Jakarta – Dalam dunia MMA, ada petarung yang dikenal karena gelar, ada yang mencuri perhatian lewat knockout besar, dan ada pula yang dikenang karena keberaniannya menembus batas yang selama ini terasa sulit dijangkau. Anita Karim termasuk dalam kelompok terakhir itu. Ia bukan sekadar petarung asal Pakistan. Ia adalah salah satu nama paling penting dalam sejarah MMA Pakistan modern, karena berani membawa mimpinya dari Hunza Valley, Gilgit-Baltistan, ke panggung internasional seperti ONE Championship. Anita lahir pada 2 Oktober 1996, memiliki rekor profesional 6 kemenangan dan 2 kekalahan, bertarung di kelas strawweight, bertinggi 5 kaki atau sekitar 152 cm, dan berafiliasi dengan Team Fight Fortress. Ia adalah petarung dari Gilgit, Gilgit-Baltistan, Pakistan dengan julukan “The Arm Collector.”
Julukan “The Arm Collector” langsung memberi gambaran tentang gaya bertarung Anita Karim. Ia bukan petarung yang hanya ingin menang angka dan pulang dengan kartu juri berpihak padanya. Identitas utamanya dibangun dari submission, khususnya kuncian lengan dan kontrol grappling yang membuat lawan selalu berada dalam ancaman. Rekornya terdiri dari 4 kemenangan submission, 1 KO/TKO, dan 1 keputusan, dan pola umum itu sejalan dengan reputasinya sebagai spesialis penyelesaian bawah. Beberapa sumber memang menegaskan total catatannya 6-2, sementara histori publik sebuah sumber menunjukkan ia pernah menang lewat rear-naked choke, keputusan juri, dan hasil lainnya yang menegaskan fondasi grappling-nya.
Yang membuat kisah Anita begitu menarik adalah fakta bahwa ia datang dari Pakistan, negara yang belum lama benar-benar mulai terdengar dalam peta MMA internasional. Dalam konteks itu, kehadiran Anita punya bobot yang jauh lebih besar daripada sekadar angka menang-kalah. Ia menjadi representasi bahwa petarung dari kawasan seperti Gilgit-Baltistan pun bisa menembus jalur global jika punya keberanian, disiplin, dan kemampuan yang cukup. Sebuah data bahkan menempatkannya dalam daftar petarung Pakistan paling dikenal, sesuatu yang menunjukkan bahwa namanya memang punya nilai simbolik penting untuk MMA negaranya.
Perjalanan profesional Anita Karim mulai terbentuk di level regional, saat ia membangun pengalaman dan mengasah identitas sebagai grappler yang berbahaya. Jejak awal di menunjukkan salah satu hasil pentingnya datang pada 19 Juli 2018 saat ia menghadapi Nyrene Crowley di ONE Warrior Series 2. Anita memang kalah lewat rear-naked choke, tetapi justru di situ kariernya mulai mendapat bentuk. Ia langsung masuk ke panggung yang menuntut banyak, dan harus belajar sejak awal bahwa level internasional tidak memberi ruang besar untuk kesalahan kecil. Kekalahan itu tidak mematahkan arahnya. Sebaliknya, itu menjadi fondasi dari kebangkitan yang datang sesudahnya.
Setelah benturan awal itu, Anita mulai menunjukkan kualitasnya. Pada 28 Februari 2019 di ONE Warrior Series 4, ia mengalahkan Gita Suharsono lewat unanimous decision. Ini adalah kemenangan penting, karena memperlihatkan bahwa dirinya tidak hanya hidup dari submission. Ia juga bisa menang dalam duel penuh tiga ronde, menjaga ritme, dan tampil cukup rapi untuk meyakinkan juri. Bagi petarung yang kelak dikenal sebagai spesialis submission, kemenangan angka seperti ini sangat berharga karena menegaskan bahwa ia punya fondasi permainan yang lebih utuh.
Perjalanan itu berlanjut pada 19 Februari 2020 di ONE Warrior Series 10, ketika Anita mengalahkan Marie Ruumet lagi-lagi lewat unanimous decision. Di titik ini, pola kariernya mulai terlihat jelas. Ia bukan petarung yang selalu harus memaksa penyelesaian cepat. Ia bisa tampil sabar, mengendalikan pertandingan, dan membawa laga sampai akhir bila memang itu jalan terbaik. Dua kemenangan keputusan bulat beruntun memberi kesan bahwa Anita memiliki disiplin teknik dan ketenangan bertarung yang tidak selalu terlihat mencolok, tetapi sangat penting untuk bertahan di MMA profesional.
Salah satu aspek yang membuat Anita Karim menarik adalah bagaimana ia terus bergerak setelah masa ONE Warrior Series. Data menunjukkan bahwa ia sempat kalah dari Noelle Grandjean pada 11 Juni 2022 lewat keputusan bulat, sebuah hasil yang menandakan bahwa perjalanan kariernya tidak sepenuhnya mulus. Tetapi justru dari sinilah narasi Anita terasa semakin nyata. Ia bukan petarung dengan rekor steril yang dibangun tanpa hambatan. Ia adalah atlet yang harus menerima bahwa di level tinggi, menang dan kalah sama-sama bagian dari pembentukan karakter. Kekalahan dari Grandjean tidak membuat namanya tenggelam. Ia tetap menjadi figur penting dari Pakistan yang terus mencoba naik lagi.
Lalu datang fase yang memperlihatkan betapa berbahayanya Anita di jalur submission. Data yang muncul dalam ranking petarung Pakistan menunjukkan rentetan hasil terbaru yang mencakup submission pada 2023, submission pada 2024, dan TKO pada 2026. Walau cuplikan pencarian tidak menampilkan lawan-lawan itu secara lengkap, pola ini penting karena menegaskan bahwa reputasi “The Arm Collector” bukan sekadar julukan lama. Ia tetap menjadi petarung yang mampu menyelesaikan lawan, dan bahkan menambah satu kemenangan lewat TKO, yang menunjukkan perkembangan sisi striking-nya.
Kalau berbicara soal prestasi, Anita Karim mungkin belum memegang sabuk juara dunia besar. Namun yang sudah ia capai tetap sangat berarti. Ia membangun rekor profesional 6-2, menjadi salah satu nama paling dikenal dari MMA Pakistan, menorehkan kemenangan di ONE Warrior Series, dan mempertahankan identitas sebagai petarung submission yang sangat berbahaya. Ditambah lagi, ia masih tercatat aktif dan punya current streak empat kemenangan sebuah tanda bahwa kariernya justru sedang bergerak ke arah yang semakin matang.
Pada akhirnya, Anita Karim adalah kisah tentang keberanian menembus batas. Ia lahir di Hunza Valley pada 2 Oktober 1996, tumbuh menjadi petarung strawweight Pakistan dengan dasar submission yang kuat, lalu membawa nama negaranya ke panggung internasional. Julukan “The Arm Collector” merangkum siapa dirinya di arena, tetapi warisannya jauh lebih besar daripada sekadar kuncian lengan. Ia adalah salah satu wajah paling penting dari perkembangan MMA Pakistan, dan selama ia terus bertarung, kisahnya akan tetap menjadi inspirasi bagi petarung-petarung yang datang dari tempat-tempat yang jarang dilihat dunia.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda