Jakarta – Sepak bola Argentina selalu melahirkan seniman lapangan hijau yang jenius. Sebelum dunia mengenal kemegahan Diego Maradona atau keajaiban Lionel Messi, publik Buenos Aires sudah terlebih dahulu berlutut di hadapan keanggunan seorang trequartista murni bernama Norberto Osvaldo Alonso. Di kalangan pendukung fanatik River Plate, ia bukan sekadar mantan pemain, melainkan sosok sakral yang mendapat julukan El Beto. Kehadirannya di atas lapangan adalah jaminan keindahan, kepemimpinan yang meledak-ledak, dan yang paling penting, sebuah penawar bagi kutukan sejarah yang sempat menggelayuti klub raksasa tersebut.
Lahir pada musim dingin tahun 1953 di Florida, Provinsi Buenos Aires, Alonso tumbuh besar di lingkungan miskin Los Polvorines. Sepak bola jalanan membentuk karakter bermainnya yang liar namun penuh perhitungan. Bakatnya yang luar biasa tercium oleh pencari bakat River Plate saat ia masih sangat muda. Masuk ke akademi klub berjuluk Los Millonarios tersebut, Alonso dengan cepat menembus tim utama pada tahun 1971 dalam usia delapan belas tahun. Penampilannya langsung memikat publik Estadio Monumental. Ia memiliki kaki kiri yang luar biasa magis, visi bermain melampaui usianya, serta kemampuan mengeksekusi bola mati dengan akurasi yang mematikan.
Ketika Alonso mengukuhkan posisinya di tim utama, River Plate sebenarnya sedang berada dalam salah satu periode paling kelam sepanjang sejarah mereka. Klub kaya raya ini terjebak dalam paceklik gelar domestik yang menyesakkan selama delapan belas tahun, sebuah era yang sering disebut oleh para pendukungnya sebagai masa kegelapan. Tekanan di pundak para pemain muda sangat masif, namun Alonso justru berkembang di bawah tekanan tersebut. Ia mengenakan nomor punggung sepuluh dengan kepercayaan diri seorang raja. Melalui pergerakan yang dinamis dan umpan-umpan terobosan yang membelah pertahanan lawan, ia menjadi motor serangan utama yang menghidupkan asa klub.
Momen kebangkitan yang paling dinanti akhirnya tiba pada tahun 1975. Di bawah asuhan pelatih legendaris Angel Labruna, Norberto Alonso memimpin rekan-rekannya memutus kutukan delapan belas tahun tanpa gelar dengan menjuarai Kejuaraan Metropolitano. Keberhasilan ini meruntuhkan beban psikologis yang sangat berat bagi seluruh elemen klub. Alonso bukan lagi sekadar talenta muda berbakat, ia resmi menjelma menjadi pahlawan yang mengembalikan martabat River Plate sebagai kekuatan utama sepak bola Argentina. Kejayaan tahun 1975 itu memicu rentetan gelar berikutnya, menegaskan dominasi Los Millonarios di kancah domestik.
Gaya bermain Alonso adalah perwujudan dari identitas sepak bola indah Argentina yang dikenal sebagai la nuestra. Ia tidak mengandalkan kecepatan fisik semata, melainkan kecerdasan ruang dan kontrol bola yang rapat. Setiap kali memegang bola, stadion seolah menahan napas menanti kejutan yang akan ia ciptakan. Ia bisa melepaskan umpan sejauh tiga puluh meter dengan akurasi sentimeter, atau melakukan dribel melewati dua hingga tiga pemain di ruang sempit sebelum melepaskan tembakan melengkung ke sudut gawang. Pengaruhnya di lapangan begitu dominan sehingga permainan River Plate sepenuhnya didikte oleh ritme yang ia ciptakan.
Puncak dari romansa legendaris Alonso bersama River Plate terjadi dalam laga El Superclasico yang paling ikonik sepanjang sejarah pada bulan April 1986. Bermain di kandang musuh bebuyutan mereka, Boca Juniors, di Stadion La Bombonera, pertandingan ini memiliki atmosfer yang sangat panas. River Plate datang sebagai penantang gelar yang sudah di ambang juara. Pertandingan tersebut dimainkan menggunakan bola khusus berwarna oranye demi memastikan visibilitas di tengah hujan kertas dari tribun penonton yang memutih. Di laga yang penuh tekanan psikologis ini, Alonso menunjukkan kelasnya sebagai pemain besar untuk pertandingan besar.
Alonso mencetak dua gol kemenangan yang membungkam seisi La Bombonera. Gol pertama dicetaknya melalui sundulan kepala yang memanfaatkan umpan silang akurat, sebuah gol yang dicetak menggunakan bola oranye legendaris tersebut. Di babak kedua, ia menambah keunggulan lewat eksekusi tendangan bebas yang berbelok arah setelah mengenai pagar hidup lawan. Kemenangan dua gol tanpa balas ini memastikan River Plate mengunci gelar juara di markas rival abadi mereka, sebuah pencapaian yang hingga hari ini masih dirayakan oleh para pendukung River Plate sebagai salah satu hari paling jaya dalam sejarah klub. Foto Alonso yang merayakan gol dengan latar belakang tribun La Bombonera yang terdiam menjadi salah satu gambar paling ikonik dalam sejarah sepak bola nasional.
Tahun 1986 tidak diragukan lagi menjadi tahun pembuktian paripurna bagi seorang Norberto Alonso. Setelah mendominasi kompetisi domestik, ia memimpin River Plate melangkah jauh di kompetisi antarklub paling bergengsi di Amerika Selatan, Copa Libertadores. Di partai final, mereka berhasil menumbangkan wakil Kolombia, America de Cali. Gelar ini merupakan trofi Copa Libertadores pertama sepanjang sejarah pendirian River Plate, menghapus dahaga internasional yang sudah lama mereka rasakan. Tidak berhenti di sana, beberapa bulan kemudian Alonso kembali mengapteni timnya di Tokyo untuk memenangkan Piala Interkontinental setelah mengalahkan juara Eropa, Steaua Bucharest, menjadikannya trofi yang menyempurnakan status mereka sebagai klub terbaik di dunia saat itu.
Karier internasional Alonso bersama tim nasional Argentina sebenarnya memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada apa yang tercatat di buku sejarah. Ia merupakan bagian dari skuad bertabur bintang yang memenangkan Piala Dunia 1978 di rumah sendiri di bawah arahan pelatih Cesar Luis Menotti. Namun, perjalanannya di turnamen tersebut terganggu oleh cedera lutut yang dideritanya di fase grup, yang membatasi menit bermainnya. Ditambah lagi dengan persaingan ketat di lini tengah dan dinamika taktis Menotti yang terkadang lebih memilih pendekatan kolektif, Alonso tidak mendapatkan panggung utama yang sepenuhnya layak untuk bakat sebesar dirinya. Meskipun demikian, medali juara Piala Dunia tetap menjadi bukti sahih kontribusinya bagi kejayaan sepak bola negaranya.
Setelah memenangkan semua gelar yang mungkin diraih bersama klub yang dicintainya, Alonso memutuskan untuk gantung sepatu pada akhir musim 1986 dalam sebuah laga perpisahan yang emosional di Estadio Monumental yang dipadati oleh lebih dari delapan puluh ribu penonton. Air mata mengalir dari para pendukung yang sadar bahwa mereka baru saja melepas salah satu seniman lapangan hijau terbaik yang pernah dilahirkan oleh institusi tersebut. Warisan yang ditinggalkannya bukan hanya deretan trofi mentereng, melainkan standar tinggi tentang bagaimana seorang nomor sepuluh sejati harus bermain untuk River Plate.
Hingga saat ini, nama Norberto Alonso selalu masuk dalam perdebatan mengenai siapa pemain terbesar dalam sejarah panjang River Plate. Di era modern, patung dirinya didirikan di museum klub sebagai bentuk penghormatan abadi atas dedikasi dan magis yang ia berikan. El Beto adalah simbol perlawanan terhadap keterpurukan, figur yang mengubah keputusasaan menjadi kejayaan, dan seniman yang memainkan sepak bola dengan keanggunan seorang konduktor orkestra. Bagi publik Monumental, ingatan tentang kaki kiri Alonso yang berdansa di lapangan hijau akan selalu hidup dari generasi ke generasi, sebuah legenda abadi yang takkan pernah lekang oleh waktu.
(EA/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda