Jakarta – Roberto De Zerbi telah mengukuhkan dirinya sebagai salah satu pelatih paling inovatif dan progresif di panggung sepak bola modern. Dikenal dengan filosofi permainan yang berani, berbasis penguasaan bola, dan tekanan tinggi, ia menjadi sosok yang sangat diperhitungkan oleh klub-klub elit Eropa. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai latar belakang, kelahiran, serta transformasi luar biasa dalam perjalanan kariernya dari seorang pemain kreatif menjadi juru taktik kelas dunia.
Baca juga: Roberto De Zerbi Resmi Jadi Pelatih Tottenham Hotspur
Kelahiran dan Akar Sepak Bola
Roberto De Zerbi lahir pada tanggal 6 Juni 1979 di Brescia, sebuah kota industri yang terletak di wilayah Lombardy, Italia Utara. Tumbuh besar di kota yang memiliki tradisi sepak bola kuat, De Zerbi muda menunjukkan bakat yang menjanjikan sejak usia dini. Lingkungan Brescia yang kompetitif membentuk karakternya yang teguh dan kecintaannya pada permainan yang mengandalkan teknik tinggi.
Ia memulai pendidikan sepak bolanya di akademi AC Milan, salah satu klub paling bergengsi di dunia. Di Milan, ia ditempa sebagai gelandang serang atau fantasista—posisi yang menuntut kreativitas, visi bermain, dan kemampuan olah bola yang mumpuni. Meski ia tidak pernah benar-benar menjadi bintang utama di tim senior Rossoneri, fondasi yang ia dapatkan di San Siro menjadi modal penting bagi pemahamannya terhadap taktik sepak bola di kemudian hari.
Perjalanan Karier sebagai Pemain
Karier De Zerbi sebagai pemain profesional dihabiskan lebih banyak di klub-klub kasta bawah Italia (Serie B dan Serie C), meskipun ia sempat mencicipi kompetisi tertinggi. Ia adalah tipe pemain yang sangat teknis, seringkali menjadi pusat kreativitas tim yang ia bela. Selama periode akhir 1990-an hingga awal 2000-an, ia berpindah-pindah ke berbagai klub seperti Monza, Padova, hingga Avellino.
Puncak kariernya sebagai pemain terjadi ketika ia membela Foggia dan kemudian Napoli pada musim 2006-2008. Di Napoli, ia membantu klub tersebut kembali ke kasta tertinggi sepak bola Italia, Serie A. Gaya bermainnya yang elegan membuatnya dicintai oleh penggemar di setiap klub yang ia bela, meskipun ia sering dianggap sebagai pemain yang “terlalu artistik” untuk sepak bola Italia yang saat itu masih sangat kental dengan gaya defensif dan pragmatis. Pengalamannya merumput di berbagai kasta sepak bola ini memberinya perspektif luas mengenai berbagai gaya bermain dan kesulitan yang dihadapi para pemain di lapangan.
Transisi Menuju Dunia Kepelatihan
Setelah pensiun dari lapangan hijau pada tahun 2013, De Zerbi tidak membuang waktu untuk segera terjun ke dunia kepelatihan. Ia memulai debut manajerialnya di klub amatir Darfo Boario sebelum akhirnya kembali ke Foggia, klub yang pernah ia bela saat menjadi pemain. Di Foggia-lah tanda-tanda kejeniusan taktiknya mulai terlihat jelas.
Ia menerapkan gaya permainan yang sangat berbeda dari standar Serie C saat itu. Timnya bermain dengan operan pendek yang cepat, membangun serangan dari lini belakang (build-up dari kiper), dan menempatkan banyak pemain di area ofensif. Pendekatan ini sangat berisiko, namun memberikan hasil yang memukau secara estetika dan performa. Keberhasilannya membawa Foggia menjuarai Coppa Italia Serie C pada tahun 2016 mulai menarik perhatian para pencari bakat manajerial di kasta yang lebih tinggi.
Terobosan di Serie A: Sassuolo sebagai Panggung Utama
Setelah sempat melatih Palermo dan Benevento—di mana ia gagal menyelamatkan Benevento dari degradasi namun dipuji karena gaya bermain timnya yang pantang menyerah—De Zerbi mendapatkan peluang besar di Sassuolo pada tahun 2018. Di klub inilah namanya benar-benar meledak secara internasional.
Bersama Sassuolo, De Zerbi menciptakan sebuah mesin sepak bola yang mampu menantang tim-tim besar seperti Juventus, Inter Milan, dan AC Milan dengan modal yang jauh lebih kecil. Ia menekankan pentingnya penguasaan bola yang dominan dan keberanian dalam mengambil risiko di area pertahanan sendiri untuk memancing lawan keluar. Selama tiga musim di Sassuolo, ia membawa klub tersebut finis di posisi delapan besar secara berturut-turut, sebuah pencapaian luar biasa bagi klub berukuran sedang. Di bawah arahannya, pemain-pemain seperti Domenico Berardi, Manuel Locatelli, dan Giacomo Raspadori berkembang menjadi bintang nasional Italia.
Petualangan Internasional: Shakhtar Donetsk dan Brighton
Pada tahun 2021, De Zerbi memutuskan untuk mencari tantangan di luar negeri dengan bergabung ke raksasa Ukraina, Shakhtar Donetsk. Ia berhasil membawa tim memenangkan Piala Super Ukraina dan memimpin klasemen liga sebelum kompetisi terhenti akibat konflik invasi Rusia. Meskipun masa tugasnya di Ukraina singkat, ia membuktikan bahwa filosofinya bersifat universal dan dapat diterapkan di liga mana pun.
Langkah terbesar dalam kariernya datang pada September 2022 ketika ia ditunjuk untuk menggantikan Graham Potter di Brighton & Hove Albion di Liga Inggris. Banyak yang meragukan apakah gaya “De Zerbi-ball” yang sangat spesifik bisa bertahan di kompetisi secepat dan sefisik Premier League. Namun, De Zerbi menjawab keraguan tersebut dengan hasil yang fantastis.
Ia mengubah Brighton menjadi salah satu tim paling menarik untuk ditonton di dunia. Timnya bukan hanya sekadar menguasai bola, tetapi mereka melakukan manipulasi ruang dengan cara yang jarang terlihat sebelumnya. Di bawah kendalinya, Brighton berhasil mencapai kompetisi Eropa (Liga Europa) untuk pertama kalinya dalam sejarah klub pada musim 2022/2023. Para pelatih hebat seperti Pep Guardiola bahkan memberikan pujian setinggi langit, menyebut De Zerbi sebagai salah satu manajer paling berpengaruh dalam satu dekade terakhir karena kemampuannya mengubah cara pandang orang terhadap pembangunan serangan dari lini belakang.
Filosofi Taktik dan Warisan
Inti dari kesuksesan Roberto De Zerbi adalah keyakinan yang tak tergoyahkan pada prinsipnya. Ia percaya bahwa cara sebuah tim menang sama pentingnya dengan kemenangan itu sendiri. Ia ingin pemainnya menikmati penguasaan bola dan tidak takut saat ditekan oleh lawan. “Provokasi” adalah kata kunci dalam taktiknya; ia sengaja membiarkan pemain belakangnya menahan bola selama mungkin untuk menarik lawan melakukan pressing, sehingga tercipta ruang kosong di lini tengah atau depan yang bisa dieksploitasi dengan kecepatan kilat.
Saat ini, De Zerbi telah resmi melangkah ke tantangan baru bersama Olympique de Marseille di Ligue 1 Prancis mulai musim 2024/2025. Perpindahannya ke Prancis menandai babak baru dalam upayanya menyebarkan filosofi sepak bola ofensif ke seluruh penjuru Eropa.
Secara keseluruhan, perjalanan karier Roberto De Zerbi adalah bukti bahwa dedikasi terhadap idealisme dan estetika sepak bola dapat membuahkan kesuksesan yang konkret. Dari seorang anak kecil di Brescia hingga menjadi pelatih yang ditakuti di Premier League dan kini memulai petualangan di Prancis, ia tetap setia pada identitasnya. Roberto De Zerbi bukan sekadar pelatih sepak bola; ia adalah seorang arsitek lapangan hijau yang terus menantang status quo dan memberikan warna baru dalam sejarah panjang olahraga ini. Kariernya yang masih panjang diprediksi akan terus melahirkan inovasi-inovasi yang akan dipelajari oleh generasi pelatih mendatang.
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda