan fisik dari luar. Protes tersebut dikabulkan, Pietri didiskualifikasi, dan medali emas akhirnya diberikan kepada pelari Amerika Serikat, Johnny Hayes. Drama tragis Dorando Pietri dan kisah tentang bagaimana ia berjuang di sisa yard terakhir yang ditambahkan demi keluarga kerajaan menangkap imajinasi publik global, membuat jarak 26 mil 385 yard menjadi sangat terkenal.

Meskipun Olimpiade London 1908 sukses besar, perdebatan mengenai jarak maraton yang ideal tidak langsung selesai begitu saja. Pada dua Olimpiade berikutnya, yaitu di Stockholm tahun 1912 dan Antwerpen tahun 1920, jarak maraton kembali berubah mengikuti keinginan komite lokal masing-masing negara. Ketidakpastian ini mulai menimbulkan kebingungan di kalangan atlet dan pelatih, yang kesulitan untuk menetapkan strategi latihan serta rekor dunia yang valid akibat standarisasi yang absen.

Menyadari perlunya keseragaman dalam dunia atletik internasional yang semakin berkembang, Federasi Atletik Internasional atau IAAF akhirnya mengambil tindakan tegas pada tahun 1921. Dalam kongres mereka, dilakukan evaluasi mendalam terhadap seluruh jalannya sejarah maraton. Setelah mempertimbangkan berbagai faktor, IAAF memutuskan untuk menetapkan sebuah jarak baku yang resmi untuk semua perlombaan maraton di masa depan. Jarak yang dipilih bukanlah angka bulat dari Olimpiade Athena, melainkan jarak spesifik penuh drama dari Olimpiade London 1908, yaitu 42,195 kilometer. Alasan utamanya adalah popularitas global dari kisah Dorando Pietri serta anggapan bahwa jarak tersebut merupakan ujian kedewasaan dan daya tahan yang paling sempurna bagi seorang pelari.

Sejak keputusan bersejarah tahun 1921 tersebut ketok palu, angka 42,195 kilometer telah bertransformasi dari sekadar hasil kompromi politik dan protokoler sebuah kerajaan menjadi sebuah simbol universal dari batas kekuatan fisik manusia. Setiap yard dari 385 yard tambahan yang awalnya dirancang agar Ratu Inggris bisa menonton dengan nyaman, kini menjadi bagian paling krusial dan sakral dalam perlombaan maraton modern. Bagian akhir inilah yang sering kali menentukan kemenangan, tempat di mana mental seorang juara sejati diuji ketika fisik sudah berada di ambang batas mutlaknya. Kebetulan sejarah yang melahirkan angka tidak genap ini membuktikan bahwa terkadang, tradisi yang lahir dari ketidaksengajaan justru mampu menciptakan warisan yang jauh lebih abadi ketimbang angka-angka yang direncanakan secara matematis.

(EA/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...