Asal Mula Tradisi Saling Tukar Jersey Dalam Sepak Bola

Eva Amelia 04/08/2026 4 min read
Asal Mula Tradisi Saling Tukar Jersey Dalam Sepak Bola

Jakarta – Peluit panjang berbunyi menandakan akhir dari 90 menit pertarungan yang sengit di lapangan hijau. Di tengah gemuruh sorak-sorai penonton, pemandangan ikonik yang hampir selalu terjadi adalah dua pemain dari tim yang saling berhadapan berjalan mendekat, berjabat tangan, memeluk satu sama lain, lalu melepaskan baju seragam mereka untuk saling ditukarkan.

Saat ini, tradisi bertukar jersey pasca-pertandingan dianggap sebagai simbol sportivitas, rasa hormat yang mendalam, dan persaudaraan universal di dunia olahraga. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana gestur kultural ini bermula? Siapa pencetus pertamanya, dan mengapa selembar kain basah penuh keringat bisa bertransformasi menjadi salah satu suvenir paling bernilai dalam sejarah sepak bola?

Laga Prancis Melawan Inggris di Tahun 1931

Untuk melacak akar sejarah dari tradisi ini, kita harus memutar waktu kembali ke dekade 1930-an, sebuah era di mana sepak bola internasional baru saja mulai merajut kejayaannya setelah Piala Dunia pertama di Uruguay. Momentum bersejarah itu terjadi pada tanggal 14 Mei 1931 di Stadion Colombes, Paris.

Kala itu, tim nasional Prancis menjamu salah satu kekuatan sepak bola paling disegani di dunia, Inggris. Pertandingan tersebut bukan sekadar laga persahabatan biasa bagi publik Prancis. Selama bertahun-tahun, Les Bleus selalu berada di bawah bayang-bayang kehebatan tim-tim dari tanah Britania Raya dan belum pernah sekalipun mencicipi kemenangan atas mereka.

Namun, sore itu sejarah baru tercipta. Di luar dugaan banyak pihak, Prancis tampil luar biasa dominan dan berhasil menumbangkan Inggris dengan skor meyakinkan 5-2. Kemenangan telak ini memicu gelombang euforia yang luar biasa, baik di kalangan suporter yang memadati stadion maupun di dalam hati para pemain Prancis sendiri.

Rasa jenuh dan inferioritas yang selama ini menghantui seketika sirna, berganti dengan rasa bangga yang meledak-ledak. Para pemain Prancis merasa telah mencapai sesuatu yang monumental, sebuah pencapaian yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup.

Spontanitas Berbasis Rasa Kagum dan Kehormatan

Setelah peluit akhir ditiup oleh wasit, para pemain Prancis begitu emosional. Mereka sangat mengagumi reputasi para pemain Inggris, meskipun baru saja mengalahkan mereka. Didorong oleh rasa gembira yang luar biasa dan keinginan kuat untuk memiliki kenang-kenangan fisik dari malam bersejarah tersebut, para pemain Prancis secara spontan meminta baju seragam yang dikenakan oleh para pemain Inggris.

Bagi skuad Prancis, seragam putih milik timnas Inggris hari itu adalah sebuah trofi. Mereka ingin menyimpannya sebagai bukti otentik bahwa mereka pernah bertarung—dan menang—melawan para pencipta sepak bola modern modern tersebut.

Para pemain Inggris yang saat itu tengah kecewa karena kekalahan, justru menunjukkan sikap ksatria yang luar biasa. Alih-alih menolak karena gengsi, mereka dengan lapang dada melepas jersey mereka dan menyerahkannya kepada para pemain Prancis, lalu menerima jersey biru milik Prancis sebagai gantinya.

Gestur spontan ini murni lahir dari rasa hormat timbal balik antara dua kelompok atlet yang telah mengerahkan seluruh kemampuan mereka di atas lapangan. Tanpa ada protokol resmi atau regulasi yang mengatur, malam itu menjadi batu pijakan pertama bagi lahirnya sebuah tradisi universal.

Momen Pele dan Bobby Moore yang Melegenda

Meskipun sudah dimulai sejak tahun 1931, tradisi bertukar jersey tidak langsung menjadi pemandangan rutin di setiap akhir pertandingan. Pada masa-masa awal, aktivitas ini umumnya hanya dilakukan pada laga-laga internasional yang sangat krusial atau ketika ada sebuah tim yang merasa sangat terhormat bisa bertukar lapangan dengan pemain legendaris tertentu.

Salah satu momen bertukar jersey yang paling ikonik dan berhasil mengukuhkan tradisi ini ke dalam budaya populer global terjadi pada Piala Dunia 1970 di Meksiko. Momen tersebut melibatkan dua seniman sepak bola terbesar pada masanya: Pelé dari Brasil dan Bobby Moore, kapten tim nasional Inggris.

Brasil dan Inggris bertemu di babak penyisihan grup dalam sebuah pertandingan yang berjalan sangat ketat, bersih, dan penuh dengan teknik tingkat tinggi. Brasil akhirnya keluar sebagai pemenang dengan skor tipis 1-0. Begitu pertandingan usai, Pelé dan Bobby Moore saling menghampiri di tengah lapangan yang panas.

Keduanya saling melempar senyum, berpelukan erat, lalu melepas jersey mereka masing-masing untuk saling ditukarkan. Fotografer berhasil mengabadikan momen ketika Pelé yang bertelanjang dada memegang jersey putih Inggris milik Moore, sementara Moore memegang jersey kuning keramat nomor 10 milik Pelé.

Foto tersebut menyebar ke seluruh penjuru dunia dan menjadi simbol visual tertinggi dari pesan perdamaian, rasa hormat, dan keindahan sepak bola. Sejak saat itu, tradisi bertukar jersey bukan lagi sekadar mencari suvenir pribadi, melainkan sebuah ritual sakral yang menunjukkan bahwa rivalitas hanya ada selama 90 menit pertandingan, selebihnya adalah persaudaraan.

Evolusi Menjadi Koleksi Bernilai Tinggi

Seiring dengan berjalannya waktu dan industrialisasi sepak bola modern, makna di balik selembar jersey yang ditukarkan kian berkembang. Di era sekarang, jersey yang didapatkan langsung dari tubuh seorang pemain bintang pasca-pertandingan telah bergeser menjadi komoditas koleksi yang memiliki nilai historis dan finansial yang sangat fantastis.

Banyak pemain profesional yang memiliki ruangan khusus di rumah mereka hanya untuk memajang ratusan jersey hasil buruan mereka selama berkarir. Jersey-jersey tersebut menjadi saksi bisu dari perjalanan karir mereka, tentang siapa saja lawan hebat yang pernah mereka hadapi di lapangan hijau.

Bagi para pemain muda yang baru merintis karir, bisa bertukar jersey dengan pemain megabintang seperti Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo adalah sebuah impian yang menjadi kenyataan. Sering kali kita melihat pemandangan unik di mana para pemain lawan sudah saling ” memesan” jersey sang bintang bahkan sejak sebelum pertandingan dimulai, atau saat jeda babak pertama di lorong stadion.

Dari sebuah tindakan spontan sekelompok pemain Prancis yang gembira di Paris pada tahun 1931, bertukar jersey kini telah bermutasi menjadi bagian integral dari identitas sepak bola itu sendiri. Melalui selembar kain yang saling bertukar tangan tersebut, para pemain mengirimkan pesan kuat kepada jutaan pasang mata yang menonton: bahwa di balik ketatnya persaingan, benturan fisik, dan drama taktik di lapangan, esensi utama dari olahraga adalah saling menghormati satu sama lain.

(EA/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...