Perjalanan Karir Safet Sušić, Pesepakbola Dari Balkan

Eva Amelia 31/07/2026 5 min read
Perjalanan Karir Safet Sušić, Pesepakbola Dari Balkan

Jakarta – Sepak bola Eropa pada era akhir tahun tujuh puluhan hingga awal sembilan puluhan melahirkan banyak seniman lapangan hijau yang bermain dengan keindahan visual luar biasa. Di antara sekian banyak nama besar yang menghiasi lembaran sejarah tersebut, nama Safet Sušić menempati posisi yang sangat terhormat. Ia bukan sekadar gelandang serang biasa, melainkan seorang konduktor lapangan yang mampu mengubah tempo permainan hanya dengan satu sentuhan magis. Keahliannya dalam menggiring bola, visi bermain yang melampaui zamannya, serta ketajaman yang luar biasa menjadikannya salah satu talenta terbaik yang pernah dilahirkan oleh kawasan Balkan.

Awal Kehidupan dan Tanah Kelahiran sang Maestro

Langkah awal sang maestro dimulai di sebuah kota kecil bernama Zavidovici, yang saat itu masih menjadi bagian dari wilayah Republik Sosialis Bosnia dan Herzegovina di dalam federasi Yugoslavia. Safet Sušić lahir pada tanggal 13 April 1955. Tumbuh besar di lingkungan pasca-perang yang sederhana, Sušić kecil menemukan pelarian sekaligus gairah hidupnya melalui bola kulit. Zavidovici yang merupakan kota industri kayu tidak memiliki fasilitas olahraga yang mewah, namun jalanan berbatu dan lapangan tanah setempat menjadi saksi bagaimana Sušić mengasah kontrol bola yang nantinya akan memukau jutaan pasang mata di seluruh Eropa.

Bakat alami Sušić langsung terlihat menonjol dibandingkan anak-anak seusianya. Ia memiliki keseimbangan tubuh yang luar biasa dan kemampuan alami untuk mempertahankan bola dari gangguan pemain lawan. Kejelian melihat ruang kosong serta keberanian untuk melewati lawan satu lawan satu menjadi ciri khas yang mulai ia bentuk sejak usia dini. Pemandu bakat lokal segera menyadari bahwa bocah dari Zavidovici ini memiliki sesuatu yang tidak bisa diajarkan melalui latihan biasa, yaitu sebuah bakat murni yang hanya dimiliki oleh para jenius sepak bola.

Awal Karir Profesional di FK Sarajevo

Perjalanan karir profesional Safet Sušić dimulai ketika ia bergabung dengan Krivaja Zavidovici sebelum akhirnya bakat besarnya tercium oleh klub papan atas Bosnia, FK Sarajevo. Pada tahun 1973, dalam usia yang masih sangat muda, Sušić resmi berseragam FK Sarajevo. Di klub ibu kota inilah nama Sušić mulai dikenal luas di seantero Yugoslavia. Bermain di Liga Utama Yugoslavia yang terkenal sangat keras dan kompetitif pada masa itu justru membuat kemampuan Sušić berkembang sangat pesat.

Bersama FK Sarajevo, Sušić menjelma menjadi sosok gelandang serang legendaris. Selama hampir satu dekade membela klub tersebut, ia mencatatkan lebih dari dua ratus penampilan dan mencetak hampir seratus gol. Statistik ini sangat luar biasa bagi seorang pemain yang posisi utamanya bukan sebagai penyerang murni. Puncak prestasinya secara individu di kompetisi domestik terjadi pada musim 1979/1980, di mana ia berhasil membawa FK Sarajevo menjadi runner-up liga dan dirinya sendiri dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Yugoslavia serta menjadi pencetak gol terbanyak kompetisi. Pengaruhnya di lapangan begitu dominan, sehingga setiap pertandingan FK Sarajevo selalu menjadi panggung pertunjukan pribadi bagi Sušić untuk memamerkan teknik dribelnya yang meliuk-liuk menghancurkan pertahanan lawan.

Menaklukkan Paris dan Menjadi Legenda Paris Saint Germain

Berdasarkan aturan ketat yang diterapkan oleh pemerintah komunis Yugoslavia pada masa itu, para pemain sepak bola baru diizinkan untuk pindah ke klub luar negeri setelah mereka menyelesaikan wajib militer atau mencapai usia 28 tahun. Ketika pembatasan tersebut akhirnya bisa dilewati, Sušić menjadi komoditas paling panas di pasar transfer Eropa. Banyak klub besar Italia dan Prancis yang mengantre untuk mendapatkan tanda tangannya. Namun, pada akhirnya Paris Saint-Germain yang berhasil mendaratkan sang maestro ke ibu kota Prancis pada tahun 1982.

Kedatangan Sušić di Stadion Parc des Princes menandai dimulainya era baru bagi Paris Saint-Germain. Klub yang saat itu belum menjadi kekuatan finansial global seperti sekarang, menemukan sosok pemimpin teknis yang sangat mereka butuhkan. Sušić langsung beradaptasi dengan gaya sepak bola Prancis yang mengandalkan fisik dan kecepatan. Di Paris, ia mendapatkan julukan Magic Sušić dari para pendukung setianya yang terpesona oleh assist-assist akurat serta kemampuannya mencetak gol dari situasi yang tampaknya mustahil.

Selama sembilan tahun masa baktinya bersama Paris Saint-Germain dari tahun 1982 hingga 1991, Sušić memberikan kontribusi yang sangat masif. Ia memimpin klub tersebut meraih gelar juara Ligue 1 pertama mereka sepanjang sejarah pada musim 1985/1986. Selain itu, ia juga mempersembahkan gelar Coupe de France pada tahun 1983. Kehebatan Sušić tidak hanya diukur dari trofi yang diraih, melainkan dari konsistensi permainannya. Ia mencatatkan 344 penampilan dan mencetak 85 gol untuk Paris Saint-Germain, sebuah rekor yang membuatnya diakui secara luas sebagai salah satu pemain asing terbaik, bahkan banyak yang menganggapnya sebagai pemain terbaik sepanjang masa dalam sejarah klub tersebut sebelum era investasi besar modern dimulai.

Kiprah Internasional Bersama Tim Nasional Yugoslavia

Di level internasional, Safet Sušić merupakan pilar utama dari generasi emas tim nasional Yugoslavia yang sering dijuluki sebagai Brasilnya Eropa karena keindahan gaya bermain mereka. Ia melakukan debutnya bersama tim nasional pada tahun 1977 dan langsung mencuri perhatian dunia. Salah satu momen ikonik dalam karir internasionalnya adalah ketika ia mencetak hat-trick ke gawang Argentina pada pertandingan persahabatan tahun 1979, sebuah pembuktian bahwa kualitasnya setara dengan para pemain terbaik dari Amerika Selatan.

Sušić mewakili Yugoslavia dalam dua edisi Piala Dunia, yaitu pada tahun 1982 di Spanyol dan tahun 1990 di Italia. Pada Piala Dunia 1990, di bawah asuhan pelatih Ivica Osim, Sušić yang sudah veteran tetap menjadi otak permainan tim. Ia berhasil membawa Yugoslavia melangkah hingga babak perempat final sebelum akhirnya kalah dramatis melalui adu penalti melawan Argentina yang dipimpin oleh Diego Maradona. Sušić mengakhiri karir internasionalnya dengan catatan 54 caps dan 21 gol, sebuah pencapaian yang mengukuhkan posisinya sebagai salah satu legenda terbesar sepak bola Balkan. Setelah menyelesaikan petualangannya di Paris, ia sempat bermain singkat untuk Red Star Paris sebelum akhirnya memutuskan gantung sepatu pada tahun 1992.

Melangkah ke Dunia Manajerial dan Warisan Abadi

Setelah pensiun sebagai pemain, kecintaan Sušić terhadap sepak bola tidak pernah pudar. Ia memutuskan untuk beralih profesi menjadi seorang pelatih. Karir manajerialnya membawa dia melatih berbagai klub di Prancis, Turki, dan Arab Saudi. Namun, puncak pencapaiannya sebagai arsitek taktik terjadi ketika ia ditunjuk sebagai pelatih kepala tim nasional negara asalnya, Bosnia dan Herzegovina, pada tahun 2009.

Di bawah kepemimpinannya, Sušić berhasil mencatatkan sejarah emas yang paling membanggakan bagi masyarakat Bosnia. Ia berhasil meloloskan negara yang pernah dilanda perang saudara tersebut ke turnamen mayor untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, yaitu Piala Dunia 2014 di Brasil. Keberhasilan ini membuat Sušić tidak hanya dihormati sebagai legenda di dalam lapangan, tetapi juga pahlawan nasional yang berhasil menyatukan bangsa melalui prestasi olahraga. Gaya melatihnya yang tetap mempertahankan filosofi menyerang dan memberikan kebebasan berkreasi kepada para pemain kreatif seperti Edin Dzeko dan Miralem Pjanic merupakan cerminan dari bagaimana ia sendiri bermain dahulu.

Safet Sušić adalah contoh nyata dari seorang seniman sepak bola sejati. Keberadaannya di lapangan hijau selalu memberikan warna dan kegembiraan bagi siapa saja yang menontonnya. Baik sebagai pemain yang meliuk-liuk di lapangan Parc des Princes maupun sebagai pelatih yang berdiri di pinggir lapangan membawa negaranya ke panggung dunia, Sušić telah menuliskan namanya dengan tinta emas dalam sejarah sepak bola dunia. Warisannya tentang keindahan taktik, teknik yang sempurna, dan dedikasi tinggi akan terus dikenang oleh generasi sepak bola masa kini dan masa yang akan datang.

(EA/timKB)

Sumber foto: youtube

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...