Jakarta – Di dunia MMA, tidak semua petarung tiba di UFC dengan jalan yang mulus. Ada yang datang lewat satu kemenangan viral, ada yang didorong promosi besar, dan ada pula yang menapaki jalur lebih panjang, lebih sepi, tetapi justru lebih membentuk karakter. Dennis Aleksander Buzukja termasuk petarung dalam kategori terakhir. Ia lahir pada 1 Oktober 1997 di Staten Island, New York, tumbuh dalam kultur tarung New York, lalu perlahan membangun namanya sampai akhirnya mendapat tempat di panggung terbesar dunia. Profil ESPN mencatat Buzukja sebagai petarung Amerika Serikat di divisi featherweight, dengan tinggi 175 cm, reach 179 cm, berat yang tercantum 155 lbs, berafiliasi dengan Serra-Longo Fight Team, memakai stance switch, dan memiliki rekor profesional 12 kemenangan dan 5 kekalahan. Julukannya, “The Great,” terdengar besar, tetapi perjalanannya menuju julukan itu justru dibentuk oleh kerja yang sangat keras.
Perjalanan Buzukja menuju UFC sangat erat dengan nama besar Serra-Longo Fight Team, salah satu gym paling dikenal di Long Island dan New York. Di tempat inilah ia berkembang dalam lingkungan yang sudah lama melahirkan petarung UFC. Artikel resmi UFC tentang dirinya menekankan bahwa ia membawa banner salah satu gym paling sukses di MMA dan tumbuh di ekosistem yang sangat kompetitif. Bagi Buzukja, afiliasi ini bukan sekadar label tim. Itu adalah identitas. Berlatih di tempat seperti Serra-Longo berarti setiap hari ia harus menyesuaikan diri dengan standar tinggi, sparring keras, dan ekspektasi besar dari lingkungan yang sudah terbiasa menghasilkan petarung elite.
Sebelum masuk UFC, Buzukja lebih dulu membangun reputasinya di sirkuit regional Amerika Serikat. Salah satu panggung terpenting dalam fase itu adalah Ring of Combat, promosi yang dikenal sebagai salah satu jalur klasik menuju UFC. Di sana, Buzukja tidak hanya bertanding, tetapi juga menjadi juara featherweight Ring of Combat. Newsday melaporkan bahwa ia merebut sabuk itu setelah mengalahkan Tim Dooling lewat keputusan mutlak di ROC 71, sementara Combat Press mencatat bahwa ia kemudian mempertahankan gelar tersebut dengan menghentikan Michael Lawrence lewat TKO ronde pertama di ROC 74. Dua hasil ini penting karena memperlihatkan dua sisi kualitasnya: ia bisa menang lewat pertarungan penuh dan juga bisa mengakhiri laga dengan cepat saat melihat peluang.
Jalur berikutnya adalah Dana White’s Contender Series, dan di sinilah cerita Buzukja menjadi lebih menarik. Ia tampil pertama kali di DWCS pada 2020 melawan Melsik Baghdasaryan, namun kalah lewat keputusan mutlak. Kekalahan itu jelas menyakitkan, terutama karena kesempatan masuk UFC tidak datang setiap saat. Namun Buzukja tidak berhenti. Ia kembali bekerja, kembali bertarung di regional, lalu mendapat kesempatan kedua di DWCS pada 26 Juli 2022 menghadapi Kaleio Romero. Kali ini ia menang lewat keputusan mutlak. Newsday melaporkan kemenangan itu sebagai momen penting dalam jalur kariernya, sementara riwayat pertandingannya di ESPN mencatat hasil tersebut dengan jelas. Meski demikian, kemenangan itu belum langsung memberinya kontrak UFC pada malam itu. Perjalanan Buzukja justru makin menegaskan bahwa dirinya bukan petarung yang diberi jalan pintas.
Setelah kemenangan kedua di DWCS, Buzukja tetap harus menunggu dan terus membuktikan dirinya. Ia kembali ke sirkuit non-UFC dan meraih beberapa hasil penting. Pada Februari 2023, ia menang TKO ronde pertama atas Mark Gregory Valerio di UAE Warriors 36. Lalu pada Juni 2023, ia mengalahkan Soslan Abanokov lewat submission ronde kedua di CFFC 120. Riwayat laga ESPN menunjukkan dua kemenangan ini sebagai batu loncatan terakhir yang menguatkan argumen bahwa ia memang pantas dipanggil UFC. Rangkaian itu juga memperlihatkan variasi permainannya: satu kemenangan lewat striking, satu lagi lewat submission.
Akhirnya, UFC merekrut Dennis Buzukja pada 2023. Debutnya terjadi pada 5 Agustus 2023 melawan Sean Woodson di UFC Fight Night. Hasilnya belum memihaknya; ia kalah lewat keputusan mutlak setelah tiga ronde. Kekalahan debut seperti ini selalu berat, tetapi juga sering menjadi cermin paling jujur tentang betapa lebarnya jarak antara level regional dan UFC. Buzukja tidak tenggelam dalam laga itu, tetapi ia juga belum mampu mencuri kemenangan. Ia langsung belajar bahwa di UFC, setiap detail kecil bisa menentukan.
Ujian berikutnya datang lebih keras. Pada 11 November 2023 di UFC 295, Buzukja menghadapi Jamall Emmers dan kalah lewat KO/TKO hanya dalam 49 detik ronde pertama. Itu adalah momen yang sangat pahit, apalagi karena UFC 295 berlangsung di New York, panggung yang secara emosional sangat dekat dengan identitasnya sebagai petarung kawasan tersebut. Namun justru dari titik seperti inilah karakter seorang atlet sering diuji. Dua kekalahan awal di UFC bisa menghancurkan kepercayaan diri banyak petarung. Buzukja memilih tetap bertahan.
Respons terbaiknya datang pada 30 Maret 2024, ketika ia menghadapi Connor Matthews di UFC Fight Night. Kali ini, Buzukja mencatat kemenangan pertamanya di UFC lewat KO/TKO pada ronde ketiga, tepatnya saat laga tinggal 22 detik lagi menuju akhir. Kemenangan ini sangat penting. Bukan hanya karena menghapus nol di kolom kemenangan UFC, tetapi juga karena menunjukkan daya tahan mentalnya. Setelah dua kekalahan pembuka, ia tidak hanya menang, melainkan menang dengan penyelesaian. Untuk seorang petarung yang datang dari jalur panjang seperti dirinya, hasil itu terasa seperti pembenaran atas semua waktu yang dihabiskan untuk terus bertahan.
Salah satu aspek paling menarik dari Dennis Buzukja adalah bahwa ia terasa seperti potret petarung New York yang sesungguhnya. Ia lahir di Staten Island, tumbuh dalam kultur bela diri kawasan itu, menjadi juara Ring of Combat, dua kali mencoba jalur Contender Series, lalu akhirnya masuk UFC bukan karena sensasi singkat, tetapi karena terus memaksa pintu terbuka. Jalur semacam ini selalu punya nilai naratif yang kuat. Ia membuktikan bahwa ketekunan masih relevan dalam MMA modern, bahkan ketika industri ini sering lebih menyukai cerita yang cepat dan dramatis.
Dari sisi prestasi, Buzukja memang belum menjadi nama besar di UFC. Tetapi ada beberapa hal yang tetap layak dicatat. Ia adalah mantan juara featherweight Ring of Combat, dua kali tampil di Dana White’s Contender Series, dan berhasil mengubah jalur yang berliku itu menjadi kontrak UFC pada 2023. Ia juga sudah mencatat kemenangan KO di Octagon, sesuatu yang penting untuk reputasi petarung featherweight yang ingin bertahan di organisasi sebesar UFC. Dan di usia yang masih relatif produktif, ia masih memiliki waktu untuk memperbaiki posisinya.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda