Jakarta – Di dunia Muay Thai, tidak semua petarung dibangun oleh kemenangan cepat dan sorotan besar. Ada juga petarung yang justru tumbuh lewat pertarungan-pertarungan rapat, lewat keputusan juri yang tipis, lewat kekalahan yang menyakitkan, dan lewat keberanian untuk kembali naik ring tanpa kehilangan keyakinan pada dirinya sendiri. Theptaksin Sor Sornsing termasuk dalam kelompok itu. Ia adalah petarung Muay Thai asal Thailand, lahir pada 14 Februari 1998, dengan tinggi sekitar 173 cm, dan saat ini dikenal sebagai salah satu nama yang cukup sering muncul di rangkaian ONE Friday Fights. Dia ditempatkan sebagai atlet dari Thailand dengan afiliasi Lionheart Muaythai.
Yang membuat Theptaksin menarik sejak awal adalah bentuk kariernya. Ia bukan petarung yang hidup dari penyelesaian besar semata. Justru sebaliknya, ia tampak seperti atlet yang sering terlibat dalam duel ketat dan kompetitif. Kemenangannya datang lewat unanimous decision dan split decision, sedangkan kekalahannya juga mencakup unanimous decision, knockout, dan keputusan lainnya. Ini memberi gambaran tentang petarung ortodoks yang benar-benar mengandalkan striking Muay Thai, volume serangan, dan kemampuan bertahan dalam pertarungan yang berjalan penuh tiga ronde.
Perjalanan Theptaksin di ONE mulai membentuk identitasnya pada ONE Friday Fights 10. Saat itu, ia menghadapi Yodkritsada Sor Sommai dalam laga 131.8 lbs Muay Thai dan menang lewat unanimous decision. Kemenangan ini penting karena menjadi salah satu fondasi awal kiprahnya di ONE. Menang angka secara meyakinkan di panggung seperti ONE Friday Fights menunjukkan bahwa ia datang bukan sekadar membawa keberanian, tetapi juga cukup matang secara teknis untuk mengontrol ritme dan meyakinkan juri.
Menariknya, pertemuan dengan Yodkritsada tidak berhenti di sana. Pada ONE Friday Fights 20, Theptaksin kembali berhadapan dengan lawan yang sama, kali ini dalam laga 132 lbs Muay Thai, dan lagi-lagi keluar sebagai pemenang. Bedanya, kemenangan kedua itu datang lewat split decision. Detail ini sangat menarik dari sudut pandang naratif. Ia menunjukkan bahwa Theptaksin bukan hanya bisa menang sekali, tetapi mampu menghadapi lawan yang sama dalam duel yang tetap sulit, lalu menemukan jalan untuk kembali unggul. Dalam olahraga tarung, kemenangan atas lawan yang sama dua kali sering memberi sinyal bahwa seorang petarung punya ketahanan taktis, bukan hanya momentum satu malam.
Dua kemenangan atas Yodkritsada itu memberi gambaran awal tentang siapa Theptaksin Sor Sornsing sebenarnya. Ia bukan petarung yang hidup dari ledakan liar, melainkan sosok yang cukup sabar untuk memenangkan laga lewat akumulasi kerja, lewat ketepatan, dan lewat kemampuan menjaga dirinya tetap efektif sampai akhir ronde ketiga. Dalam Muay Thai, petarung seperti ini sering kali tidak langsung paling mencolok di mata penonton kasual, tetapi justru punya fondasi yang sangat kuat untuk bertahan lama.
Namun, karier seorang petarung tidak pernah benar-benar lurus. Setelah dua kemenangan awal itu, Theptaksin menghadapi ujian besar pada ONE Friday Fights 27, ketika ia berjumpa Pompet PongSuphan PK dalam duel 132 lbs Muay Thai. Kali ini, ia harus menerima kekalahan lewat unanimous decision.
Tidak lama setelah itu, Theptaksin kembali mendapat ujian berat di ONE Friday Fights 37, saat berhadapan dengan Rittidet Sor Sommai. Malam itu, ia kalah lewat KO ronde kedua pada 1:59 dalam laga 132 lbs Muay Thai. Ini menjadi salah satu momen paling keras dalam perjalanannya di ONE, karena untuk pertama kalinya ia benar-benar dihentikan. Kekalahan knockout seperti ini selalu punya bobot yang lebih dalam. Bukan hanya karena hasilnya tercatat tegas, tetapi juga karena ia memaksa seorang petarung untuk menilai ulang timing, pertahanan, dan cara menghadapi tekanan ketika lawan mulai menemukan celah.
Yang membuat Theptaksin tetap menarik justru adalah responsnya. Banyak petarung goyah setelah mengalami knockout. Theptaksin tidak. Ia kembali, lalu pada ONE Friday Fights 52 berhasil mengalahkan Singdomthong Nokjeanladkrabang lewat split decision dalam duel 127 lbs Muay Thai. Kemenangan ini penting karena memperlihatkan bahwa ia tidak kehilangan kepercayaan dirinya setelah fase sulit. Ia tetap datang dengan gaya yang sama, tetap bertarung di wilayah yang rapat dan keras, dan tetap mampu memaksa juri berpihak padanya dalam pertarungan tipis.
Momentum itu berlanjut pada ONE Friday Fights 72, ketika Theptaksin menghadapi Jelte Blommaert dalam laga 126 lbs Muay Thai. Hasilnya adalah kemenangan unanimous decision untuk Theptaksin. Artikel pengumuman kartu pertandingan sebelum laga menyebut duel itu sebagai pertarungan yang menjanjikan kembang api sejak awal, dan hasil akhirnya menunjukkan bahwa Theptaksin mampu menjawab ekspektasi tersebut dengan kemenangan bersih. Ini menjadi salah satu penegasan bahwa setelah fase naik turun sebelumnya, ia masih punya tempat yang sangat layak di ekosistem ONE Friday Fights.
Sampai titik itu, kisah Theptaksin terasa seperti cerita tentang petarung yang menemukan keseimbangan di tengah ketidakstabilan. Ia sudah menang, kalah, menang lagi, lalu kembali membuktikan diri. Namun, jalannya di ONE tetap tidak pernah benar-benar tenang. Pada ONE Friday Fights 97, ia menghadapi Kompet Sitsarawatsuer dan harus menerima kekalahan lewat unanimous decision. Artikel hasil resmi ONE menulis bahwa agresi Theptaksin memang membuatnya mampu memegang banyak momen pertukaran, tetapi Kompet tampil lebih efektif sebagai petarung counter dan membuat Theptaksin lebih sering meleset daripada mengenai sasaran. Ini adalah detail yang sangat penting karena memperlihatkan satu sisi paling jelas dari gaya bertarung Theptaksin: ia agresif, aktif menekan, tetapi agresi itu kadang membuatnya membuka ruang untuk dibaca dan dihukum lawan yang lebih sabar.
Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Theptaksin belum memegang sabuk besar di ONE. Namun fondasinya tetap layak dihargai. Ia telah mencatat 4 kemenangan di ONE Friday Fights, mengalahkan nama-nama seperti Yodkritsada Sor Sommai dua kali, Singdomthong Nokjeanladkrabang, dan Jelte Blommaert. Selain itu, ia juga sudah melewati berbagai bentuk ujian: menang split decision, menang unanimous decision, kalah angka dari lawan yang lebih matang, dan merasakan pahitnya knockout. Untuk petarung yang masih aktif berkembang di jalur Muay Thai ringan, pengalaman seperti ini sangat berharga.
Pada akhirnya, Theptaksin Sor Sornsing adalah kisah tentang petarung Muay Thai Thailand yang dibentuk oleh kerasnya ring, bukan oleh narasi yang terlalu sempurna. Ia lahir pada 14 Februari 1998, bertarung dengan gaya ortodoks yang berfokus pada striking Muay Thai, berlatih di Lionheart Muaythai, dan membangun rekor 4 menang dan 3 kalah di ONE lewat laga-laga yang hampir semuanya terasa rapat dan berat. Ia mungkin belum menjadi nama terbesar, tetapi justru karena itu kisahnya terasa jujur. Ia adalah petarung yang terus belajar dari setiap benturan, dan dalam olahraga seperti Muay Thai, petarung seperti itu selalu pantas untuk terus diikuti.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda