Maurice Abevi: Petarung Dari Zürich Di ONE Championship

Piter Rudai 06/04/2026 5 min read
Maurice Abevi: Petarung Dari Zürich Di ONE Championship

Jakarta – Di panggung MMA internasional, ada petarung yang datang dari negara-negara dengan tradisi panjang di olahraga tempur. Ada pula yang muncul dari tempat yang tidak selalu dianggap sebagai pusat utama MMA dunia, lalu perlahan memaksa publik untuk memperhatikan mereka. Maurice Abevi termasuk dalam kelompok kedua. Ia berasal dari Zürich, Swiss, dan membangun namanya bukan dengan sensasi singkat, melainkan lewat perkembangan yang terasa bertahap, keras, dan meyakinkan. Semakin ia bertarung di ONE Championship, semakin jelas bahwa ia bukan sekadar atlet Eropa yang mencoba peruntungan di Asia, tetapi sosok yang benar-benar ingin menjadi bagian penting dari peta MMA global.

Maurice Abevi lahir pada 22 September 1999. Profil resmi ONE menyebutnya berasal dari Zürich, Swiss, bertinggi 184 sentimeter, dan berlatih di 360 Martial Arts, Phuket Grappling Academy, serta Tiger Muay Thai. ONE juga mencatat bahwa sebelum bergabung dengan promosi tersebut, Abevi membawa rekor profesional 6-0, sebuah tanda bahwa ia datang ke organisasi itu dengan fondasi yang sudah cukup kuat.

Dari Zürich ke Thailand

Banyak petarung berbicara tentang pengorbanan, tetapi tidak semuanya benar-benar mengubah hidupnya demi olahraga. Maurice Abevi tampaknya melakukan itu secara nyata. Profil resmi ONE menulis bahwa ia meninggalkan Swiss dan pergi ke Asia Tenggara untuk memperdalam kemampuannya di Tiger Muay Thai. Dalam artikel fitur ONE, Abevi sendiri menjelaskan bahwa setelah mulai bisa hidup dari MMA, ia memutuskan pindah ke Thailand dan tetap tinggal di sana demi mengejar kariernya sepenuhnya.

Keputusan seperti itu tidak kecil. Pindah dari Zürich ke Thailand berarti meninggalkan rasa aman demi ritme hidup yang seluruhnya berpusat pada latihan, makan, tidur, dan bertarung. Dalam artikel yang sama, ONE mengutip Abevi yang mengatakan bahwa hidupnya memang tidak mewah, tetapi ia bisa hidup untuk berlatih, makan, dan tidur, dan itu sudah cukup baginya. Kutipan itu memberi gambaran sangat jelas tentang jenis petarung seperti apa dirinya: seseorang yang melihat MMA bukan sebagai hobi atau sampingan, melainkan sebagai jalan hidup.

Profil teknik Maurice Abevi

Dari sisi fisik, Abevi punya ukuran yang sangat menarik untuk kelasnya. ONE mencatat tinggi 184 sentimeter, sementara Tapology menampilkan reach sekitar 76 inci atau 193 sentimeter. Tubuh seperti ini memberinya keunggulan jangkauan yang bagus, khususnya saat ia mampu memadukan striking lurus dengan transisi ke grappling. Tapology juga menempatkannya sebagai petarung welterweight dalam basis data regional berdasarkan riwayat beberapa laganya, tetapi di ONE sendiri ia jelas berkompetisi di lightweight dan catchweight. Ini membantu menjelaskan kenapa ada perbedaan penyebutan kelas di berbagai sumber.

Statistik rekornya juga memperlihatkan petarung yang memang dibangun untuk menyelesaikan laga. Tapology mencatat rekor profesional totalnya 9-1, dengan lima kemenangan KO/TKO dan tanpa kekalahan KO/TKO. Di ONE, dua dari tiga kemenangannya datang lewat TKO. Itu berarti finishing ability bukan kebetulan sesaat, tetapi sudah menjadi bagian dari identitasnya sejak sebelum masuk promosi global.

Debut ONE

Debut Maurice Abevi di ONE terjadi pada April 2023 melawan Halil Amir di ONE Fight Night 9. Ia kalah melalui unanimous decision, dan hasil resmi di profil ONE masih mencatat laga itu sebagai satu-satunya kekalahannya di promosi hingga saat ini. Namun kekalahan itu tidak dibaca sebagai penampilan yang mengecewakan. Artikel ONE tentang perjalanan kariernya menyebut bahwa ia dan Halil Amir justru menghasilkan salah satu pertarungan paling berkesan pada tahun itu.

Ini penting karena ada petarung yang kalah debut lalu langsung tenggelam. Abevi tidak. Justru dari debut itu, orang mulai melihat dua hal: ia cukup berani untuk bertarung terbuka melawan lawan tangguh, dan ia punya kualitas yang cukup jelas untuk tetap dipertahankan dalam percakapan promosi. Kekalahan itu bukan akhir, melainkan bagian pertama dari penyesuaian.

Menang atas Blake Cooper

Setelah debut yang pahit, Abevi merespons dengan cara yang sangat tepat. Pada ONE Fight Night 14, ia menghentikan Blake Cooper lewat TKO di ronde pertama, tepatnya pada 4:36. Hasil ini tercatat di profil resmi ONE dan menjadi kemenangan pertama yang sangat penting dalam kariernya di organisasi tersebut.

Kemenangan atas Cooper terasa penting karena mengubah narasi. Abevi bukan lagi hanya petarung muda Swiss yang memberi perlawanan bagus saat kalah debut. Ia sekarang adalah atlet yang bisa membalikkan keadaan dengan penyelesaian keras. Dalam dunia MMA, khususnya di promosi sebesar ONE, cara seorang petarung bangkit dari kekalahan pertama sering sangat menentukan arah persepsi publik. Dan Abevi menjawab tantangan itu dengan TKO ronde pertama.

Zhang Lipeng

Langkah berikutnya membawa Maurice Abevi ke salah satu ujian paling penting dalam kariernya sejauh ini: menghadapi veteran berpengalaman Zhang Lipeng di ONE Fight Night 22. Artikel resmi ONE menulis bahwa Abevi meraih kemenangan terbesar dalam kariernya lewat penampilan tiga ronde yang sangat solid. Ia disebut menekan sejak awal, menyeret Zhang ke kanvas, melepaskan ground strikes besar, dan terus memburu submission, sebelum akhirnya menang unanimous decision. ONE bahkan menulis bahwa kemenangan itu membuat Abevi terlihat sebagai pemain nyata di divisi lightweight yang kaya talenta.

Kemenangan ini sangat penting karena membuktikan sesuatu yang lebih dari sekadar finishing ability. Ia menunjukkan bahwa Abevi juga bisa menjaga ritme selama tiga ronde penuh melawan lawan berpengalaman. Itu memberi lapisan baru pada profilnya. Ia bukan hanya finisher yang mengandalkan ledakan awal, tetapi juga petarung yang bisa mengontrol laga panjang dan tetap agresif tanpa kehilangan arah.

Samat Mamedov dan kemenangan yang mempertegas momentumnya

Pada Januari 2025 di ONE 170, Maurice Abevi menambah kemenangan ketiganya di ONE dengan menghentikan Samat Mamedov lewat TKO ronde pertama pada 2:46. Hasil ini tercatat jelas di profil resminya. Sebelum laga itu, artikel resmi ONE yang mengumumkan pertarungannya melawan Mamedov menyebut bahwa Abevi sudah menjadi favorit penggemar berkat pendekatan ultra-agresif, naluri penyelesaian, dan kemenangan beruntun atas Blake Cooper dan Zhang Lipeng.

Menang atas Samat Mamedov punya arti besar karena lawannya datang sebagai debutan tak terkalahkan dengan reputasi sangat berbahaya. Ketika Abevi mampu menghentikannya di ronde pertama, ia memperkuat kesan bahwa dirinya bukan sekadar petarung yang sedang naik, tetapi benar-benar ancaman bagi siapa pun yang mencoba masuk ke jajaran atas divisi. Tiga kemenangan dari empat laga di ONE, dengan dua di antaranya TKO, bukan angka yang bisa diabaikan.

Rekor 3-1 di ONE dan makna yang lebih besar

Secara resmi, rekor Maurice Abevi di ONE sekarang adalah 3 kemenangan dan 1 kekalahan, dengan finish rate 67 persen menurut profil resminya. Dalam breakdown di halaman tersebut, dua kemenangan datang lewat TKO dan satu lewat unanimous decision. Satu-satunya kekalahannya adalah keputusan mutlak dari Halil Amir. Angka ini penting, tetapi konteksnya jauh lebih menarik. Ia memulai dengan kalah, lalu bangkit tiga kali beruntun. Itu sering kali lebih berharga daripada awal sempurna tanpa ujian, karena menunjukkan kemampuan beradaptasi.

Rekor total profesionalnya juga telah berkembang. Tapology menempatkannya di angka 9-1, sementara artikel ONE setelah menang atas Zhang Lipeng menyebut rekor kariernya meningkat menjadi 8-1 saat itu. Dengan kemenangan atas Samat Mamedov sesudahnya, pembacaan paling masuk akal untuk rekornya sekarang memang 9-1 secara keseluruhan, sementara catatan khusus ONE adalah 3-1.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...