Menelusuri Awal Mula Tradisi Menyiram Sampanye Di Podium

Eva Amelia 06/08/2026 5 min read
Menelusuri Awal Mula Tradisi Menyiram Sampanye Di Podium

Jakarta – Bagi para pencinta olahraga otomotif, balap sepeda, atau kompetisi olahraga besar lainnya, pemandangan di atas podium juara selalu memiliki klimaks yang serupa. Setelah piala diserahkan dan lagu kebangsaan selesai dikumandangkan, para pemenang akan meraih botol hijau berukuran besar, mengocoknya dengan bertenaga, lalu melepaskan sumbatnya hingga cairan berbusa menyembur ke segala arah. Mereka saling menyiram, membasahi kru tim di bawah podium, serta memandikan para penonton dan fotografer yang berada di garda terdepan. Tradisi menyiram sampanye ini telah menjadi simbol universal dari sebuah selebrasi, lambang dari kerja keras yang terbayar lunas dengan kejayaan.

Namun, tradisi yang tampak sangat alami dan spontan ini tidak lahir begitu saja sejak kompetisi olahraga pertama kali diciptakan. Ada sejarah panjang, pergeseran budaya, serta faktor ketidaksengajaan yang mengubah sebotol minuman mewah menjadi “senjata” perayaan yang paling ikonik di dunia. Kisah di balik percikan sampanye ini melibatkan para pembalap legendaris, produsen minuman Prancis, dan sebuah momen unik di sirkuit balap yang mengubah wajah selebrasi olahraga selamanya.

Kedekatan Awal Sampanye dengan Dunia Balap

Sebelum sampanye disemprotkan seperti yang kita lihat hari ini, minuman ini sebenarnya sudah memiliki tempat khusus dalam dunia olahraga motor, khususnya di Prancis. Pada awal abad ke-20, balapan mobil adalah olahraga yang sangat berbahaya, mahal, dan hanya bisa diakses oleh kaum aristokrat atau mereka yang memiliki sokongan dana luar biasa. Sampanye, sebagai minuman mewah yang melambangkan status sosial tinggi, secara alami menjadi hidangan wajib dalam acara-acara penyerahan piala.

Hubungan resmi antara sampanye dan podium balapan dimulai pada tahun 1950, bertepatan dengan musim perdana Formula 1. Saat itu, Grand Prix Prancis diselenggarakan di Sirkuit Reims-Gueux. Sirkuit ini terletak di jantung wilayah Champagne, sebuah kawasan di Prancis yang terkenal secara global sebagai satu-satunya tempat penghasil sampanye asli di dunia. Dua bersaudara bernama Paul Chandon Moët dan Frédéric Chandon de Brailles, yang merupakan produsen sampanye legendaris Moët & Chandon, melihat balapan ini sebagai peluang pemasaran yang luar biasa.

Mereka memutuskan untuk menghadiahkan sebotol besar sampanye Moët & Chandon kepada pemenang balapan tersebut, yang saat itu dimenangkan oleh pembalap legendaris asal Argentina, Juan Manuel Fangio. Namun, pada masa itu, Fangio tidak menyemprotkan isi botol tersebut. Sesuai dengan etiket masa itu, botol tersebut dibawa pulang untuk dinikmati secara elegan bersama keluarga atau timnya, atau mungkin langsung diminum beberapa teguk di atas podium. Selama belasan tahun berikutnya, tradisi memberikan sampanye kepada pemenang terus berlanjut, tetapi ritualnya tetap sama: botol dibuka dengan hati-hati dan isinya diminum, bukan dibuang-buang.

Insiden di Le Mans 1966: Awal Mula yang Tidak Disengaja

Perubahan radikal dari meminum sampanye menjadi menyemprotkannya terjadi karena sebuah faktor ketidaksengajaan yang unik. Peristiwa ini terjadi pada balapan ketahanan mobil paling bergengsi di dunia, Le Mans 24 Jam, pada tahun 1966 di Prancis.

Saat itu, seorang pembalap asal Amerika Serikat bernama Dan Gurney, yang berpasangan dengan Jerry Grant, berhasil memenangkan kelas indeks performa atau meraih hasil impresif dengan mobil Ford GT40 mereka. Ketika Gurney berdiri di atas podium, panitia menyerahkan sebotol besar sampanye yang sudah disiapkan. Namun, ada satu hal teknis yang tidak disadari oleh panitia: botol sampanye tersebut telah berdiri di bawah terik matahari yang sangat menyengat selama berjam-jam selama seremoni berlangsung.

Suhu panas yang ekstrem di dalam botol menyebabkan tekanan gas karbon dioksida di dalamnya meningkat drastis. Ketika Dan Gurney menerima botol tersebut dan memegang bagian penyumbatnya, tekanan yang luar biasa dari dalam membuat sumbat gabus tersebut terlepas secara tiba-tiba dengan suara letupan yang keras. Cairan putih berbusa langsung menyembur keluar dengan deras tanpa bisa ditahan oleh Gurney.

Melihat air sampanye yang muncrat ke mana-mana, Gurney yang sedang dalam suasana hati gembira memutuskan untuk tidak menutupi ujung botolnya. Sebaliknya, ia justru mengarahkan semprotan tersebut ke arah kerumunan penonton, pemilik tim Henry Ford II, serta para fotografer yang berada di bawah podium. Momen spontan ini menciptakan gelak tawa dan kegembiraan yang luar biasa di sirkuit, meskipun pada saat itu belum sepenuhnya dianggap sebagai sebuah tradisi baru.

Spontanitas Jo Siffert dan Pengukuhan Tradisi

Setahun setelah insiden tidak sengaja yang dialami Dan Gurney, momen serupa terulang kembali di tempat yang sama, Le Mans 24 Jam tahun 1967. Kali ini, Dan Gurney keluar sebagai juara umum balapan bersama rekannya, A.J. Foyt. Mengenang kejadian tahun lalu, Gurney secara sengaja mengocok botol sampanyenya sebelum dibuka untuk menciptakan efek semprotan yang sama demi merayakan kemenangan besar Ford atas Ferrari.

Namun, sosok yang benar-benar mengukuhkan tindakan ini menjadi sebuah ritual mingguan di dunia Formula 1 adalah pembalap asal Swiss, Jo Siffert. Pada Grand Prix Jerman tahun 1967 yang digelar di Sirkuit Nürburgring, Siffert berhasil meraih kemenangan yang sangat emosional. Ketika berada di atas podium dan menerima botol sampanyenya, ia secara sadar meniru apa yang dilakukan Gurney di Le Mans. Siffert mengocok botolnya dengan kuat, menaruh jempolnya di ujung mulut botol untuk mengatur tekanan, dan menyemprotkan cairan mewah tersebut ke arah kru timnya dan penonton.

Sejak momen Jo Siffert itulah, tindakan menyemprotkan sampanye bukan lagi sebuah kecelakaan teknis atau aksi satu kali panggung, melainkan sebuah kewajiban selebrasi. Para pembalap lain melihat aksi tersebut sebagai bentuk pelepasan stres, ketegangan, dan adrenalin setelah bertaruh nyawa di lintasan balap selama berjam-jam. Menyemprotkan sampanye menjadi bahasa universal dari sebuah kemenangan total.

Makna Budaya dan Evolusi di Luar Otomotif

Apa yang dimulai di sirkuit balap Prancis segera menyebar bak api yang tertiup angin ke berbagai cabang olahraga lain di seluruh dunia. Industri olahraga Amerika Serikat, seperti baseball (MLB), bola basket (NBA), dan sepak bola Amerika (NFL), mengadopsi tradisi ini untuk merayakan keberhasilan tim yang menjuarai kompetisi di ruang ganti. Kamar ganti para juara sering kali dilapisi plastik pelindung khusus hanya agar para pemain bisa saling menyiramkan ratusan botol sampanye tanpa merusak fasilitas stadion.

Secara psikologis, menyiram sampanye memiliki makna budaya yang sangat kuat. Sampanye adalah produk yang diasosiasikan dengan kemewahan, waktu, dan biaya pembuatan yang mahal. Ketika para atlet menyemprotkan dan membuang-buang cairan berharga tersebut, tindakan itu menjadi simbol bahwa pada momen kemenangan tersebut, materi dan uang tidak lagi penting. Yang paling berharga adalah kegembiraan murni dan pencapaian spiritual atas keberhasilan menjadi yang terbaik.

Tradisi ini juga mengalami adaptasi budaya yang menarik di era modern. Di beberapa negara Timur Tengah yang menerapkan hukum Islam atau membatasi konsumsi alkohol, seperti Grand Prix Formula 1 di Bahrain, Arab Saudi, dan Abu Dhabi, panitia balap mengganti sampanye beralkohol dengan minuman bersoda khusus non-alkohol yang dibuat dari campuran air mawar, delima, dan sari buah lokal. Meskipun zat kimianya berbeda, efek visual busa putih dan esensi kegembiraannya tetap dipertahankan demi menghormati tradisi global ini.

Dari sebuah botol yang kepanasan di sirkuit Le Mans hingga menjadi klimaks yang paling dinantikan dalam setiap seremoni olahraga, tradisi menyiram sampanye membuktikan bahwa momen-momen terbaik dalam sejarah sering kali lahir dari sebuah ketidaksengajaan. Percikan busa putih di atas podium akan selalu menjadi pengingat abadi bahwa kemenangan tidak hanya untuk dirasakan sendiri, tetapi juga untuk dibagikan kepada dunia dengan penuh suka cita.

(EA/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...