Josiane Nunes: Petarung Muay Thai Brasil Di UFC

Piter Rudai 12/05/2026 5 min read
Josiane Nunes: Petarung Muay Thai Brasil Di UFC

Jakarta – Di dunia MMA wanita, ada petarung yang membangun nama lewat teknik yang halus dan permainan yang sangat aman. Namun ada juga petarung yang justru dikenang karena keberanian mereka untuk terus maju, terus melepaskan pukulan, dan menjadikan setiap pertarungan terasa hidup. Josiane Nunes termasuk dalam kelompok kedua itu. Ia lahir pada 23 Desember 1993 di Curitiba, Paraná, Brasil, dan selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu sosok yang memberi warna keras di divisi Women’s Bantamweight UFC. Data terbaru menempatkannya dengan rekor profesional 10 kemenangan dan 4 kekalahan, serta julukan sederhana tetapi lekat, “Josi.”

Yang menarik dari Josiane sejak awal adalah identitas bertarungnya yang sangat jelas. Ia dikenal membawa dasar Muay Thai, dan itu terasa dalam cara bertarungnya yang agresif, langsung, dan berorientasi pada striking. Rekor profesionalnya memperkuat gambaran itu: dari 10 kemenangan, 7 diraih lewat KO/TKO dan 3 lewat keputusan juri, tanpa kemenangan submission. Di sisi lain, empat kekalahannya terdiri dari 1 KO/TKO dan 3 keputusan, yang menunjukkan bahwa ia lebih sering bertarung dalam wilayah striking dan volume, bukan permainan bawah.

Ada satu detail kecil yang perlu dicatat. Dalam versi data yang lebih baru, profil publik menempatkan Josiane di kelas bantamweight dengan afiliasi Striker’s House / Astra Fight Team, serta tinggi sekitar 5’3” dan berat tanding 135 lbs. Ini membuat profilnya terasa sangat konsisten dengan gaya bertarungnya: petarung yang tidak terlalu tinggi untuk divisinya, tetapi mengompensasi itu dengan agresi, keberanian masuk ke jarak dekat, dan kemauan bertukar pukulan.

Perjalanan Josiane menuju UFC tidak datang dari sorotan besar sejak awal. Ia lebih dulu meniti jalan melalui panggung regional Brasil, tempat banyak petarung harus benar-benar membuktikan kualitas mereka sebelum mendapat perhatian yang lebih luas. Rekam jejak kariernya menunjukkan kemenangan-kemenangan atas lawan seperti Elaine Albuquerque, Laisa Coimbra, Ariele Ribeiro, dan Juliana Araujo, yang sebagian besar berakhir lewat knockout atau TKO. Pola itu sangat penting karena memperlihatkan bahwa sebelum masuk ke UFC, identitas Josiane sebagai striker berbahaya sudah terbentuk dengan kuat.

Salah satu fase penting dalam pembangunan namanya terjadi pada 2019 dan 2020, ketika ia meraih kemenangan beruntun lewat pukulan di berbagai ajang lokal Brasil. Ia mengalahkan Ariele Ribeiro lewat KO pada ronde pertama, mengalahkan Juliana Araujo lewat KO, lalu menumbangkan Dione Barbosa melalui TKO ronde kedua dan Quesia Zbonik lewat TKO ronde kedua juga. Rangkaian hasil seperti ini membuat profilnya sebagai petarung pemukul semakin jelas. Ia bukan petarung yang menunggu terlalu lama untuk membiarkan laga berkembang. Ia lebih suka mengubah pertarungan menjadi kekacauan yang bisa ia kuasai dengan agresi dan pukulan keras.

Debut resmi Josiane di UFC terjadi pada 17 April 2021 di ajang UFC Fight Night. Masuk ke UFC bagi petarung seperti dirinya adalah langkah besar, karena itu berarti gaya Muay Thai dan tekanan berdiri yang ia bawa kini harus diuji di level tertinggi. Banyak petarung regional bisa terlihat sangat dominan sebelum UFC, tetapi tidak semua mampu mempertahankan identitasnya begitu menghadapi lawan yang lebih lengkap dan lebih berpengalaman. Pada Josiane, tantangan itu menjadi bagian sangat penting dari kisah kariernya.

Salah satu kemenangan awal yang langsung membuat namanya lebih diperhatikan datang pada 21 Agustus 2021, saat ia menghadapi Bea Malecki. Malam itu, Josiane menang lewat KO ronde pertama pada 4:54. Kemenangan seperti ini punya nilai besar untuk petarung baru di UFC. Ia bukan hanya menambah angka menang, tetapi juga memperkenalkan dirinya dengan cara yang mudah diingat. Ketika seorang petarung debut awalnya di UFC atau fase-fase awal kariernya di organisasi bisa menghasilkan finis seperti itu, publik langsung tahu bahwa ia membawa ancaman nyata.

Menariknya, setelah kemenangan KO yang keras itu, Josiane juga menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya bergantung pada penyelesaian cepat. Ia mampu menang lewat keputusan bulat atas Ramona Pascual pada 26 Februari 2022, lalu mengalahkan Zarah Fairn lewat keputusan bulat pada 21 Januari 2023. Dua hasil ini penting karena memperlihatkan sisi lain dari “Josi.” Ia memang identik dengan striking agresif, tetapi ia juga cukup disiplin untuk menjaga ritme sepanjang tiga ronde ketika laga tidak selesai lebih cepat. Dalam konteks bantamweight wanita UFC, kemampuan seperti ini sangat penting untuk bertahan lebih lama.

Namun, seperti banyak petarung lain, karier Josiane Nunes tidak pernah berjalan lurus. Sepanjang 2024 hingga 2025, ia mengalami fase yang lebih berat. Ia kalah unanimous decision dari Chelsea Chandler pada 16 Maret 2024, kalah split decision dari Jaqueline Cavalcanti pada 24 Agustus 2024, lalu kalah KO dari Priscila Cachoeira pada 15 Maret 2025. Tiga hasil ini menjelaskan betapa kerasnya hidup di divisi bantamweight UFC. Bahkan petarung dengan identitas striking kuat seperti Josiane tetap bisa dipaksa keluar dari ritmenya ketika berhadapan dengan lawan yang mampu menahan tekanan atau lebih dulu menemukan momen.

Justru di situlah kisah Josiane terasa hidup. Ia bukan petarung yang dibangun oleh rekor mulus atau perjalanan sempurna. Ia adalah petarung yang harus menerima risiko dari gaya bertarungnya sendiri. Saat Anda bertarung dengan pendekatan Muay Thai yang agresif, terus menekan, dan mau bertukar pukulan, maka peluang untuk menang besar memang selalu ada. Tetapi risikonya juga besar. Kadang Anda menjadi pihak yang menjatuhkan, kadang Anda menjadi pihak yang dihantam lebih dulu. Pada Josiane, dua sisi itu sama-sama terlihat jelas.

Dari sisi gaya, itulah yang membuatnya menarik. Ia tidak pernah tampak seperti petarung yang datang untuk sekadar bermain aman dan menunggu keputusan juri. Bahkan ketika ia menang angka, caranya tetap terasa seperti petarung yang ingin memegang inisiatif. Dalam banyak pertarungan, Josiane masuk ke jarak dekat, memaksa tempo, dan berusaha menjadikan laga sebagai pertukaran yang keras. Gaya seperti ini memang tidak selalu efisien untuk mempertahankan rekor bersih, tetapi hampir selalu membuat seorang petarung mudah diingat.

Hal lain yang menarik adalah asal-usulnya dari Curitiba, salah satu kota yang punya sejarah panjang dalam budaya olahraga tarung Brasil. Meski banyak petarung Brasil lebih dulu diasosiasikan dengan Brazilian Jiu-Jitsu, Josiane justru membawa citra yang berbeda. Ia terasa seperti representasi sisi lain dari MMA Brasil: striker yang percaya pada tangannya, pada kekuatan serangannya, dan pada keberanian untuk berdiri di depan lawan tanpa terlalu banyak keraguan. Dalam lanskap bantamweight wanita, hal ini membuatnya menonjol.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Josiane Nunes belum menjadi juara UFC. Namun itu tidak berarti kariernya kecil. Ia berhasil menembus organisasi terbesar dunia, membangun rekor profesional 10-4, mengoleksi 7 kemenangan KO/TKO, dan mencatat kemenangan penting di UFC atas nama-nama seperti Bea Malecki, Ramona Pascual, dan Zarah Fairn. Ia juga bertahan cukup lama di roster untuk membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar petarung singgah, melainkan atlet yang benar-benar mampu bersaing di level itu.

Pada akhirnya, Josiane Nunes adalah kisah tentang petarung yang membangun kariernya dengan keberanian yang sangat jelas. Ia lahir di Curitiba, dibentuk oleh striking Muay Thai, masuk ke UFC pada April 2021, lalu membawa gaya bertarung yang keras dan tegas ke panggung terbesar dunia. Rekornya 10 kemenangan dan 4 kekalahan mungkin tidak terlihat sempurna, tetapi justru di situlah kekuatan ceritanya. Ia adalah petarung yang tidak pernah bersembunyi dari risiko. Dan dalam olahraga seperti MMA, sosok seperti itu selalu punya tempat tersendiri.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...